7. Gue Juga Maunya Jadi Orang Sukses, Financially Stable, Find True Love, Happily Ever After.

Dan, sekarang, ayo kita bicara soal ekspektasi.

Karena kalau kalian ingat kalimat di awal-awal, ekspektasi bisa menghalangi kita dari mengapresiasi hal-hal yang udah kita punya.

Jadi, apa itu ekspektasi? Apa bedanya sama berharap? Apakah salah kalau kita berekspektasi?

Oke, gue coba jawab.

Ekspektasi itu keyakinan yang kuat akan terjadinya sesuatu di masa depan, sedangkan berharap itu sebenarnya tipis-tipis sama ekspektasi.

Bedanya, harapan itu memiliki jenis keyakinan yang nggak sekuat ekspektasi.

Misal, gue expect kalian baca buku gue sampai habis vs gue harap kalian baca buku gue sampai habis. Itu punya makna yang sedikit berbeda.

Harapan lebih terdengar tahu diri, sedangkan ekspektasi lebih kayak, ‘Dih, yakin banget lu.’

Lalu, apakah salah kalau kita punya ekspektasi?

Jawabannya, ya, tergantung.

Tergantung dari apa yang kita yakini akan kesampaian, kepada siapa kita meletakkannya, bagaimana caranya, seberapa kuat ekspektasinya, seberapa value dari ekspektasi ini, dan berbagai macam faktor lainnya.

Dan, ini pun berlaku untuk ekspektasi kita terhadap hal-hal yang membuat kita bahagia. Kalau salah arah, pasti berujung kecewa.

Seringnya, kita menciptakan ekspektasi berdasarkan apa yang kita lihat di sekeliling, lalu kita simpulkan sendiri ‘Formula Kebahagiaan’ kita.

Akhirnya, banyak dari kita yang berpikir…

Mungkin, gua bisa lebih bahagia, lebih tenang kalau…

  1. gue udah punya pekerjaan bagus;
  2. gue udah menemukan cinta sejati;
  3. gue udah punya tubuh yang sempurna;
  4. gue udah punya uang/gaji yang banyak;

And, spoiler alert…

 

… itu semua salah.

Mungkin, masih banyak yang susah menerima.

Tapi, ini karena kurang paham aja, sih.

Chapter ini bukan bilang uang, jabatan, cinta atau hal yang selama ini kita kejar nggak penting

Tapi, lebih ke nggak sepenting itu.

Kalau faktornya benar-benar hanya itu, misal: lebih baik punya uang atau tidak, lebih baik punya jabatan tinggi atau rendah, lebih baik ada orang yang kita cintai atau nggak.

Jelas, jawabannya pasti kita sepakat: lebih baik punya itu semua.

Cuma masalahnya, kan, faktornya nggak mungkin hanya itu.

Secara realistis, faktornya akan lebih banyak.

Mungkin lebih baik punya banyak uang, tapi kita mengorbankan seluruh waktu kita sampai kelelahan dan sakit, meninggalkan salat tepat waktu, dan  meninggalkan keluarga.

Atau, punya uang yang cukup, tapi kita yang memegang waktu kita, kita diberi kesehatan, dan kita bisa menghabiskan waktu dengan keluarga.

Jelas, uang jadi nggak sepenting itu bagi sebagian orang jadinya.

Karena uang, jabatan, cinta, atau faktor dunia lainnya tidak hanya datang utuh bersama kebahagiaan.

Mereka juga membawa perubahan, membawa kesedihan, membawa kekhawatiran, membawa kesombongan, membawa keserakahan, dan banyak hal negatif lainnya juga.

Gue juga bukan orang yang kaya banget, apalagi kaya dari lahir. Nggak.

Gue juga pernah punya ambisi untuk jadi kaya banget saking pengin keluar dari situasi itu. So, I get it.

Tapi, di masa-masa struggle gue, tetap ada kebahagiaan di dalamnya.

Dan, gue yakin kalian juga.

Sekarang, coba bayangin, kalau gembira dan sedihnya kita tergantung pada uang, hal-hal berupa materi, cinta manusia lain, atau lebih parah lisannya manusia lain, maka bersiaplah kecewa dengan ekspektasi yang kita buat sendiri.

Karena lagi-lagi ternyata, mendapatkan itu semua tidak semembahagiakan itu.

Coba, deh, kita perhatikan.

Orang-orang yang memiliki itu semua secara berlebihan, seringnya sadar dan akan menganggap bahwa itu semua nggak sepenting itu. Bahkan, ada yang menyesal karena pengorbanannya ternyata nggak worth it.

Yang belum sadar, tentu akan tetap mendewakan kepemilikan yang semu itu dan tetap menjadikan hal-hal itu sebagai sumberyang mereka kira memberikebahagiaan.

Kebahagiaan bukan hanya dimiliki orang yang kaya raya, berjabatan tinggi, yang menemukan cinta sejati, yang bertubuh ideal, yang berparas tampan atau cantik.

Orang yang nggak memiliki itu semua juga bisa bahagia, bahkan bisa lebih bahagia.

Kita belum pernah merasakan, jadi, mungkin, nggak kebayang.

Tapi, ini, kan, fungsinya ilmu. Tanpa harus merasakan, tanpa harus menjalani, dengan ilmu, kita bisa menghindari kesalahan.

Dan, ya, kadang nggak mudah memang menerima kebenaran.

Untuk yang masih sulit menerima, biasanya harus pakai penelitian manusia dulu, nih, and it’s good. Kita memang harus kritis.

Di sini, ada beberapa penelitian yang mengangkat bahwa hal-hal di atas, yang sering kita kejar habis-habisan, ternyata nggak punya kontribusi signifikan terhadap kebahagiaan kita.

Kalian bisa cek research-nya Dan Gilbert and colleagues tentang affective forecasting, dream job, and happiness.

Bahkan, dia pernah bilang kurang-lebih gini:

Pada akhirnya menang lotre itu nggak akan menambah kebahagiaan yang kamu miliki sekarang, dan pada akhirnya kehilangan kaki juga nggak akan mengurangi kebahagiaan yang kita miliki sekarang.

The fact is that a year after losing the use of their legs, and a year after winning the lotto, lottery winners and paraplegics are equally happy with their lives,” 

Kebanyakan dari kita tuh punya baseline level of happiness. Dan, hal-hal eksternal kayak gitu nggak bisa mengubah baseline level of happiness kita dengan begitu mudahnya.

Kita itu makhluk yang jago banget adaptasi. Setelah beberapa waktu, kita akan kembali ke default mode. Default mode happiness kita. Default mode hidup kita. Jadi, meskipun ada kebahagiaan yang sangat melonjak, kayak dapat satu triliun, we’re going to adjust to that life, dan, pada akhirnya, tingkat kebahagiaan kita akan kembali ke default mode–seperti saat kita belum dapat satu triliun itu, meski masih ada satu triliun di tabungan.

Kalian bisa cek juga projek dari Ed Diener tentang korelasi dari life satisfaction and income. Dia bikin buku judulnya Happiness: Unlocking The Mysteries of Psychological Wealth. Intinya, dia bilang: ketika kebutuhan dasar kita udah terpenuhi, memiliki uang ekstra yang sebanyak itu, ternyata, nggak menambah perasaan kebahagiaan yang signifikan dalam hidup kita.

Balik lagi, untuk kita yang belum pernah merasakan punya uang sebanyak itu, ada perasaan kayak, nggak, gue butuh uang buat punya hidup jadi lebih bahagia.

But here’s the fact: Ada suatu penelitian yang dilakukan oleh Daniel Kahneman dan Angus Deaton, dari Princeton University. Mereka telah menemukan bahwa jika seseorang–di Amerika–telah mencapai gaji $75,000 per tahun, lalu dia mendapat lagi nominal lebih dari itu, dia nggak akan bisa merasakan kebahagiaan yang signifikan dari segi finansial lagi. 

Kenapa? Penjelasannya, karena orang dengan pendapatan segitu di Amerika, biasanya udah bebas dari financial issue. Dan, gue nggak memungkiri, untuk kita yang kekurangan, mengeliminasi masalah-masalah keuangan, itu bisa meningkatkan kepuasan dan ketenangan dalam hidup kita.

Dan, gue akan jelasin lagi lebih detail nanti soal-keinginan-keinginan kita ini.

Untuk marriage and happiness, ada penelitian dari Richard E. Lucas and colleagues pada 2003. Penelitiannya berjudul ‘Reexamining Adaptation and The Set Point Model of Happiness: Reactions to Changes in Marital Status’. Apa yang mereka temukan? Ternyata, orang-orang yang menikah, lonjakan kebahagiaannya bertahan di tahun pertama atau kedua. Honeymoon effect gitu lah. Karena masih baru. Sayangnya, setelah itu, balik lagi ke baseline. Tingkat kebahagiaannya sama aja sama yang belum nikah.

Untuk tubuh yang ideal, ada penelitian dari Sarah E. Jackson and colleagues pada 2014. Penelitiannya berjudul ‘Psychological Changes following Weight Loss in Overweight and Obese Adults: A Prospective Cohort Study’. Mereka memiliki 2000  orang obesitas sebagai subjek penelitiannya. Selama empat tahun, berat badan mereka dimonitor. Sehingga terbagilah menjadi tiga kategori: kategori orang-orang yang turun berat badannya; kategori orang-orang yang naik berat badannya; kategori orang-orang yang berat badannya stagnan. Hasilnya? Baseline happiness-nya sama aja. Bahkan, anehnya, orang-orang yang berhasil lose their weight punya depressed mood paling tinggi dibanding dua grup lainnya.

So, what I’m trying to say is… kebanyakan intuisi kita tentang apa yang membuat kita bahagia seringnya salah.

Sekali lagi, nggak ada salahnya untuk mau dan punya itu semua.

Jadi, jangan salah mengambil pesan, ya.

Boleh banget kita kaya, kita menikahmalah ini sangat dianjurkan dalam agamakita juga boleh punya jabatan tinggi, dan punya tubuh yang bagus.

But the important thing is… Apa alasan kita di balik semua keinginan kita itu? Mau sampai mana kita mengejar semua itu? Dengan cara apa?

Bayangin kita benar-benar menjadikan semua hal di atas sebagai tujuan terbesar dalam hidup kita.

Seumur hidup, kita fokus mengorbankan segalanya untuk mendapatkan itu semua, bahkan sampai meninggalkan hal-hal yang sebenarnya lebih penting.

Kita fokus mengejar cinta. Kita fokus mengejar jabatan. Kita fokus mengejar uang yang nggak pernah ada titik habisnya, yang nggak akan pernah benar-benar memuaskan kita.

Dan, ketika kita lelah, sudah bersusah-payah mendapat apa yang kita inginkan…

… kok, rasanya gini doang?

Kok gue nggak bahagia? Kok gue merasa jauh dari orang-orang yang penting buat gue? Kok gue merasa hidup ini sia-sia?

Coba lihat orang-orang yang sudah kaya banget yang pendapatannya udah bermiliar-miliar, pemimpin perusahaan dunia, selebriti yang juga pendapatannya banyak, are they happy? Apakah ada kata cukup untuk mereka–when it comes to money, position, or fame?

Bayangin kita meletakkan faktor ketenangan hidup kita pada uang, manusia lain, atau pekerjaan.

Yakin kita berpegangan pada sesuatu yang serapuh itu, yang mudah hilang dan habis seperti itu?

Berapa banyak orang yang mengorbankan, bahkan kehilangan dirinya sendiri demi mengejar uang dan malah terpuruk?

Mungkin kita sering dengar bahwa “Money changes people.”,

But the truth is, money reveals who you really are. 

Jadi, akan berbahaya kalau kita belum mempersiapkan diri.

Bayangkan kalau kita adalah orang yang punya mimpi kecil, yang punya prinsip rendah. Kita bisa dengan mudah termakan sama tipu daya uang yang makin menghancurkan kita.

Karena, seringnya, yang siap kaya adalah orang yang biasa aja sama harta. Kalau dia sangat-sangat mementingkan uang, menghambakan dirinya di depan uang, maka akan hancurlah dia dan hartanya.

Seringnya, yang siap populer atau menjadi pemimpin adalah orang yang biasa aja sama kekuasaan. Kalau dia mati-matian menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama dalam hidupnya, maka akan hancurlah dia dan posisinya.

Seringnya, yang sudah pantas menikah adalah mereka yang biasa aja sama romantisme percintaan. Kalau hal-hal itu yang mereka agungkan dan ekspektasikan, maka ketika menikah, akan merasa hancurlah dia dan ekspektasinya.

Yang siap untuk mendapat itu semua adalah yang bisa fokus pada kewajiban dari memiliki itu semua.

Semua itu membawa kewajiban dan konsekuensi, nggak melulu senang-senang isinya.

It’s not always about gaining, it’s also about losing.

Ketika kita mendapat kekayaan, maka juga mungkin kita akan kehilangan kesederhanaan, kita akan kehilangan ketenangan.

Ketika kita mendapat pasangan hidup, maka juga mungkin kita kehilangan kebebasan, kehilangan keberanian untuk mencoba hal baru karena merasa sudah punya tanggung jawab lebih.

Ketika kita mendapat jabatan, maka juga mungkin kita kehilangan waktu, bahkan sampai kehilangan jati diri.

Semuanya nggak 100% membawa bahagia-bahagianya aja.

Jadi, akan rugi kalau yang paling kita kejar adalah hal yang nggak semembahagiakan itu.

Dan, kita akan capek banget kalau berlomba-lomba di ranah dunia. Nggak akan pernah jadi pemenang. Pasti akan selalu ada yang lebih menang.

Beda kalau kita berlomba di ranah akhirat. Yang jadi pemenang bisa banyak. Nggak ada kerugian dalam mengejar itu.

Kita bisa menjadi orang yang pandai bersyukur tanpa harus menjadi sangat kaya terlebih dahulu. Bahkan, banyak orang kaya yang sulit bersyukur karena selalu mengejar yang lebih.

Dan, di situ, mungkin, akan ada perbedaan yang signifikan.

Kita boleh banget punya banyak mimpi dan, mungkin, salah satu dari hal-hal di atas adalah mimpi kita.

Cuma, bukan begitu cara melihat dunia.

Kalau mimpi-mimpi yang itu adalah harapan terbesar kita dalam menjalani hidup–ketika kita nggak mendapatkannya–kita akan terpuruk. Dan, ketika kita udah mendapatkannya dan tahu rasanya–yang ternyata rasanya cuma begitu–kita juga akan terpuruk.

Sebenarnya, it’s an easy simple message: untuk jangan salah mengambil langkah, jangan salah menanam, lalu menyesal dengan apa yang kita tuai.

Those are not the factors that you should chase for, hardly.

Kejar hal-hal di atas secukupnya saja, dalam batas wajar.

Dapat, ya udah. Nggak dapat, ya udah.

Yang salah adalah bagaimana kita meletakkan, bagaimana kita mengira dan memprediksi bahwa hal-hal di atas itu merupakan prioritas utama dalam hidup.

Bahwa seluruh hidup kita harus didedikasikan dan dikorbankan untuk mendapat itu semua.

Bahwa syarat menjadi bahagia dan mendapat ketenangan adalah memiliki hal-hal di atas.

Bahwa sukses-gagalnya seseorang bisa ditentukan dari hal-hal di atas.

when in fact…

Semua itu, nggak sepenting yang kita kira.

Seringnya, kita mengaku pengin dapat uang demi dapat ketenangan hidup. Jadi, kepada siapa sebenarnya kita menggantungkan hati kita supaya tenang? Uang atau Allah?

Masa iya, kita membiarkan uang menukar posisi Allah di hati kita—ya, walau tanpa kita sadari.

Kita mengaku pengin segera menikah demi nggak kesepian, supaya tenang punya seseorang. Jadi, kepada siapa kita menggantungkan hati saat pasangan kita meninggal? Cinta baru atau Allah?

Masa, iya, kita membiarkan pasangan menukar posisi Allah di hati kita–ya, walau tanpa kita sadari.

Hal kayak gitu malah akan membuat kita semakin jauh dari ketenangan.

Dan, ini renungan juga untuk kita yang mengaku mengejar dunia dan akhirat secara serata, karena nggak mungkin.

Kita akan condong ke salah satunya, nggak bisa sama rata di keduanya.

Mana yang sesungguhnya nomor satu di hati kita?

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed