Text
DIA adalah William Shakespeare.
Pria yang kita kenal sebagai pendobrak dunia seni, penulis cerita cinta yang melegenda. Yes, I’m talking about Romeo and Juliet.
Karyanya memicu banyak penulis lain untuk membuahkan cerita cinta serupa dengan harapan bisa menggiring banyak peminat dan menanamkan pemikiran bahwa cinta adalah segalanya.
That you should do everything for love.
Namun, ada kenyataan pahit pada kisah cinta pribadinya sendiri; dia meninggalkan istrinya setelah sepuluh tahun menikah.
Kalau kita melihat cerita Romeo and Juliet lebih dalam, dengan pikiran yang lebih terbuka dan waras, kita nggak akan melihat romansa yang sesungguhnya di sana. All we’re gonna see is… the fool in love.
Gimana nggak?
SPOILER ALERT!
Romeo mengira Juliet mati. Padahal, Juliet hanya menenggak obat tidur. Lalu, Romeo juga menenggak racun sehingga dia mati. Ketika Juliet bangun, dia melihat Romeo sudah mati. Lantas, Juliet memutuskan untuk bunuh diri dengan pisau belati milik Romeo. Mereka pun mati dengan alasan nggak sanggup melanjutkan hidup tanpa satu sama lain.
Secara logika, ini jelas bukan keputusan yang bijaksana.
Why?
Mereka telah dibutakan oleh cinta, sampai-sampai nggak bisa berpikir rasional.
Sayangnya, entah mengapa, orang-orang menganggap itu adalah aksi romantis. Sehidup semati. Rela berkorban demi cinta. Bersama selamanya. Dambaan semua orang.
But, the fact is… they were drowning in love that they couldn’t see things clearly anymore.
Dulu, gue pernah sangat bingung. “Kok, bisa, sih, orang-orang fokus pada keromantisan dari cerita ini?” Padahal, akhir dari cerita ini adalah tragisnya kehidupan seseorang yang dikuasai oleh cinta. Tetapi, setelah gue belajar soal perilaku manusia saat kuliah dulu, gue jadi paham betapa naifnya kita saat jatuh cinta. Kita nggak segan-segan menerobos berbagai kesalahan, dan nggak menyadarinya.
Kita sudah banyak mendengar definisi soal cinta. Ada yang mengatakan bahwa cinta itu soal pengorbanan. Ada juga yang bilang bahwa cinta itu masalah meletakkan prioritas. Ada juga yang bilang bahwa cinta itu soal memberikan kepercayaan.
Salah satu definisi yang gue lumayan suka dan mencakup semua hal di atas adalah love is giving someone the power to destroy you, but trusting them not to. Ketika kita menunjukkan vulnerability, meletakkan kebahagiaan, kesedihan, semangat, dan pengorbanan untuk sesuatu yang kita cintai, lalu memberi mereka kontrol penuh atas perasaan kita, that is scary.
Mungkin, kita terlalu sering terpapar oleh masalah cinta-cintaan. Cerita yang kita konsumsi, foto-foto pasangan di media sosial, hingga quotes tentang cinta. Itu semua memberi jawaban, gambaran, dan harapan palsu tentang apa yang benar-benar kita butuhkan di dunia. Jelaslah yang ditunjukkan adalah bagian baiknya aja sehingga seringnya kita lupa bahwa semua punya konsekuensi.
Sakit, kecewa, dan patah hati adalah konsekuensi dari cinta. Jadi, kita nggak bisa menjadikan cinta sebagai jawaban. Nggak bisa menjadikan cinta sebagai sebuah solusi kehidupan, apalagi sebagai tujuan akhir yang harus dicapai.
But, why? Kenapa kita bukan menjadi “diri kita” saat jatuh cinta? Kenapa kita seringnya bodoh dan nggak bisa berpikir lurus ketika sedang jatuh cinta?
Well, penjelasan singkatnya, yaitu ketika kita jatuh cinta, tubuh kita memproduksi beberapa hormon, seperti oksitosin, dopamin, norepinefrin, dan serotonin.
Pertama, oksitosin.
Oksitosin juga sering disebut cuddle hormone. Ketika kita berpelukan, tubuh kita bereaksi mengeluarkan hormon ini yang memberikan efek nyaman. Apabila kita sering berpelukan dengan seseorang, akan tercipta efek keterikatan dan kepercayaan.
Kedua, dopamin.
Sebagaimana cinta, dopamin juga bisa diaktivasi melalui konsumsi kokaina dan nikotin yang memberikan efek kenikmatan dan ketagihan.
Ketiga, norepinefrin.
Hormon ini mampu meningkatkan rangsangan dan kewaspadaan, sekaligus membuat jantungmu berdegup kencang.
Keempat, serotonin.
Hormon ini mengatur mood dan keinginan seksual, yang kadang membuat kita sedikit “gila”.
Jadi, ketika jatuh cinta, tubuh kita dengan segala usahanya berusaha menguasai diri kita. Oleh sebab itu, kita sering menerobos berbagai kesalahan demi mengejar cinta.
Lebih dari itu, banyak penelitian yang menyatakan bahwa cinta sama seperti drugs (cocaine or any powerful pain reliever, to be exact). Keduanya punya efek yang sama, seperti sebuah efek euforia sementara yang membuat kita merasa bahagia. Singkatnya, perasaan jatuh cinta dan kokaina sama-sama mengaktifkan suatu area di otak yang membuat kita merasa bahagia.
Rumusnya begini:
Intense love = Less pain
Dan, karena banyak dari kita yang merasa bahwa hidup adalah serangkaian kejadian yang menyakitkan, akhirnya kita memilih untuk mengurangi rasa sakit itu dengan mencari cinta. Well, di sinilah letak kesalahannya.
Sebagai “pengguna” atau “penikmat”, seringnya kita nggak sadar akan bahayanya, sama seperti hal menyenangkan lainnya. Cinta dan drugs, keduanya punya efek adiktif yang membuat kita ketagihan, dan banyak yang jadi ketergantungan. Bahkan, nggak sedikit yang sampai terobsesi. Pada akhirnya, cinta yang seperti itu punya akhir yang sama, sama-sama tragis.
Coba kita perhatikan. Semua “great love story” yang pernah kita tahu, justru mengandung kesedihan yang mendalam, tragis, dan menyesakkan. Kalau bisa, karakternya sampai dibikin mati supaya tambah nyesek. Sebut aja Titanic, The Fault in Our Stars, Me before You, dan masih banyak lagi.
Bukankah ini kisi-kisi ke mana cinta dalam hidup akan bermuara?
Perpisahan.
Still, we are craving for that. Kenapa? Karena cerita-cerita seperti itu memenuhi fantasi kita, ekspektasi kita, kegelisahan kita bahwa cinta adalah jawaban dari kegelisahan kita, bahwa cinta adalah penyelamat dari dunia yang berat ini, dan cinta adalah distraksi yang terlihat indah. Padahal, nggak begitu.
Bukan, gue bukan bermaksud untuk menghasut bahwa kita harus hidup tanpa cinta. We’re human after all, dan cinta adalah salah satu anugerah dalam hidup kita.
Hal yang ingin gue sampaikan, yaitu kita butuh menyadari bahwa cinta bukan segalanya, cinta bukanlah jawaban dari kegelisahan kita, cinta bukanlah penyelamat dari dunia yang berat ini, dan cinta jelas-jelas distraksi yang sementara. Kenapa? Karena cinta adalah bagian dari dunia, dan semua hal duniawi akan lenyap pada akhirnya.
Jadi, silakan bayangkan sendiri. Jika kita menggantungkan hidup pada cinta, maka bagaimana ketika ia sudah lenyap?
The Thing about Love Is…
Gue bukannya skeptis sama cinta. Menurut gue, cinta itu sebuah perasaan yang pasti dimiliki oleh manusia. Cuma balik lagi; semua yang berlebihan dan melewati batas akan berakhir buruk.
Bukan perasaan cinta yang salah, tapi kita.
Ketika kita mengedepankan dia dibanding diri kita. Ketika dia menjadi prioritas pertama dalam hidup kita. Ketika hari-hari kita dipenuhi oleh kekhawatiran akan dia. Ketika hari-hari kita hanya dipenuhi oleh pikiran tentang dia. Ketika kita takut banget kehilangan dan melakukan segala cara untuk menjaganya. Ketika kita merasa bahwa inilah tujuan hidup kita, inilah motivasi kita, that’s when love has ruined you in a way that you don’t see, that you thought it’s all beautiful.
Dan, di sinilah bagian terburuknya.
Banyak yang merasa ahli dalam dunia percintaan hanya karena pernah merasakannya. But the thing is… ketika kita pernah naik mobil, bukan berarti kita jadi ahli soal mobil.
Sama dengan cinta, pernah merasakannya bukan berarti kita jadi ahlinya.
Sedihnya, walaupun kita sering berinteraksi dengan perasaan cinta, kita nggak pernah benar-benar belajar soal cinta. Kita nyemplung begitu aja dengan harapan bisa sambil belajar di tengah jalan. Pada akhirnya, kita malah jadi lebih sering melukai, memanipulasi, hingga menjatuhkan orang-orang yang kita cintai.
Sadarkah kita, secara nggak langsung mengekang teman kita? Membuat teman kita merasa bersalah ketika dia menghabiskan waktu dengan temannya yang lain daripada dengan kita? Atau, sadarkah kita, sering kali mengecek-ngecek ponsel pasangan kita, terobsesi dengannya karena pikiran kita menciptakan asumsi dan menimbulkan ketakutan yang berlebih? Pernahkah kita menganggap rendah pencapaian adik atau anak kita yang dia banggakan di sekolah? Misal, “Ah, pelajaran agama, mah, gampang makanya dapet bagus. Matematika dong dapet 100.” Coba ingat-ingat lagi, seberapa sering kita melakukan semua itu?
Mungkin berawalnya dari hal-hal kecil kayak gitu, lalu pada akhirnya menjadi tindakan abusive, violence, saling menyakiti hingga menuntut, yang semuanya dibalut dengan kedok “cinta”. Hal ironis itu disebut unhealthy love/relationship.
Sebenarnya, kasus-kasus abusive pasangan-pasangan yang sering kita lihat di TV, itu semua nggak tiba-tiba. There’s a sign, there’s always a sign. Kadang, kita aja yang nggak aware.
Katie Hood, CEO dari One Love Foundation yang banyak mengatasi kekerasan dalam relationship memberitahukan beberapa tanda-tanda unhealthy love/relationship yang harus diperhatikan. Sebelumnya, perlu gue ingatkan, ini berlaku pada semua jenis hubungan: pertemanan, keluarga, dan pasangan.
1. Intensity
Seberapa intens kalian berinteraksi dengan pasangan? Bagaimana perasasan kalian terhadap intensitas tersebut? Misal, kalau sering, bagaimana perasaan kalian terhadap seringnya interaksi itu? Nyaman? Lelah? Atau terus merasa kurang?
Contoh:
Healthy : udah lama nggak ketemu, kangen gue.
Unhealthy: seharian nggak ada kabar, ke mana aja, sih? Gue nggak bisa diginiin.
Ketemu setiap hari, chat, telepon setiap saat, nggak sabar mendapat balasan pesan, bukanlah tanda hubungan yang baik.
Penting banget dalam hubungan kita bisa merasa nyaman akan kedekatan kita dengan pasangan. Jadi, selalu pertanyakan, apakah kita punya ruang dan waktu yang cukup untuk “bernapas”?
2. Isolation
Pasti kerasalah, ya, kejanggalan yang satu ini, ketika kita mulai merasa nggak bebas lagi, terkekang, dan nggak enak bahkan takut karena kita melakukan aktivitas tanpa orang itu.
Contoh:
Healthy: lo bisa menghabiskan waktu dengan orang lain tanpa merasa bersalah.
Unhealthy: lo merasa bersalah.
Ini cukup bahaya, sih. Apalagi, ketika kita mulai dibatasi dari teman-teman kita, keluarga kita, sampai aktivitas yang biasa kita lakukan. Kenapa? Karena itu semua adalah bagian dari support system kita. Ini kadang yang bikin kita kehilangan arah pasca-kehilangan, karena biasanya hidup kita hanya tentang orang itu.
Lo “dikurung” cuma boleh sama orang itu, yang membuat diri lo akhirnya bergantung sama dia. Too dependent. Padahal, independen adalah salah satu kunci untuk punya healthy relationship, karena pada akhirnya kita akan berpisah. Bisa bayangin, kan, kalau kita terlalu bergantung pada seseorang, akan sesulit apa kita melanjutkan hidup?
3. Extreme Jealousy
Cemburu itu sebenarnya wajar. Cemburu buta yang nggak wajar. Cemburu yang berangkat dari asumsi semata karena takut kehilangan.
Ada unsur posesif dan ketidakpercayaan tanpa sebab di sini. Extreme jealousy biasanya juga diikuti dengan ancaman, keputusasaan, dan kemarahan.
4. Peremehan
Ini adalah ketika kita mulai diremehkan di depan orang lain, dijadikan bahan candaan yang membuat kita sakit hati, ketika achievement kita nggak dihargai atau diremehkan secara langsung maupun nggak langsung. Perkataan-perkataan model, “Bisa apa, sih, lo tanpa gue?” atau “Ayo, jalan! Percuma lo belajar, bakal tetep dapet nilai jelek,” adalah yang biasa kita dapat saat berada di situasi ini.
5. Berlebihan dan Volatility
Berlebihan
Healthy: sedih, ya, kalau suatu saat kita nggak ketemu lagi.
Unhealthy: Gue kalau nggak ketemu dia lagi mungkin bisa depresi, bisa gila. Gue nggak punya siapa-siapa lagi, mending mati aja.
Sedangkan volatility adalah ketika terjadi perubahan-perubahan secara instan. Misal, pertengkaran besar yang diikuti dengan permohonan maaf, penyesalan, tetapi diulang kembali hingga akhirnya menjadi sebuah siklus yang rutin.
Coba sekarang cek ke dirimu atau lingkunganmu. Apakah kamu sedang berada dalam hubungan cinta yang tidak sehat?
Jika iya, coba komunikasikan bahwa hubunganmu dengan dia nggak sehat, biar bisa sama-sama menemukan jalan keluar. Latih kesabaran, saling respek, dan mulai cari sesuatu yang lebih berharga, entah itu hobi, teman-teman baru, meluangkan waktu lebih untuk keluarga, atau mulai pikirkan masa depanmu. Dan, selalu ingatkan dirimu bahwa semua ada akhirnya. Jadi, ya, biasa aja. Bukan itu tujuan hidupmu, ada yang lebih penting dari itu semua.
Banyak yang mengalami unhealthy atau toxic relationship sebenarnya, cuma nggak sadar aja. Orang yang terlalu mengagungkan cinta, pasti mengalami hubungan jenis ini. Orang yang mengedepankan cinta dalam hidupnya, otomatis mengedepankan orang yang dicintainya, dan akhirnya lupa sama dirinya sendiri. Sedangkan orang yang dicintainya akan terus bergantung dengannya, sehingga dia nggak tumbuh dan justru melemahkan hidupnya sendiri.
Orang yang melulu tentang cinta adalah orang yang putus asa untuk mendapat cinta dari orang lain, dan orang yang kayak gini nggak akan paham yang namanya batasan ketika berada dalam suatu hubungan.
“Kamu nggak boleh ke mana-mana. Sama aku aja, biar aku nggak cemburu.”
“Aku nggak kuliah, supaya bisa jalan sama kamu.”
“Aku begini karena kamu.”
Sampai-sampai, mereka berada pada tahap melempar tanggung jawab hidup dan menyalahkan apa yang terjadi dalam hidup mereka ke pasangan masing-masing.
Lebih parahnya adalah orang yang kayak gini biasanya punya tingkat insecurity yang tinggi. Beberapa dari mereka selalu butuh pembuktian bahwa mereka dicintai. Seringnya, pembuktian itu dilakukan dengan cara menantang untuk melakukan serangkaian hal yang dibenci pasangannya.
Misal, dia tiba-tiba ngambek nggak jelas, lalu melarang kamu main dengan teman-temanmu. Dengan begitu, dia akan mendapat jawaban dari serangkaian pertanyaan, “Apa aku masih akan dicintai walaupun ngeselin kayak gini? Apa aku lebih dicintai dari teman-temannya? Apa aku prioritasnya?”
Intinya, dia merasa harus menjadi center of the universe, paling minta dipahami.
Dan, biasanya, pada waktu yang akan datang, mereka akan saling menagih pengorbanan yang telah dibuat dulu, saling merasa harus terus mengorbankan waktu dan tenaga untuk satu sama lain, jadi “nggak enak-an”, dan akan terus terjatuh pada pola hubungan yang toxic begini. Ujung-ujungnya, mereka semakin ketergantungan satu sama lain.
Saran gue, mulai jaga jarak dengan orang yang kayak gitu, atau jangan jadi orang kayak gitu.
Bukannya malah menguatkan, cinta yang berlebihan malah melemahkanmu. Kalau memang cinta adalah jawaban dari semua kegelisahanmu, bukankah itu berarti kita semua sudah pernah merasakan cinta?
Coba lihat diri kita sekarang.
Hurt, lost, and still trying to find the answer.
Cinta adalah fitrah manusia, itu bukan perasaan yang buruk, perasaan wajar yang justru harus dimiliki semua orang. Cinta adalah karunia Sang Pencipta untuk manusia. Jadi, bukan perasaannya yang salah, tapi kita.
Ketika kamu merasa hidupmu hampa tanpa dia, ketika kamu merasa nggak punya tujuan hidup tanpa dia, ketika nggak ada lagi alasan hidup kecuali dia, ketika kamu dikecewakan lagi dengan manusia dan apa-apa yang ada di dunia ini, itu semua adalah dampak dari kesalahanmu; kesalahan kita.
Kita terlalu mengejar cinta manusia, terlalu mengharapkan cinta manusia. Jelaslah akhirnya selalu sama: hurt, lost, and still trying to find the answer.
Oke, kita memang butuh cinta manusia. Tetapi, kita tetap butuh batasan dan aturan dengan kadar yang tepat. Dan, healthy relationship adalah hubungan yang punya batasan, aturan jelas, juga alasan yang tepat. Namun, batasan nggak sembarang batasan. Aturan nggak bisa sembarang aturan. Alasan haruslah alasan yang berdasar.
Karena, kalau membuat aturan berdasarkan keinginan pribadi, akan timbul banyak perbedaan antarpihak. Kalau membuat batasan berdasarkan keinginan pribadi, juga akan banyak yang mudah dilanggar. Dan, kalau alasanmu menjalani hubungan itu dangkal, hanya menunggu waktu untuk kecewa.
Kita harus punya standar baku mengenai aturan, batasan, dan alasan bertahan dalam sebuah hubungan. Standar baku yang akan adil bagi kedua bela pihak. Itulah kenapa satu visi dan misi penting dalam sebuah hubungan.
Gue bisa aja menyarankan untuk menggunakan standar hubungan sehat yang diteorikan oleh si A atau si B. Tetapi, masalahnya, penemu teori tersebut juga hanya manusia yang terbatas, yang mungkin punya pandangan subjektif tentang hal ini.
Kalau kita punya laptop, lalu laptop itu rusak, ke mana kita akan lebih percaya untuk memperbaikinya? Servis resmi dari produsen atau servis yang ada aja? Bukan masalah mana yang lebih mudah atau murah, ya. Apa yang gue tanyakan adalah masalah kepercayaan. Misal keduanya gratis, mana yang lebih kita percaya? Tentu, kita lebih percaya untuk diperbaiki oleh produsennya langsung. Sang produsen punya standar baku yang lebih jelas karena dia yang membuat.
Maka, sama halnya dengan kehidupan. Bukankah kita harusnya lebih percaya standar baku yang diciptakan oleh Tuhan yang menciptakan kita?
So, the answer would be…
Kalau kita ingin mencintai seseorang dengan tepat, kembalilah ke standar baku yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang menciptakan kita.
Apa standar baku dalam mencintai seorang manusia?
Mencintainya karena Allah.
Dengan begini, kita nggak akan berlebihan. Setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang yang kita cintai, yang kita harapkan sekarang adalah balasan dari Allah, bukan sekadar balasan dari seorang manusia yang terbatas.
Dengan kita mencintai Allah, kita nggak akan hancur ketika kehilangan cinta di dunia ini, karena kita masih punya cinta yang lebih besar. Dan untuk bisa mencintai Allah lebih lagi, kita benar-benar harus mengenal-Nya, kita perlu mempelajari sifat-sifat-Nya, dan mengerti janji-janji-Nya. Ending-nya, kita jadi bisa menaruh harapan di tempat yang benar, mengharapkan balasan yang lebih besar, nggak mudah kecewa, nggak ada saling menuntut yang berlebih di dalamnya, dan kita pun bisa memberi dengan tulus dan ikhlas.
Karena kita…
menanti balasan yang lebih besar daripada dunia ini, dari Tuhan Pencipta Alam Semesta.
A healthy relationship strengthens you, but the unhealthy one weakens you.