Text
MEREKA bohong, ketika mengatakan bahwa kamu spesial.
Well, oke, nggak sepenuhnya bohong. Tetapi, di balik “you are special to me” selalu ada motif tersembunyi. Selalu ada alasan kenapa orang-orang memprioritaskan dirimu.
I know it probably sounds very judgmental, but it’s the truth.
Kamu diprioritaskan bukan karena kamu, tetapi karena ada sesuatu yang dia ingin dapatkan dari kamu.
Bahkan dalam ranah psikologi, hal ini sudah dibahas lama. Memang nggak secara gamblang, tetapi kalau kita lihat menggunakan kacamata psikoanalisa—yang dicetuskan oleh salah satu bapak psikologi ternama, Sigmund Freud—beliau menggambarkan bahwa manusia bergerak berdasarkan pleasure principle, yaitu pemuasan diri untuk memunculkan suatu tingkah laku. Hal ini ditambah dengan peranan id, ego, dan superego bahwa manusia memiliki insting dari lahir. Insting untuk survive, yang intinya adalah manusia akan melakukan apa pun untuk kepentingan dan keselamatan pribadinya.
Begitu juga pemahaman kedua dalam psikologi, behaviorism, yang intinya adalah manusia memunculkan suatu tingkah laku berdasarkan pengondisian (conditioning) yang dia dapat. Apabila menimbulkan efek yang menyenangkan, maka akan dilakukan. Jika tidak, maka akan ditinggalkan. Dan, ini teraplikasi sepanjang hidup manusia.
Manusia melakukan sesuatu atas dasar untung-rugi. Kalau kita merasa akan mendapatkan keuntungan, maka akan kita kerjakan. Jika merugikan, maka akan kita tinggalkan.
Contoh, ya. Untuk apa kita terus melakukan pekerjaan yang mereka benci setiap hari? Karena ada kompensasi yang menguntungkan, yaitu gaji.
Untuk apa kita menghabiskan waktu dengan belajar dan membaca buku pelajaran? Karena kita paham ada keuntungan yang bisa dikejar di balik itu semua, yaitu nilai, kelulusan, atau pribadi yang lebih baik.
Untuk apa kita memuji dan menyenangkan orang lain? Karena ada yang kita harapkan dari itu semua.
Untuk apa kita mencintai seseorang dengan begitu dalam? Karena kita juga berharap dicintai dengan cinta yang sama dalamnya.
Untuk apa kita berkorban untuk seseorang? Karena, sebenarnya, kita mengharapkan dia akan berbuat baik untuk kita, nanti di masa depan saat kita membutuhkan.
Dan, seperti kasus di awal, ketika dia membuatmu menjadi orang yang paling spesial, itu sebenarnya untuk kepentingan dirinya sendiri, ada yang ingin dia dapatkan darimu. Sebagaimana kamu yang sedang menspesialkan seseorang, karena kamu mengharapkan sesuatu darinya, deep down inside.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, perlakuan manisnya pun akan selesai. Lalu, dia pun mulai berubah. Mission accomplished.
You’ve seen such story in your life, haven’t you?
Being Special
Ini adalah sebuah musibah.
Ketika kita merasa paling spesial di antara manusia lainnya, maka kita akan menuntut untuk diperlakukan spesial juga, dan akhirnya membentuk kita menjadi orang yang menyebalkan.
Kekecewaan pun akan sering timbul, karena ekspektasi kita yang ingin diperlakukan spesial. Dalam masalah pengembangan diri, merasa spesial adalah sebuah kemunduran diri. Penilaian yang bias terhadap diri sendiri karena perlakuan spesial dari sekitar, membuat kita merasa puas terhadap diri sendiri.
Merasa spesial adalah keadaan di mana seseorang memilki kepercayaan diri yang berlebihan. And like anything else, semua yang berlebihan nggak akan berdampak baik
Merasa spesial adalah lawan dari perasaan rendah diri, lawan dari perasaan tahu diri. Dan, merasa spesial adalah perasaan yang adiktif. Kita akan ingin lagi, lagi, dan lagi.
Merasa spesial juga dekat dengan sifat narsistik, salah satu sifat yang cukup buruk, yang membawa musibah tersembunyi di baliknya. Orang-orang yang narsistik cenderung berasumsi atas bagaimana lingkungan sosial selalu menilai gerak-geriknya. Padahal, ya, nggak juga.
Narsistik juga bisa jadi salah satu pemicu timbulnya kecemasan sosial, karena merasa semua mata tertuju padanya. Jika melakukan kesalahan, dia merasa akan ada banyak yang menilainya. Hal-hal semacam itulah yang membuat dirinya semakin cemas.
Jadi, beruntunglah kita yang sudah ditempa dengan permasalahan hidup yang membuat kita bisa tahu diri. Dari sini, kita bisa mengakui kurangnya kita, bisa mengakui kelemahan kita, bisa mengakui kesalahan kita, sehingga kita nggak merasa dispesialkan dan akhirnya terus berusaha memperbaiki diri agar menjadi orang yang lebih baik.
Ketika kita bisa rida, bisa menerima diri kita dengan segala kekurangannya, dengan segala masalah yang kita bawa, dan nggak memedulikan penilaian manusia lain atas kita, selama kita nggak mengganggu norma yang berlaku dan aturan agama…
… that’s what makes you special.
Is Human Really That Bad?
Manusia memang terkesan sangat buruk dengan pandangan sebelumnya. Mereka melakukan sesuatu atas dasar untung-rugi. Tetapi, ya, itu kebenarannya. Coba kita tanya ke diri sendiri setiap melakukan sesuatu, dan jawab dengan sejujur-jujurnya, pasti ada motif untuk kepentingan pribadi. Pasti.
Cinta dan perhatian yang kita beri, uang yang kita habiskan, waktu, tenaga, serta perasaan yang kita dedikasikan, itu adalah sebuah investasi yang nggak pernah diungkapkan. Jadi, kita harus berhati-hati dalam memberi atau menerima. Ke mana, dari mana, ke siapa, dari siapa.
Investasi tak terungkap itu mungkin supaya kita tidak ditinggal sendirian, supaya kita selalu diperhatikan balik, supaya kita selalu terlihat baik di depan orang lain.
Nggak sepenuhnya salah. Cuma ada kunci agar kita meletakkan asas untung-rugi di tempat yang tepat agar kita, sebagai manusia, nggak terlihat buruk-buruk banget. Dan, supaya nggak mudah kecewa juga.
Yaitu, keikhlasan.
Itu adalah motif terbaik yang paling tinggi yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Karena balik lagi, pada dasarnya, manusia selalu ingin mendapat untung ketika melakukan sesuatu. Dan, itu manusiawi. Memangnya kita mau melakukan sesuatu yang membuat kita rugi? Nggak, kan? Manusia selalu ingin untung, kan?
Sayangnya, kita menempatkan objek di tempat yang salah ketika mengharapkan hasil. Balasan manusia, pujian manusia, limpahan harta, hal-hal duniawi yang tak bisa diprediksi, yang biasanya selalu berujung kecewa, yang pada akhirnya, selalu membuat kita merasa seperti, “Iya, ya, ngapain gue capek-capek gini?”
You’ve put your expectation wrong.
This universe is beyond that. This universe is more than just about your life in this world.
Lalu, gimana?
Kita tetap bisa melakukan sesuatu atas dasar untung-rugi, tetapi yang kita harapkan adalah balasan dari Allah. Inilah keikhlasan, yang membuat manusia bisa menjadi lebih mulia.
Kita nggak mengharapkan balasan dari orang yang kita bantu, kita nggak mengharapkan pujian dari manusia atas perbuatan baik yang kita lakukan, kita melakukan sesuatu dengan ikhlas. Ikhlas bukan berarti nggak mengharapkan balasan, tetapi mengharapkan balasan hanya dari Allah. Hanya dari Allah.
Realistically, it ain’t easy. Tetapi, ya, memang begitu ilmu keikhlasan. Berat. Karena kita terbiasa pada balasan-balasan instan dari manusia di sekitar kita. Tetapi, kita tetap harus memperjuangkannya agar hati lebih aman dari rasa kecewa.
Dan, ini adalah hal yang langka. Kita butuh membenahi hati dengan ilmu-ilmu yang bisa membersihkan hati. Dimulai dengan menuntut ilmu agama, dengan benar-benar mengenal Islam, mengenal iman, lalu mengenal ihsan. Dengan begitu, pelan-pelan kita akan paham arti keikhlasan, pelan-pelan kita paham bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya dan akan membalas semua perbuatan kita baik maupun buruk.
Dan, inilah manusia terbaik, manusia yang nggak melakukan sesuatu atas motif keuntungan pribadi secara langsung, manusia yang tahu ada balasan yang lebih menguntungkan nantinya, manusia yang paham akan makna investasi sesungguhnya sehingga jauh dari kata merugi. Manusia yang seperti ini bisa tetap tenang dalam melakukan kebaikan, nggak gengsi, nggak memikirkan pandangan orang, karena mereka tahu bukan itu tujuan akhirnya, bukan sekadar penilaian manusia.
Tapi, kita harus paham standar kebaikan yang benar, yang memang diridai oleh Allah. Jangan melakukan sesuatu yang kita pikir adalah kebaikan, padahal Allah tidak rida, padahal bukan begitu perintah-Nya. “Yang penting niatnya baik” aja nggak cukup. Kalau kita sudah paham mana yang benar-benar terhitung sebagai kebaikan, maka keyakinan kita akan bertambah ketika melakukannya.
Begitu pun dengan masalah percintaan dan pertemanan, carilah orang yang bisa ikhlas, yang melakukan kebaikan kepadamu karena motif yang lebih besar, yaitu mengharap balasan dari Allah, sehingga tidak mudah kecewa. Perlakuan baiknya tidak berhenti begitu aja, karena dia paham balasannya nanti akan lebih besar. Kamu dispesialkan karena Allah, tentunya sesuai perintah sehingga porsi spesialnya pun cukup, nggak berlebihan.
Dan, jadilah orang seperti ini, agar dipertemukan dengan orang yang semisal, karena lingkungan kita, orang-orang yang tertarik dengan kita adalah orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Kenapa kita bisa nyambung sama teman-teman kita? Karena kita sepaham, ada beberapa kesamaan.
Sebaliknya, kenapa nggak cocok? Karena berbeda, ada pemahaman atau sifat yang nggak bisa diterima dari satu sama lain, sehingga nggak cocok. Apabila ingin lingkungan yang baik, maka mulai dari memperbaiki dirimu, agar kita pantas diterima dalam lingkungan yang baik. Secara langsung, kita akan beradaptasi, menyeleksi mana yang pantas bersama kita, dan mana yang pantas untuk ditinggalkan.