Text
ADA seorang wanita dan pasangannya. Mereka sudah saling cinta sejak masa-masa kuliah. Awalnya, hubungan mereka baik-baik aja.
Ya, seperti penjelasan pada bab sebelumnya: dia mendapatkan perlakuan istimewa ketika memulai hubungan. Tiga bulan berjalan, perubahan dari si pasangan mulai tampak, jati dirinya mulai terlihat. Si pasangan sering kasar. Wanita ini sering dicaci karena kesalahan yang terkadang sepele. Lalu, si wanita mulai sedih dan menangis.
Setelah itu, si pasangan meminta maaf. Karena si wanita sayang dan hanya mengikuti “hatinya”, dia tentunya memaafkan, yang akhirnya berdampak pada terjadinya pengulangan pada aksi tersebut, bahkan sampai si pasangan berani main fisik.
Setelah mereka lulus kuliah, rencana untuk menikah pun naik ke permukaan. Keduanya sudah nggak sabar. Teman-teman si wanita pun memastikan lagi: apa yakin mau menikah dengan orang kayak gitu? Yang kalau dipikir pakai logika, orang itu “nggak sehat.”
Merendahkan, menjatuhkan, bahkan menyakiti orang yang disayang, itu semua kontradiktif, kan? Masa begitu memperlakukan orang yang disayang?
Tetapi, karena sudah terbutakan oleh hati dan cinta, wanita ini merasa pasangannya memang jodohnya, orang yang tepat, hatinya sudah sreg. Lalu, pada akhirnya setelah beberapa tahun menikah, kondisinya sekarang: sudah punya anak, hampir cerai, pisah tempat tinggal, dan jarang dinafkahi.
Ini kisah yang umum di sekitar kita. But then again, ini adalah salah satu contoh cerita bahwa kita nggak bisa hanya mengikuti perasaan kita, hanya mengikuti hati kita, karena seringnya itu salah.
Kita itu sering ditipu oleh perasaan kita sendiri. Makanya, bahaya banget kalau seseorang hanya menggunakan, bahkan mengandalkan perasaannya semata untuk menentukan, memutuskan, atau menilai sesuatu.
Kenapa?
Karena, pada dasarnya, kita ini sangat subjektif. Sampai ada suatu aturan atau standar yang terbukti, baru kita bisa mengambil langkah objektif. Itu pun kalau kita setuju dengan aturan itu. Subjektif banget, kan?
Menurut kita benar, ya benar. Menurut kita salah, ya salah.
Jadi, pada dasarnya, ketika kita akan mengambil suatu tindakan atau penilaian terhadap sesuatu, kita melakukannya atas dasar: membuat kita merasa senang, baik or other positive emotion, atau kita percaya itu baik untuk kita.
Nah, masalahnya, kedua hal ini nggak selalu berbanding lurus.
Simpelnya gini:
Kita tahu makan mi instan malam-malam tuh bikin gendut dan nggak baik, tapi kita akan tetap makan, karena kita mengikuti perasaan kita.
Makan mi malam hari = membuat (perasaan) bahagia = tindakan yang benar
Dan, contoh kejadian tersebut bisa diaplikasikan ke semua kejadian, yang sebenarnya kita tahu salah, tapi tetap kita lakukan karena justifikasi untuk keuntungan diri.
Pacaran = membuat (perasaan) bahagia = tindakan yang benar
Nyontek = nilai bagus = membuat bahagia = jadi nggak apa-apa
Kan, harusnya nggak gitu.
Serem nggak, sih? Kadang sulit untuk pikiran kita membedakan mana yang memang benar-benar baik, atau cuma perasaan kita aja kalau itu baik. Kalau kayak gitu terus, pada akhirnya, kita jadi terbiasa untuk berpikiran bahwa apa pun yang memberikan kita perasaan positif, maka itu baik untuk dilakukan. Seriously, ini bahaya, bahaya banget.
Jangan sampai kita hanya mengandalkan akal dan perasaan kita semata. Kita sudah punya guidance untuk menjalani hidup yang paling baik untuk kita, jadi ikuti itu. Kita nggak bisa memutuskan hidup ini hanya dengan mengikuti perasaan, karena pada akhirnya, perasaan kita nggak tahu apa yang terbaik buat kita.
Our feelings know nothing. Almost nothing.
How Do We Make a Decision?
Human make bad decisions almost all the time.
Banyak sekali situasi di mana kita nggak reliable, karena kita tertipu dengan diri kita sendiri.
For instance, disadari atau nggak, kita berpikir dengan bias, dan seringnya kita berpikir dengan mendahulukan kepentingan pribadi alias sangat-sangat subjektif. Mudah bagi kita menilai kesalahan orang lain, tapi untuk kesalahan pribadi? Nggak semua orang bisa introspeksi. Kita punya banyak alasan untuk memaklumi kesalahan diri sendiri, tapi nggak ke orang lain. Menyalahkan hal-hal di luar kita atas terjadinya suatu masalah itu jauh lebih mudah daripada mengakui kesalahan itu ada di dalam diri kita.
Selain itu, kita itu pelupa. Lupa akan detail-detail suatu kejadian. Lupa terhadap suatu emosi yang pernah kita rasakan, seperti kebahagiaan dan penderitaan. Ini kenapa move on untuk beberapa orang sangat sulit, walau dalam hubungan dia sudah sangat tersiksa. Kita seringnya lupa secara detail perasaan-perasaan yang pernah kita rasakan. Ketika harus mengambil keputusan untuk langkah selanjutnya, kita jadi overestimate atau underestimate. Dan, ini juga mengapa kita seringnya butuh pengingat dari teman-teman kita, mengingatkan alasan kenapa kita harus move on dari suatu hubungan yang buruk.
Hal yang paling sering menipu kita dalam mengambil keputusan adalah emosi yang kita rasakan. Ketika kita sedang merasakan emosi yang ekstrem, seperti sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia, kita cenderung memilih keputusan yang buruk. Sulit bagi kita berpikir jernih ketika sedang merasakan emosi-emosi yang ekstrem dan penilaian pun jadi sangat-sangat bias.
Jadi, basically, ketika kita membuat keputusan, ada dua faktor besar yang memengaruhi keputusan kita, yaitu pengalaman yang kita punya dan pengetahuan yang kita dapat. Setelah itu, kita akan membandingkan mana yang kiranya paling menguntungkan untuk kita, itulah yang kita ambil.
Cuma, masalahnya, seperti penjelasan gue sebelumnya, pengalaman yang kita punya kadang terbatas, prematur, dan sangat subjektif.
Seringnya, kita lebih memilih tidur malam, padahal tahu besok harus bangun pagi. Walaupun besoknya kita menyesal karena nggak tidur cepat, malamnya kita ulangi kesalahan yang sama. Kita lebih memilih scrolling Instagram daripada belajar, kita memilih main-main nggak bermanfaat daripada membaca buku yang berisi ilmu bermanfaat, kita memilih makan yang enak daripada yang sehat.
Why? Karena kita memperhitungkan balasan instan di sini, hasil yang segera.
Menurut pemikiran pendek kita, hasil baik yang segera lebih baik daripada hasil jangka panjang. Karena hasil baik yang segera, senangnya sekarang. Padahal, yang bikin kita senang hari ini, belum tentu baik untuk jangka panjang kehidupan kita dan seringnya hasil jangka panjang itu lebih menguntungkan, pada akhirnya.
Menonton serial TV kesukaan kita sampai malam memberikan kita kesenangan, sehingga rela mengorbankan waktu tidur walau akhirnya kita mengeluh ngantuk keesokannya. Melihat video-video lucu atau posting-an foto idolamu yang lagi liburan di Instagram, memberimu kesenangan yang langsung, saat itu juga, walau nggak ada manfaat jangka panjangnya.
Coba belajar menahan diri dari kesenangan-kesenangan jangka pendek yang tak ada manfaatnya untuk masa depan.
Menurut kita, terus-terusan main Instagram nggak memberikan efek buruk, justru memberikan pengalaman yang menyenangkan. Sayangnya, pada saat itu juga, pengalaman kita nggak tahu efek terus-terusan main Instagram. Apa yang pengalaman kita tahu adalah Instagram membuat kita senang secara langsung. Jadi intinya, kita cuma punya pengalaman, not the knowledge.
Makanya, peran pengetahuan itu penting banget dalam mengambil keputusan. Jadi, ketika kita tidak memiliki pengalaman yang cukup, kita bisa mengandalkan pengetahuan yang ada.
Misal, kita mencari tahu dampak dari bahaya bermain Instagram terlalu sering dan lama, waktu ideal bermain media sosial, atau pengetahuan lainnya yang terkait. Kalau kita tahu ilmunya dari awal, kita bisa mencegah pengambilan keputusan yang salah.
Begitu pun dalam menjalani hidup, kita butuh ilmu yang tepat agar nggak salah langkah. Karena tanpa ilmu, kita hanya seperti meraba-raba dengan mata tertutup sambil terus berjalan. Kita nggak tahu apa yang di depan. Kita nggak tahu efek ke depannya jika kita terus berjalan. Tiba-tiba kita terjatuh ke dalam perangkap yang kita nggak sadari. Kenapa? Karena, kita nggak tahu perangkap apa yang ada di depan. Tetapi dengan ilmu, kita tahu perangkap apa yang ada di depan.
Pengalaman akan berubah menjadi sebuah pengetahuan ketika telah menjadi sebuah pembelajaran, ketika suatu momen sudah terjadi, dan ketika kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Tetapi, ini terlalu berisiko. Kita nggak bisa jatuh dulu di semua perangkap kehidupan, karena kita pasti akan kelelahan. Jadi, lebih baik mencegah, kan?
Pengalaman orang lain juga bisa kita jadikan sebagai pengetahuan. Seperti, pengalaman orang-orang terdahulu, atau sekadar pengalaman dari teman, itu bisa menjadi sebuah pembelajaran untuk kita.
Tahu ilmu sebelum melakukan. Apa pun itu, agar tidak terjerumus ke hal yang salah.
Jadikan ilmu sebagai dasar, bukan hanya perasaan.