4. YOU THINK YOU JUST NEED TO BE HAPPY

SEMUA orang membahas kebahagiaan akhir-akhir ini. Bahkan jurnal, penelitian, atau buku dengan kata kunci kebahagiaan bisa kita temukan di mana-mana.

Ada ketertarikan besar terhadap bahasan kebahagiaan. Banyak banget kegiatan atau coaching yang menawarkan kebahagiaan, ketenangan hidup, atau hasil positif lainnya. Semua orang terobsesi membuat orang lain jadi lebih bahagia. Sampai pada akhirnya, kata “bahagia” jadi overused. Jadi nggak relevan lagi, seperti kehilangan makna, karena terlalu sering digunakan di berbagai macam hal. Senang, tertawa, senyum, tenang, keberhasilan, hingga penerimaan diri, disamakan dengan definisi kebahagiaan. Padahal, ya nggak sepenuhnya sama.

Martin Seligman, Bapak Psikologi Positif, melakukan riset bertahun-tahun untuk mendefinisikan kebahagiaan dan apa aja pemicunya. Dia membagi kebahagiaan dalam tiga tingkatan: pertama, the Pleasant Life; kedua, the Good Life; ketiga, the Meaningful Life.

The Pleasant Life

Tingkatan terendah dari terciptanya suatu kebahagiaan. Kita merasakan kebahagiaan karena hal-hal yang memberikan kepuasan. Inti dari tingkatan ini adalah memuaskan diri sesering dan sebanyak mungkin dengan harapan terciptanya kebahagiaan.

Karena ini tingkatan terendah, maka ini adalah yang paling banyak dilakukan orang-orang, dan ini adalah cara menciptakan emosi positif paling mudah, yang biasanya didapat dari melakukan hal-hal yang bersifat jasmani.

Cuma, masalahnya, karena mudah didapat, maka mudah juga hilangnya, seperti makan enak yang berbatas sampai kita kenyang, main game seru maka ada momen bosen, sexual activity yang juga ada batasannya.

Dan, ini sifatnya juga mudah berubah, tergantung persepsi dan intensitas melakukannya. Misal, kalau setiap hari kita makan enak, maka lama-kelamaan makanan-makanan enak itu menjadi biasa. Kita pun butuh makanan yang lebih enak lagi untuk menimbulkan emosi positif itu, sehingga sifatnya nggak akan pernah cukup. 

Mencari kebahagiaan dengan cara ini adalah cara yang paling melelahkan. But still, karena mudah, jadi banyak orang yang mengandalkannya untuk bisa bahagia.

The Good Life (Engaged Life)

Tingkatan ini ketika kita bisa mendapat kebahagiaan dengan mengandalkan kebaikan dan kelebihan yang bisa kita berikan. Ini adalah tentang koneksi atau hubungan kita dengan suatu aktivitas atau seseorang yang begitu dalam, sampai kadang kita lupa waktu.

Ketika kita engage banget sama pekerjaan yang kita suka, atau berbincang dan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sukai, kita bisa melakukannya berjam-jam. Ini sifatnya lebih long-lasting daripada tingkatan yang pertama.

Tapi, kalau kegiatannya gagal, bisa memberikan efek kekecewaan dan kesedihan yang long-lasting juga. Misal, pekerjaan yang lagi kacau, atau teman yang sedang marah, dan semacamnya.

The Meaningful Life

Ini yang paling autentik. Cara mencapai kebahagiaan yang paling real, yaitu ketika kita bisa memberi arti yang lebih dalam hidup kita, ketika kita tahu makna hidup kita, ketika kita tahu tujuan hidup yang sebenarnya. Terpenting, ketika kita menjalani kehidupan untuk sesuatu yang lebih besar dari espektasi kita, yang memberi makna lebih pada hidup kita.

Coba, deh, lihat di diri kita, dan tanyakan, can you think of a cause bigger than yourself that is truly worth serving?

Mendedikasikan hidupmu untuk seorang artis? Seorang artis yang kamu idolai adalah sesuatu yang lebih besar dari dirimu. Kamu rela melakukan apa pun untuk artis ini: membeli karya-karyanya, mendatangi acaranya, mengikuti tren yang dia buat, sehingga kamu bisa menemukan arti dalam hidupmu, yang membuatmu… bahagia. 

Atau, mendedikasikan hidupmu untuk lingkungan? Kamu meyakini bahwa lingkungan patut dijaga. And, it is. Jadi, kamu rela melakukan apa pun untuk lingkungan ini: berhenti menggunakan apa pun yang berbahan plastik, memberikan awareness kepada masyarakat, sehingga kamu bisa menemukan arti dalam hidupmu, yang membuatmu… bahagia. 

Atau, mendedikasikan hidupmu untuk partai politik?
Atau, kebajikan sosial?
Atau, mungkin, kepercayaanmu?

But, let me give you a hint. Dari beberapa contoh di atas, hanya ada satu yang paling berasal dari dalam diri kita. Sekaligus, yang paling tepat, yang tidak ada akhirnya, yang bukan faktor eksternal, yang membuat kebahagiaanmu tidak dikendalikan oleh hal-hal di luar kontrolmu. 

Idola bisa mati suatu saat nanti. They probably don’t even notice you.

Lingkungan mungkin akan memburuk, sekuat apa pun kita menjaganya. Dan bagaimana pun kita menyebarkan awareness, tetap aja nggak semua orang bisa menerima. Tapi, tetap menjaga lingkungan adalah suatu hal yang sangat penting

Mendukung partai politik atau seorang tokoh politik mati-matian, juga dapat apa, sih? Mereka bisa aja dengan mudah mengubah kebijakan, visi dan misinya yang nggak sesuai dengan prinsipmu, atau bahkan merugikan rakyat demi keuntungan pribadi mereka.

We can’t control them all.

Tetapi, ada satu yang benar-benar berasal dari sedalam-dalamnya dirimu, kepercayaan

Kepercayaan berasal dari dalam hatimu. Telah ditetapkan bertahun-tahun lalu, sempurna tanpa penambahan maupun pengurangan.

Siapa di dunia ini yang bisa mengubah hakikat sebuah kepercayaan?

Sedih nggak, sih? Banyak dari kita yang mengejar kebahagiaan cuma mentok di pleasant life dan good life, kita banyak menghabiskan waktu, tenaga, uang untuk itu, dan sedikit sekali yang mengejar meaningful life.

Hanya senilai itukah hidup kita?

The Thing about Being Happy…

Ingat nggak cerita-cerita dengan happy ending? Ketika pada akhir cerita narator berkata, “Dan, akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.”

Flash news, that’s a total lie.

Bahagia itu baik, tapi permasalahannya adalah kita nggak bisa bahagia terus-menerus, selamanya.

Itu nggak mungkin, dan itu nggak baik.

Nggak mungkin karena dunia tidak didesain seperti itu. Nggak baik karena kita nggak akan bertumbuh.

Kita yang sekarang adalah kumpulan dari pengalaman sedih kita, pengalaman kecewa, pengalaman gagal, pengalaman senang, dan pengalaman-pengalaman lainnya.

Lagian, bagaimana kita bisa tahu gimana rasanya bahagia kalau kita nggak pernah sedih?

Sehingga aneh rasanya ketika seseorang menjadikan bahagia sebagai tujuan hidupnya, karena kebahagiaan itu sebuah perasaan, yang bisa berubah-ubah, yang akan digantikan dengan perasaan lainnya cepat atau lambat.

Terus-terusan merasa bahagia pun akan menjadi sesuatu yang membosankan dan pada akhirnya membuat kita bisa nggak bahagia lagi. Kita akan mencari-cari lagi kebahagiaan baru dan makna kehidupan. Kita nggak akan puas dengan kondisi seperti itu.

As the Arabian proverb said, “Sunshine all the time makes a desert.”

Sehingga, sebenarnya, dunia ini sudah dibuat sesempurna mungkin untuk kita. Maksud sempurna di sini adalah tepat untuk manusia kayak kita. Adil dan seimbang.

Mungkin, ada saatnya ketika kita berada di posisi yang kita nggak suka, entah itu jadi orang gagal, jadi orang yang kesepian, atau ditakdirkan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Ada saatnya kita berpikir, “Kenapa harus gue?”

Ada saatnya kita merasa sakit banget, dan yang bisa kita lakukan… ya, cuma menjalaninya, karena kita nggak bisa apa-apa, nggak bisa kita lawan. Kita hanya berharap bisa melewatinya, atau paling nggak, bisa bertahan.

Apa yang mau gue bilang adalah perasaan itu, sometimes, can be a good thing. Itu bisa menguatkan kita. Embrace it. Sekali lagi, kita nggak didesain untuk bahagia 24/7. Boleh, kok, kita merasakan perasaan lainnya. Tapi, jangan cuma sampai di situ.

Jadikan ini sebagai pelajaran untuk berhati-hati dalam mengambil tindakan atau memilih perasaan. Jadikan sebagai patokan bahwa kita nggak bisa bergantung pada dunia ini. Jadikan sebagai pengingat untuk nggak terlalu jatuh cinta sama dunia ini, karena dunia dan apa pun yang di dalamnya akan berakhir, dan biar kita nggak betah-betah banget sama fananya dunia.

Semua itu ada hikmahnya. Mungkin, kita nggak bisa langsung tahu karena keterbatasan ilmu yang kita miliki. Tapi, ini semua skenario Allah, dan Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, sedangkan kita nggak tahu apa-apa. Mungkin, kita baru bisa sadar akan hikmah itu setelah sepuluh tahun mendatang, dua puluh tahun mendatang, atau mungkin di akhirat kelak.

You Think You Know what Happiness Is

Pada akhirnya, kita semua ingin bahagia. Tapi, masalahnya, kebahagiaan itu sangat general, terlalu luas cakupannya. Makan enak bisa dibilang bikin bahagia. Punya uang banyak, punya barang mewah, jalan-jalan, punya pasangan, semua itu bisa bikin bahagia.

Nah, di sinilah kesalahan-kesalahan klasik yang sering dilakukan manusia bermula.

Tanpa mencari tahu soal kebahagiaan itu sendiri, tanpa mencari ilmu mengenai kunci kebahagiaan, tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup, tanpa benar-benar memikirkan hidup seperti apa, sih, yang ingin dijalani. Kita begitu aja mendefinisikan kebahagiaan, seminimal itu.

Kita menggunakan jalan singkat, menghalalkan segala cara agar cepat mendapatkan perasaan bahagia. Padahal, yang kita inginkan adalah kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang selamanya, bukan yang semu, bukan yang didapat dari hal-hal eksternal.

Makan enak, uang banyak, barang mahal, pasangan, dan sejenisnya adalah contoh kebahagiaan semu. Kebahagiaan duniawi yang dikendalikan oleh faktor eksternal, yang ketika habis, hilang, atau rusak, maka akan hilang juga kebahagiaan kita bersamanya.  Dan, ini yang justru membuat hidup kita sengsara, ketika bahagia atau tidaknya hidup kita diatur oleh hal yang tidak pasti, yang sementara, yang eksternal kayak gitu. Jadi, kembali ke hukum asal, deh. Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu.

Kadang, kita banyak mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran kita di tempat yang salah, di tempat yang kita tahu sementara, yang kalau ditimbang ulang akan terasa nggak worth it.

Sadar, kan, bahwa ini yang menjadi pembeda?

Pembeda seseorang bisa dikatakan berhasil dan tidak dalam menjalani setiap aspek kehidupan. 

Know what to give up, tahu apa yang harus dikorbankan, agar bisa mendapatkan yang lebih baik. 

Know what to prioritize, tahu mana yang harus diprioritaskan, jangka pendek atau jangka panjang, agar bisa mendapatkan yang abadi daripada yang sifatnya cuma sementara.

The truth is… being happy is never enough for us.

Apa yang benar-benar kita butuhkan adalah akhir yang bahagia, bukan bahagia di pertengahan, bukan bahagia di awal-awal. Jadi, berhentilah mengejar kebahagiaan yang salah, berhenti memprioritaskan waktu, pikiran, dan tenaga kita untuk kebahagiaan yang sementara. Karena percuma, kalau akhirnya kita nggak bahagia.

Dan, akhir yang pasti adalah mati.

Untuk apa kita berusaha mengejar mati-matian bahagia di tengah jalan, kalau ending-nya kita nggak bahagia? Kebahagiaan yang hanya dirasakan di tengah jalan pasti akan jadi percuma. Jadi, persiapkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kejar kebahagiaan yang tepat, jangan buat hidupmu sia-sia, karena kita cuma punya kesempatan hidup sekali.

At the end of the day, kita nggak bisa mendapatkan label hidup seperti yang dikatakan narator, “Dan, akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.”

Apa yang kita butuhkan, yang bisa kita usahakan, yaitu mendapatkan label hidup, “Dan, mereka memiliki akhir hidup yang bahagia.”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed