5. FEELS LIKE I ALWAYS NEED SOMEONE

This is the harsh truth: nggak semua orang yang kita pedulikan, akan peduli juga dengan kita.

And it hurts for some people. But weirdly, not for others.

Coba lihat lagi, deh, ke belakang. Kita pasti pernah ketemu dengan…

  • Orang-orang sensitif
  • Orang-orang yang cuek
  • Orang-orang yang tertutup
  • Orang-orang penakut, gampang panik, dan cemas

Or… is that you? Atau, orang-orang terdekat?

Kadang, kita susah paham dengan orang-orang yang seperti ini. Kok, dia cuek banget, sih? Kok, dia sensitif banget? Kok, dia tertutup banget? Kok, dia nggak peduli sama gue sebagaimana gue sangat peduli sama dia?

Atau, bisa jadi, kitalah orang-orang cuek itu. Orang-orang yang nggak nyaman dengan kedekatan. Orang-orang yang kesulitan terbuka. Orang-orang sensitif yang nggak mau sensitif.

Sebenarnya, ini ada hubungannya dengan attachment kita pada masa lalu dan dengan orangtua kita.

Apakah waktu kecil keberadaan kita dihargai oleh orangtua kita?

Apakah kasih sayang yang diberikan cukup? 

Apakah orangtua kita sibuk dengan permasalahan mereka dan malah mengabaikan kita?

Orangtua yang secure akan membesarkan anak yang secure juga. Anak nggak haus akan perhatian, nggak haus akan kasih sayang karena merasa cukup.

Kalau ada yang dekat dengannya, ya, fine. Nggak pun, dia tetap bisa merasa fine. Sebab, kebutuhan-kebutuhannya sudah terpenuhi.

Bahkan, menurut Miller (2009), kalau seorang ibu bahagia dengan masa kehamilannya, mereka akan cenderung punya anak yang secure juga. Tapi, kalau seorang ibu merasa penuh kecemasan dan ketakutan atau bahkan nggak suka dengan masa kehamilannya, maka attachment style bisa mengarah ke yang nggak secure.

Jadi ketika bayinya lahir pun, si ibu senang dengan kehadiran si anak. Saat mengasuh pun, penuh perhatian dan kasih sayang sehingga intimacy terjalin dengan baik.

But, like I’ve said earlier, ini adalah sebuah rentang, yang artinya bisa bergeser; bisa berubah.

Sehingga, nggak cuma dari pola asuh aja.

Menurut Fraley, faktor pengalaman jadi peran terbesar dalam membentuk attachment style yang kita bawa sampai kita tumbuh dewasa. 

Nggak cuma pada saat masa kecil aja, ketika tumbuh menjadi remaja pun, attachment style masih bisa berkembang.

Nggak cuma sampai situ, pengalaman akan hubungan buruk pun bisa mengubah seseorang dari secure jadi insecure, dan pengalaman hubungan yang baik juga bisa mengubah seseorang yang tadinya sangat menghindari intimacy jadi nggak terlalu menghindarinya (Arriaga, 2014).

Jadi, bagi kita yang masa kecilnya buruk atau nggak punya keluarga yang seindah itu, masih punya harapan, kok.

Emang enak, nggak bisa dijadiin alasan, pengennya jadi korban mulu, sih. :p

Tapi, yang namanya style, sifatnya nggak semudah itu berubah. Butuh pengalaman yang signifikan dan konstan agar seseorang bisa mengubah attachment style-nya.

Kita bisa, kok, melatih diri dan mengubah mindset dalam membentuk attachment style kita.

Self-esteem dan self-love sangat berpengaruh dalam membentuk attachment style yang sehat.

Anyway, menurut, Shaver & Mikulincer, attachment, tuh, ada empat macam, dan ini lumayan menjelaskan mengapa ada orang-orang yang terkesan cuek, tertutup, takut kehilangan berlebihan, dan semacamnya.

Sebelum gue jabarin empat style attachment itu, coba lihat grafik di bawah ini:

1. Secure

Orang-orang ini, tuh, kayak…

Berjauhan nggak rewel. Berdekatan nggak ngerepotin. Tahu batas dan tahu cara menghormati privacy. Self-care, tapi nggak egois.

Lihat lagi grafiknya, deh. Style ini terletak di kuadran satu. Cenderung pada Low Anxiety, Low Avoidance.

Maksudnya, rendah kecemasannya, rendah pula kecenderungan dia menghindar dari attachment.

Maksudnya, bukan dia nggak punya kecemasan, ya. Tapi, dia rendah rasa cemasnya pada hal-hal yang berhubungan sama hubungan dengan manusia lain, the attachment. Dia bisa meregulasi rasa cemasnya.

Dia juga tahu, ketika dia punya kebutuhan, dia harus mengomunikasikannya. Kalau dia nggak mampu pada suatu hal, seperti nggak bisa bantu ketika dimintai tolong, ya dia berani menyuarakannya, nggak cemas kayak, “Kalau gue nggak bantu, nanti dia ninggalin gue.”

Dia tahu nilai dirinya, jadi dia nggak takut ditinggalkan. Dia tahu dirinya berharga.

Selain rendah rasa cemasnya (yang maksudnya adalah mampu meregulasi kecemasannya), dia juga rendah avoidance-nya. Maksudnya, bukan tipe yang menghindar gitu kalau ada yang mendekati. Teman baru, misalnya.

Jadi, dia nyaman aja terikat dengan orang lain. Dia juga santai-santai aja ada yang terikat dengan dia.

Gue akan ulang baris-baris pertama gue: Berjauhan nggak rewel, berdekatan nggak ngerepotin. Tahu batas dan tahu cara menghormati privacy. Self-care tapi nggak egois.

Kok, bisa ada orang-orang yang secure kayak gini?

Biasanya, orang-orang yang kebutuhan emosional masa kecilnya terpenuhi, seperti keberadaannya yang dianggap, kasih sayang yang diterimanya cukup, orangtua yang selalu “ada”, dan pola asuh yang baik, bisa menghasilkan anak dengan attachment style yang secure kayak gini.

2. Anxious Pre-occupied

Orang-orang needy masuk di sini, nih.

Low avoidance, high anxiety.

Dia sangat takut diabaikan. Sering khawatir kalau orang lain menganggap dia nggak berharga. Butuh banget intimacy. That’s why orang-orang kayak gini rentan terjebak di hubungan yang toxic dan salah.

Dia juga overthinking terhadap hal-hal yang kiranya akan mengancam hubungannya. Sulit menghargai keputusan orang lain dan nggak percayaan (karena high anxiety). Sifatnya cemburuan ditambah pesimis.

Karena ketakutan berlebih akan ditinggalkan, sering kali dia membuat skenario terburuk di kepalanya, percaya dengan skenario buatan sendiri itu, sehingga dia sering gelisah, curigaan, jadi drama padahal nggak butuh ada drama.

Biasanya, orang-orang seperti ini punya self-esteem yang rendah dan punya pengalaman dalam hubungan yang buruk.

3. Dismissive

Orang-orang di kategori ini… berlawanan dengan kategori sebelumnya.

Mereka; low anxiety, high avoidance. Super-mandiri dan self-reliant. Nggak takut kehilangan, ditambah males sama intimacy. Kesannya, paling anti nempel dan paling anti ditempelin.

Mereka lebih nyaman tanpa relasi dan ikatan emosional dengan manusia lain.

Nggak suka bergantung dengan orang lain dan nggak suka kalau ada orang lain yang bergantung sama dia. Bukan berarti mereka nggak bisa menjalin hubungan, ya, tetap bisa, sih. Tapi, ya, akan terkesan cuek dan lebih mementingkan diri sendiri. 

Mereka berlawanan dengan anxious-preoccupied. Jadi, bayangkan kalau kedua bela pihak menjalin hubungan. Cuek vs needy. Bodo amatan vs  cemburuan. Riskan, tapi kalau ngomongin relationship, ini tentang bagaimana kita berkompensasi dengan satu sama lain. Oke, ada sifat yang kita nggak suka, ya, harus kompensasi kalau bisa dikompensasi, selagi kita juga memperbaiki bagian kita.

Orang-orang seperti ini bisa jadi karena punya orangtua dan lingkungan yang memaksa mereka untuk menghindari hal-hal yang bersifat emosional.

4. Fearful

Orang-orang di kategori ini rentan banget terjebak di hubungan toxic, tapi nggak mampu keluar.

Karena mereka punya high avoidance, high anxiety.

Susah mau berhubungan dengan orang. Tapi, sekalinya udah bisa berhubungan, mereka punya ketakutan luar biasa akan kehilangan.

Sejujurnya, mereka ingin dekat secara emosional, tetapi mereka punya ketakutan untuk dilukai, ketakutan berharap, dan ketakutan ditolaknya besar, jadi isinya hanya ketakutan.

Jadi, saat hubungannya udah mulai toxic, dia bisa tetap memilih bertahan karena rasa takut. Ingin mempertahankan, tapi nggak berani lebih “dekat” juga karena takut akan lebih disakiti. Ingin melepaskan, tapi takut banget nggak akan menemukan seperti ini lagi.

Orang-orang seperti ini biasanya karena trauma masa lalu yang belum terselesaikan.

Seperti, pernah terjebak di hubungan KDRT, pola asuh yang nggak konsisten, sering mengalami penolakan di lingkungan.

Udah mulai kelihatan belum,  ada kecenderungan di kategori mana?

Tapi, kategori ini bukan mengotak-ngotakan manusia, ya. Lebih ke rentang/range, karena nggak ada orang yang 100% punya satu attachment style dalam mencintai seseorang. Dan, ini sifatnya mungkin aja bisa berubah seiring waktu. Style yang tadinya fearful bisa jadi secure, dan sebaliknya, dan semacamnya.

Mengetahui hal ini bisa kita jadikan gambaran  untuk mengerti lebih, bagaimana cara mengatasi dan berhubungan sama manusia lain

One more thing…

Dalam psikologi, gue pernah belajar bahwa…

Semua relationship dalam hidup kita adalah hasil dari kita mencoba mencari apa-apa yang hilang dari relationship kita dengan orangtua kita.

Pada semua relationship, kita mencoba membetulkan apa-apa yang salah dengan relationship kita pada masa lalu—dengan orangtua kita.

Kita berusaha untuk mencari manusia lain untuk mengisi kehilangan itu, tapi…

That still  won’t fill the hole inside us.

Itu nggak akan mengisi kekosongan dalam diri kita.

Jadi, bagaimana supaya kita bisa merasa normal?

Kalau kita lihat attachment style di atas, kelihatan nggak polanya yang salah apa?

Ada “ketergantungan pada manusia” di sini.

Ini, kan, yang bikin nggak tenang.

Karena bergantung dengan makhluk lain yang sama lemahnya dengan kita, itu menyengsarakan. Mereka seringnya nggak mampu memenuhi ekspektasi yang kita buat sendiri yang akhirnya mengecewakan dan menyakitkan kita.

Jangan bergantung pada yang nggak bisa bertahan.

Jangan bergantung pada sesuatu yang ditakdirkan akan meninggalkan kita.

Dan, nggak ada yang lebih aman, yang lebih secure daripada bergantung kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dan, nggak ada juga cara lain yang terbaik dalam menumbuhkan kecintaan terhadap diri, penghargaan terhadap diri (self-esteem) kalau nggak dibarengi dengan kecintaan dan penghambaan terhadap penciptanya. Kayak di buku pertama gue yang extra chapter, self-love itu juga tentang membatasi, membatasi diri biar nggak berlebihan.

Berlebihan dalam mencintai atau membenci.

Membatasi ke mana diri ini boleh bergantung dan ke mana yang tidak.

Jadi, bagi yang sudah lelah karena selama ini bergantung dengan subjek yang salah, mungkin ini udah saatnya, menggelar sajadah, salat, dan, di dalam sujud, berdoa yang panjang kepada Allah….

Memohon agar kita diampuni karena sudah bergantung, berharap, dan berusaha dekat bukan hanya kepada-Nya.

Semoga Allah memudahkan hati kita terpaut hanya kepada-Nya.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed