Text
Sejak kecil, kita sudah dituntut untuk jadi sempurna.
Okelah, mungkin, nggak segamblang itu.
Tapi, mungkin, kita dituntut untuk selalu bertingkah laku baik. Kita dilarang untuk menangis. Kita dipaksa untuk menyampingkan rasa penasaran kita agar nggak berulah. Kita dibanding-bandingkan dengan anak lain. Dan, kita diberi banyak tuntutan untuk jadi ini-untuk jadi itu.
Intinya, semua itu mengarahkan kita untuk menjadi sempurna.
And it works….
Dari situ, kita mulai punya keinginan. Kita memupuk harapan.
Berharap bisa membanggakan orangtua, berharap bisa diterima society, berharap bisa mudah mendapatkan ini-itu.
Kita juga berharap untuk menjadi sempurna.
Dari kecil, kita sudah mempersiapkan dewasa kita.
Well…, bagus, dong?
Tapi, apakah itu benar sebuah solusi?
Mungkin, kita berusaha pulang dari sekolah dengan nilai terbaik, tetapi ternyata respons orangtua biasa aja. Nggak ada kebanggaan di mata mereka, karena kita “belum berhasil”. Belum punya “hasil”. Belum jadi “sesuatu” seperti yang mereka mau.
Mungkin, kita berusaha untuk menjadi anak baik-baik, nggak macem-macem. Tapi, respons mereka biasa aja.
Mungkin, kita berusaha untuk menyampingkan keinginan kita demi mereka. Tapi, lagi-lagi, mereka belum puas.
Then, we grow up. The reality hits us hard.
Kita mulai sadar, ini semua nggak semudah itu. Usaha aja kadang nggak cukup, keinginan kuat apalagi. Ada beberapa hal yang memang doesn’t meant to be that way.
So, we give up. We hit our lowest point of our lives.
Where It All Begins….
Pernah, nggak, wondering kayak…
Kok, orang-orang lain bisa optimis dan percaya diri, ya?
Kok, gue cenderung menutup diri?
Kok, gue nggak berani eksplor ini-itu?
Kok, gue nggak bisa mengekspresikan emosi gue dan takut sama relationship?
Kok, gue sering ngerasa, “I’m not worth it“?
Kok, gue terlalu gampang nyerah, ya?
Itu semua bermula dari… the way our parents treated us when we were kids.
Pola asuh orangtua terhadap kita berpengaruh besar terhadap diri kita hari ini.
Seseorang yang punya penilaian diri yang baik, besar kemungkinan, karena dia dibesarkan dengan pola asuh yang tepat: orangtuanya mendengarnya, menyayanginya secara utuh, emosinya diterima. Mereka jadi punya rasa percaya diri yang besar akan masa depannya, karena mereka percaya bahwa “dunia” ini akan memperlakukan mereka dengan baik, mereka nggak takut untuk berharap atau bermimpi.
Sedangkan seseorang yang mudah menutup diri, banyak takutnya, nggak bisa mengekspresikan emosinya, bahkan merasa nggak cukup bagi dirinya sendiri, besar kemungkinan karena dibesarkan dengan pola asuh yang nggak konsisten, pendapatnya jarang didengar, dan emosinya dianggap nggak penting.
Kita, sebagai manusia, membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah hubungan dengan makhluk lain, membutuhkan ikatan emosional dengan orang lain.
Dan, orangtua adalah hubungan pertama kita. Hubungan pertama yang seharusnya berhasil. Ikatan emosional pertama yang berhasil, supaya kita punya self-esteem yang baik.
Orangtua yang seharusnya menjadi orang-orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat, sehingga kita bisa mempunyai perasaan dicintai yang cukup, dan menjadi manusia yang juga mudah mencintai diri sendiri.
Orangtua yang seharusnya nggak memberikan syarat, “Kamu jadi baik dulu, baru saya berikan kasih sayang saya.”
Orangtua yang seharusnya menjadi orang-orang pertama yang memvalidasi emosi terdalam kita, mendengarkan kita, bukannya malah langsung menyalahkan. Dengan begitu, kita nggak menjadi manusia yang kacau mentalnya.
Gue bisa aja terus melanjutkan daftar kesalahan orangtua, tapi, ya, buat apa?
Karena ini bukan tentang menyalahkan orangtua. Ini tentang kita memperbaiki luka masa kecil.
Lagian, menyalahkan orangtua bukan solusi. In fact, itu nggak akan mengubah apa pun, yang ada hanya menambah kemarahan, keputusasaan, dan penyesalan.
Apa yang perlu kita tanyakan adalah…
Apakah menjadi orangtua yang seperti itu yang mereka mau?
Apakah orangtua kita memang berniat menjadikan kita pribadi dengan self-esteem yang rendah dan membenci diri sendiri?
Atau, mungkin, ini hanya soal “salah cara” orangtua? Mereka menginginkan yang terbaik bagi kita, tapi nggak tahu cara yang tepat bagaimana.
The thing is, a perfect parent doesn’t exist.
Nggak ada orangtua yang sempurna, karena mereka juga manusia.
Nggak ada panduan saklek tentang bagaimana parenting yang baik, karena setiap situasi dan kondisi yang berbeda butuh penanganan yang berbeda juga.
Jadi, untuk orangtua dalam mengasuh anaknya, semua adalah pengalaman pertama mereka. Pertama kali punya anak, pertama kali punya anak kedua, pertama kali punya anak ketiga, dan seterusnya. Belum lagi ditambah faktor lain. Misal, pertama kali punya anak kedua dalam kondisi finansial yang sulit di era milenial. See? It’s not that easy.
“Tapi, sebagai orangtua, mereka harusnya belajar, dong, punya kestabilan finansial biar anak-anaknya nggak kayak gini.“
Trust me, despite all the parenting books that exist, bad things happen.
Nggak semua hal ada persiapannya, nggak semua hal ada instruksinya, apalagi kalau ngomongin musibah di masa depan, siapa yang tahu?
Dan, cukup, deh, menyalahkan faktor eksternal atas apa yang menimpa diri kita, karena nggak akan ada perubahan baik dari situ.
Jadi, di sini, gue lebih mengajak untuk mulai dari diri sendiri. Mari mulai untuk saling mengalah, mari mulai untuk saling memahami, mari mulai untuk mencari jalan keluar.
Parenting effect.
Sebenarnya, sangat rumit kalau kita membahas masalah hubungan orangtua dengan anak, seperti yang gue jabarkan sebelumnya.
Panjang dampaknya, nggak cuma akan memengaruhi relationship yang lainnya sampai kita dewasa, tapi juga memengaruhi hampir semua aspek dalam hidup kita ke depannya.
Dan, yang nggak kalah penting, berpengaruh terhadap self-esteem kita.
Gambarannya begini…
“Kalau orangtua gue aja nggak menerima gue, nggak peduli sama gue, nggak sayang sama gue, gimana dengan orang lain?”
“Mungkin, emang gue nggak pantas mendapat cinta, nggak pantas mendapat yang baik-baik.”
“Gue patut dibenci.”
So, what is self-esteem exactly? Apa pentingnya dalam hidup kita? Seberapa pengaruh self-esteem dalam kehidupan kita sehari-hari?
Supaya ilmiah, gue akan mengutip dari hasil penelitian-penelitian yang sudah ada.
Nah, kalau secara definisi, menurut The Center for Parenting Education, self-esteem itu tingkatan di mana seseorang memiliki nilai dan kepercayaan bahwa dia berharga. Nggak cuma bagi dia pribadi, tapi juga bagi dunia ini.
Nggak cuma itu, self-esteem juga menentukan bagaimana seseorang mau terus berusaha melewati tantangan dalam hidup, dan bagaimana mereka memandang kegagalan (Greenberg et al, 1992).
Dan, orang dengan self-esteem yang rendah punya korelasi kuat dengan depresi, hilangnya kepuasan hidup, bahkan timbul keinginan untuk bunuh diri (Jordan et al, 2013; Wilburn & Smith, 2005).
Sedangkan self-esteem yang sehat adalah kemampuan kita untuk mengenali diri sendiri secara tepat dan tetap bisa menerima siapa kita sebenarnya (The University of Texas, 2013; Wilburn & Smith, 2005).
Orang-orang dengan self-esteem yang rendah, hanya bisa fokus pada apa yang sedang terjadi sekarang untuk menentukan “harga dirinya”. Mereka nggak melihat bahwa ini (hal buruk) hanyalah satu kejadian khusus yang mungkin sifatnya temporer, nggak memberi arti sesungguhnya pada diri kita (The University of Texas, 2013).
Ngapain, sih, kok, jadi bahas self-esteem?
Karena ini salah satu dampak panjang dari salahnya pengasuhan orangtua terhadap anaknya. Sepanjang anak itu hidup, dia akan struggle dengan masalah ini.
Kebencian yang nggak jelas sumbernya, alasan-alasan kenapa kita nggak bisa memaafkan dan masalah setipe lainnya, itu karena dampak yang kita dapat dari pola asuh yang salah. Kasarnya, ya, the famous terms of blaming others: “gue begini karena orangtua gue.”
Dan, nggak ada yang mau seperti itu. Kita semua ingin punya self-esteem yang baik.
Karena orang-orang yang memiliki self-esteem yang baik, mempunyai kemampuan untuk berpegang teguh pada nilai yang mereka miliki.
Mereka bisa merasa bahwa diri mereka penting dan mudah mencoba hal baru.
Mereka gigih dalam mencapai tujuan dan bisa mengakui ketika melakukan kesalahan.
Kita pasti maunya kayak gitu.
And, the truth is, self-esteem ini sendiri berkembang dari waktu ke waktu. Pengalaman dan orangtua mempunyai peran besar dalam memengaruhi perkembangan identitas diri yang sehat dan peningkatan self-esteem.
Makanya, pas umur-umur SD, tuh, ketika kita mulai membandingkan diri kita dengan anak lain, kita bisa tetap merasa berharga, kita merasa bahwa kita juga matter. Kasarnya, kayak, nggak minder, nggak malu sama diri sendiri, nggak merasa “berbeda”.
Dan, ini akan membantu bagaimana kita berinteraksi, dan kehidupan sosial kita pun pada akhirnya dipengaruhi dari hal-hal yang mungkin kita anggap sepele ini.
Ketika kita menginjak masa puber, perubahan-perubahan fisik mulai terjadi, dan kita tetap bisa menerima diri ini. Penerimaan diri yang nggak cuma sampai pada taraf fisik, nggak cuma berdasarkan penilaian-penilaian orang banyak, nggak cuma dari yang tampak saja.
Lebih dewasa lagi, dengan self-esteem yang baik, kita jadi bisa menentukan arah; ke mana arah hidup yang akan kita ambil. Kita lebih punya kepercayaan diri untuk mengambil keputusan, nggak penuh dengan kekhawatiran. Di sini, kita mulai sadar bahwa ada prioritas. Mana yang lebih penting dan mana yang nggak. Untuk menentukannya, kita butuh standar. Suatu standar yang sehat, yang mengutamakan keselamatan diri, bukan yang merusak diri demi orang lain. Dan, nggak ada standar terbaik bagi keselamatan diri selain standar agama, bukan sekadar “sElaMa GuE Sen4n9 dAn T1daK M3rugIKAn Or9 La1n”.
Nah, sekarang, masuk ke pertanyaannya, parenting style seperti apa yang terbaik, yang seharusnya kita terima sebagai seorang anak? Dan, sebagai seorang anak, kenapa kita butuh tahu sesuatu yang seharusnya diketahui orangtua kita?
Karena kita harus paham agar bisa menerima luka masa kecil.
Kita kesulitan menerima ketika nggak tahu suatu alasan di baliknya.
Seperti ketika kita sudah antre lama, lalu ada orang lain yang tiba-tiba menyerobot antrean. Ada rasa nggak terima yang muncul dalam diri kita. Tapi, setelah tahu alasannya, misal, orang itu buru-buru karena bayinya ditinggal sendiri di rumah, mungkin, kita jadi bisa sedikit memaklumi.
Atau, seperti ketika kita gagal dalam suatu hal, kita merasa nggak terima. Tetapi, kalau kita sudah tahu hikmahnya, kita lebih bisa menerima kegagalan itu.
Jadi, memahami alasan di balik sesuatu bisa menjadi salah satu cara kita untuk mulai menerima.
Begitu pun masalah-masalah trauma pada masa kecil.
Dengan tahu masalah parenting, mungkin kita jadi bisa paham.
Paham bahwa orangtua kita juga kesulitan, tapi mereka juga sudah berusaha.
Atau, ini mungkin masalah teknis. Mereka nggak bermaksud menyakiti kita, hanya caranya yang kurang tepat.
Jadi, mari kita coba pahami sedikit masalah parenting.
Mungkin, ini bisa sedikit membantu. Atau, paling nggak, nanti ketika kita menjadi orangtua, kita nggak mengulangi kesalahan yang sama.
Mari kita mulai.
Diana Baumrind, seorang peneliti yang fokus pada klasifikasi pola asuh, menemukan bahwa, basically, ada empat elemen yang bisa membentuk keberhasilan pola asuh: responsive vs non-responsive dan demanding vs undemanding.
Responsive: orangtua merespons kebutuhan anak dengan cara suportif.
Non-responsive: orangtua nggak merespons kebutuhan anak dengan cara suportif.
Demanding: orangtua menetapkan aturan-aturan untuk anak.
Undemanding: orangtua nggak menetapkan aturan-aturan untuk anak.
Secara gamblangnya, gue bikin tabel yang melahirkan empat klasifikasi pola asuh orangtua yang biasa digunakan para psikolog.
Sebenarnya, masih ada beberapa teori yang lebih rinci, membagi parenting style bahkan sampai 11. Tapi, kita fokus sama 4 ini aja dulu:
Parenting style | ||
Demanding | Undemanding | |
Responsive | Authoritative | Permissive |
Unresponsive | Authoritarian | Uninvolved |
1. Authoritative (Demanding x Responsive)
Hangat tapi tegas.
Kurang lebih kayak gitulah ciri orangtua yang punya metode pola asuh authoritative.
Mereka punya demand atau tuntutan yang tinggi, tapi dibarengi respons yang tinggi pula.
Pola asuh seperti ini punya aturan yang jelas: mana boleh, mana nggak, mana baik, mana buruk, yang diharapkan akan diikuti oleh anak-anak mereka, tetapi mereka juga mendengar dan mempertimbangkan “suara” si anak.
Ketika mereka memiliki aturan dan anaknya mengikuti, maka ada respons yang diberikan berupa reward, entah dalam bentuk apa pun itu. Sebaliknya, ada juga konsekuensi yang mengikuti, anak nggak dibiarkan begitu aja.
Pola asuh model ini dipercaya membuat anak bisa merasa aman, bisa mudah menerima, mandiri, bertanggung jawab, dan tentunya mereka jadi memiliki self-esteem yang baik.
2. Authoritarian Parenting (Demanding x Unresponsive)
Orangtua dengan parenting style model ini punya tuntutan yang tinggi, tapi feedback-nya hampir nggak ada. Mereka ingin anak patuh tanpa mempertanyakan ini-itu.
“Kamu harus nurut karena Papa-Mama bilang begitu.”
Ya, akan ada banyak kalimat sejenis itu dalam pola asuh ini. Nggak ada ruang fleksibel, semua black and white, harus nurut tanpa ada diskusi.
Respons yang akan dimunculkan dari anak-anak dengan parenting style model ini juga bermacam-macam.
Ada anak yang akan terus-menerus merasa harus meraih kesempurnaan, tapi merasa dirinya nggak pernah mampu, dan merasa nggak berharga ketika nggak bisa memenuhi ekspektasi orangtua.
Ada yang pada akhirnya membentuk anak menjadi pasif dan nggak berani stand up for himself/herself. Atau, bisa juga ke arah yang negatif, jadi pembangkang, misalnya.
Tapi, ada good side effect-nya juga. Dalam pertumbuhannya, anak bisa saja tumbuh menjadi pribadi yang dapat diandalkan, nggak manja, eksploratif, dan pandai mengontrol diri.
3. Uninvolved Parenting (Undemanding x Unresponsive)
Ini tipe orangtua yang nggak banyak hadir dalam kehidupan si anak, dan biasanya karena mereka punya masalah sendiri, sehingga kadang anak perlu taking care of themselves, bahkan membentuk aturan dan batasan untuk dirinya sendiri.
As a result, anak dengan pola asuh seperti ini biasanya sulit membentuk hubungan yang dekat. Biasanya, mereka punya sifat getir dan susah ramah. Hal itu berangkat dari perasaan loneliness dan merasa dirinya nggak berharga. Mereka sulit memberi identitas kepada diri sendiri, sering merasa nggak relevan, feels like they’re “lost”, karena nggak ada kehadiran role model yang bisa mengajari dan membimbing nilai-nilai dari kecil.
Anak-anak dengan model pola asuh seperti ini biasanya, pada akhirnya, mencari tempat yang bisa menerima mereka. Kadang, mereka berakhir di kelompok-kelompok yang nggak benar, kayak geng, kekerasan, bullying, dan nggak jauh dari obat-obatan. Itu karena biasanya mereka mencari orang-orang dengan nasib yang sama, sehingga mereka merasa diterima. Dan, karena nggak punya sense of belonging yang tinggi, banyak yang pada akhirnya melenceng.
Tapi, itu nggak selalu, ya. Faktor lain tetap ada. Kita tetap punya pilihan untuk berakhir baik.
4. Permissive Parenting (Undemanding x Responsive)
Ini tipe orangtua yang terlalu cinta dengan anaknya, sampai-sampai “buta”.
Biasanya, mereka memberikan semua yang si anak mau: hadiah, boleh ini-boleh itu. Pokoknya, yang membuat si anak senang, nggak peduli dampak akhirnya bagi si anak.
Dan, nggak ada aturan bagi anak, karena biasanya orangtua model begini sulit bilang “nggak” pada anaknya. Mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan anak.
Mereka juga seringnya membantu si anak secara berlebihan. Pokoknya, semua orangtua yang benerin, orangtua yang mengurus, karena mereka nggak tega melihat anaknya struggling.
Anak yang diasuh dengan pola asuh model ini, biasanya nggak ada inisiatif dalam hidupnya karena terbiasa “disuapin”.
“Ngapain ngelakuin sesuatu, toh, nanti juga diselesaikan orangtuaku.”
Agak ngeselin, ya, hahaha. Dan, karena selalu mendapatkan constant catering, anak-anak ini melihat orang dewasa sebagai tempat untuk mendapatkan kenyamanan dan keuntungan. Mereka jadi nggak peduli dengan hak-hak orang lain, dan nggak ada sense of boundaries. Ini lawan dari Authoritative Parenting, biasanya anak jadi nggak bisa diandalkan, manja, dan sulit mengontrol diri.
Terus, kalau ditanya, mana yang terbaik?
The thing is, despite all of those theories, kita tetap nggak bisa menentukan mana yang terbaik, karena pengaplikasiannya nggak semudah teori. Situasi yang berbeda akan menuntut orangtua untuk terus bereksperimen mencari posisi mana yang tepat.
Bahkan, ya, level of demanding dan responsive itu sangat beragam. Bisa tinggi, bisa rendah, bisa sedang, dan itu pun masih tergantung dari kacamata mana kita melihat. Budaya memengaruhi, pengalaman orangtua memengaruhi, dan pemahaman agama juga akan sangat memengaruhi.
Memaksa anak untuk melaksanakan ibadah bisa terlihat terlalu demanding dalam satu budaya dan kepercayaan, tapi nggak dalam budaya dan kepercayaan lainnya. Jadi, ini benar-benar tergantung dari value yang dipegang, mana yang terbaik untuk si anak.
Dan, ada faktor yang memang nggak bisa kita kontrol, seperti sifat bawaan si anak atau takdir, misalnya, hingga perubahan-perubahan perilaku anak karena pengaruh lingkungan pertemanan yang di luar kendali orangtua.
Jadi, nggak semudah itu, sih, untuk men-judge orangtua yang baik itu seperti apa, yang buruk itu seperti apa.
Dan, tujuan gue menjabarkan ini adalah biar kita sama-sama paham, apa, sih, yang salah? Juga, mulai aware dengan apa, sih, sebenarnya kebutuhan kita? Apa, sih, yang hilang dari masa kecil kita? Dari situ, kita bisa mulai berjalan ke arah menerima.
The key is…
Understanding our childhood.
Sadar nggak, sih, semua pelajaran dan kejadian yang kita dapatkan saat masih kecil, itu sifatnya memahami apa-apa yang ada di luar kita agar nggak timbul kekacauan karena kita, agar kita bisa mandiri dan nggak menyusahkan orang lain, agar kita bisa merawat dan memberi manfaat untuk lingkungan di sekeliling kita.
Tapi, kita lupa tentang memahami diri sendiri. Maka, bagaimana dengan diri kita?
Bagaimana cara memproses emosi yang timbul dari dalam diri? Bagaimana cara menyaring kritikan dan bereaksi terhadapnya? Bagaimana cara untuk mencintai diri kita sendiri?
Masa kecil memegang pengaruh besar pada kehidupan dewasa kita. Banyak sekali pemahaman yang terus menempel di otak hingga kita dewasa.
Masa kecil adalah waktu di mana kita melakukan pembentukan, karakteristik apa yang kita bentuk, respons-respons apa yang kita keluarkan, dan basically, akan jadi orang seperti apa kita nantinya.
Pada masa ini, kita mulai mengenal hubungan, kita mulai mengenal interaksi, dan kita mulai belajar mengenai sebab-akibat, hingga bagaimana ketergantungan kita dengan orang lain dalam sebuah hubungan nantinya.
Bahkan, pada masa ini, kita juga belajar seberapa pantas diri ini untuk merasa bahagia, yang nantinya akan berpengaruh pada kita yang dewasa. Sebagian dari kita yang mungkin dihantui rasa takut ketika mengalami momen positif, merasa nggak nyaman ketika kita dipuji atau mencoba memuji, it all starts here.
Pada masa ini, kita mencari role model, yang kebanyakan adalah orangtua kita sendiri. Sayangnya, sebagian orangtua menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap kesehatan mental kita.
They do care, cuma kebanyakan orangtua mengira, memenuhi kebutuhan fisik saja sudah cukup. Makan kita, kebersihan kita, dan kenyamanan kita, those are very important, too, dan gue nggak menyalahkan orangtua di sini, karena kalau jadi orangtua pun, kita mungkin akan kewalahan dan belum tentu lebih baik dari mereka.
Kita, kita yang merasa this is not enough, karena mungkin dari kecil, kita sudah sangat diagungkan, semua yang kita inginkan bisa dipenuhi, bahkan kadang belum kita minta pun sudah tersedia. Lalu, kita beranjak dewasa, semua privilege itu hilang, dan kita merasa nggak sepantasnya diperlakukan seperti itu.
Belum lagi kalau kita punya saudara, atensi orangtua biasanya jadi terpecah, akan lebih banyak teralih kepada saudara kita yang lebih kecil. Dan, banyak dari kita yang nggak bisa menerima itu, membuat ini jadi sebuah masalah.
Setelah merasa role model kita nggak sesuai dengan yang diinginkan, kita mencari role model lain yang menurut kita lebih keren sebatas pengetahuan kita. Sayangnya, itu bisa mengarah pada kehancuran pribadi. Mungkin, ada dari kita yang menjadikan artis atau public figure yang buruk menjadi seorang role model, yang memicu kesalahan pola pikir mana yang benar-mana yang salah.
Masa kecil adalah masa ketika kita merasa bahwa diri ini nggak worth it. Ya mungkin nggak secara gamblang, sih, tapi kita merasakan itu karena perlakuan orangtua dan orang sekitar. Mungkin dari cerita-cerita kita yang nggak didengar serius, orangtua yang lebih mementingkan hal lain daripada kita, opini kita yang diremehkan, dan ketakutan terbesar kita yang dianggap hanya sebagai lelucon bagi orang-orang dewasa.
Sekali lagi, gue nggak menyalahkan karena memang mereka sudah dewasa, dan mereka jelas punya masalah yang lebih besar untuk diurusi sehingga mungkin, mereka nggak punya waktu dan atensi yang banyak untuk diberikan kepada kita.
Dan…
Masa kecil adalah masa ketika kita merasa sudah melakukan semua yang terbaik yang kita bisa, tetapi nggak mendapat penghargaan apa pun. Bahkan, kita terus dituntut untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal.
Masa kecil adalah masa ketika idealisme kita pelan-pelan diruntuhkan oleh realitas yang terjadi, pandangan kita terhadap diri sendiri, terhadap hubungan dengan orang lain, dan terhadap dunia ini.
Dan, distorsi yang dihasilkan dari situ pun, akhirnya sedikit demi sedikit memengaruhi perilaku dan sifat kita. Kita jadi berbohong atas apa yang kita suka dan nggak suka, hanya demi diterima oleh sekitar kita,
bahwa kesuksesan bisa menimbulkan permusuhan dari orang-orang di sekitar kita;
bahwa kita harus selalu menjadi lucu,
menyenangkan, dan patuh agar menjadi orang yang diterima,
sehingga kita menekan emosi-emosi negatif yang kita punya, yang suatu saat bisa menumpuk dan menjadi sebuah gangguan-gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
Dan, masa kecil semua orang… is complicated.
Orangtua adalah tempat di mana kita menaruh kepercayaan kita, sekaligus tempat kecewa pertama kita, dan hal itu pun memengaruhi hubungan kita dengan orang lain nantinya.
But you need to know, too, bahwa mereka juga adalah produksi dari orangtua mereka yang juga nggak sempurna, mereka juga korban kayak kita, dan mereka melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Kita perlu tahu bahwa orangtua juga hanyalah manusia. Mereka bukan standar kebenaran sehingga penilaian dan perlakuan mereka terhadap kita bisa salah, but they’re trying their best.
Kita perlu tahu bahwa nggak akan ada yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan mereka sejak kita kecil.
Mereka sabar memberi kita makan, membersihkan kotoran kita, mengorbankan istirahat mereka dan lain sebagainya. Sekarang, saatnya kita yang bersabar mengurus mereka.
Dan, kita harus menerima, harus memahami semua ini, memahami bahwa masa kecil kita hanyalah sebagian dari hidup kita. Kita masih punya kendali akan jadi orang seperti apa kita esok hari. Sudah banyak bukti orang dengan masa kecil yang hancur, tetapi tetap bisa positif, justru bisa menjadikan masa kecilnya sebagai pelajaran dan nggak terus berkutat di masa lalu. Mereka bisa maju, membentuk masa depan, menjadi orang terbaik walaupun masa kecilnya buruk.
Jelas, it’s not easy. Ini baru awal.
Tapi, dengan memahami masa kecil kita yang nggak sempurna, kita jadi berharap bisa menerima itu. Dan, dengan menerima, kita jadi bisa let go dan mengurus hal yang lain yang lebih penting di masa depan.
Layaknya hal lain, masa kecil juga sebuah masa lalu, yang kalau kita bisa memahami dan menerimanya, maka kita nggak akan menjadikannya sebagai masalah yang besar. Mungkin, dengan memahami orangtua kita yang juga bisa salah, kita jadi bisa lebih mudah memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
Dan, ayolah, kita juga sebagai anak nggak sempurna, kita banyak menyusahkan mereka. Jadi, kita juga harus selalu minta maaf dan terus menyayangi dan menghormati mereka. They did the best they can, so you need to do your best you can.
Oke, mungkin, banyak dari kita yang orangtuanya lebih parah daripada orangtua pada umumnya. Banyak dari kita yang memiliki kondisi di mana orangtua kita sering cekcok. Ada masalah juga pertikaian yang dihadapi, dan mereka sibuk dengan itu sampai timbul kesenjangan sehingga akhirnya mengabaikan kita sebagai anak.
Atau, lebih parah, orangtua yang abusive, biasa main tangan sejak kita kecil. I’m not on their side, jelas mereka salah. Trust me, gue juga berpikir nggak pantes yang kayak gitu jadi orangtua.
Dan, ini tentunya menimbulkan luka yang lebih dalam bagi sebagian orang.
And, I know… I KNOW how difficult that is. But, we have to. Minimal kita selalu berusaha untuk bisa mencari jalan tengah, menoleransi, berusaha untuk mencari their goodness, even if it’s hard. At least we try. Because that’s what the good people do. Jangan malah jadi jahat seperti mereka.
But, this is for our sake, not only for them, karena akan tetap percuma kalau kita terus-terusan fokus pada kesalahan mereka seumur hidup kita, tanpa mulai fokus ke diri ini. Bayangkan unresolved problems yang hampir menyita seluruh kehidupan kita. Don’t live this life hating our parents.
Mungkin, ini bisa menjadi revelation bagi kita bahwa nggak ada kasih sayang manusia yang sempurna. Nggak ada pemberian manusia yang sempurna. Nggak ada cinta dari manusia yang sempurna.
Maka, sudah saatnya kita mencari kasih sayang yang sempurna, pembalasan yang sempurna, cinta yang sempurna, dan kita akan menemukannya kalau belajar berharap hanya kepada Allah.
Kembalinya kita kepada Allah adalah cara paling ampuh untuk mengubah diri menjadi lebih baik, berpindah dari yang buruk ke yang baik. Karena dengan begitu, kita memiliki tujuan yang baru. Kita bisa mengubah pola pikir kita yang rusak menjadi lebih baik karena ilmu-ilmu dan kepatuhan kita yang berdampak pada pola pikir dan perilaku kita.
Ketika kita memilih patuh kepada Allah, berarti kita juga memilih patuh kepada hukum-hukumnya. Kita akan memiliki tujuan yang lebih besar dari dunia sehingga kita bisa mengabaikan hal-hal duniawi, termasuk kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang-orang kepada kita, termasuk masa lalu kita yang buruk, dan…
termasuk perintah Allah untuk kita agar tetap patuh kepada kedua orangtua selama itu bukan suruhan untuk bermaksiat.
Dan, banyak sekali ayat di Al-Qur’an yang mengagungkan posisi orangtua, bahkan banyak yang kedudukannya disebutkan setelah Allah. Karena waktu kita kecil dan nggak bisa apa-apa, kita memang benar-benar sangat membutuhkan orangtua.
Dan, bagaimanapun itu, mereka tetap orangtua yang melahirkan kita, yang berusaha agar kita bisa terus hidup. Ya mungkin nggak seindah bayangan kita, tapi mereka sudah mencoba yang terbaik.
Dan, kita harus melakukan segala cara agar bisa menerima masa kecil juga orangtua kita. Dengan jalan penerimaan, dengan jalan agama, bahkan dengan jalan terpaksa sekalipun.
Pengorbanan mereka nggak akan pernah bisa kita balas.
Salah satu jalan penerimaan yang ampuh adalah memberikan kebaikan di atas keburukan. Misal, seseorang yang kita iri karena dia punya sesuatu. Maka, hal itu bisa kita lawan dengan memberikan mereka sesuatu atau mendoakan agar mereka lebih baik lagi.
Dan, begitu pun dengan ini. Walaupun mungkin ada orangtua kita yang nggak bisa memberi apa yang kita harapkan dan mengecewakan kita, maka kita harus lawan dengan memberi apa-apa yang mereka inginkan.
But for real, kalau orangtua kita perhitungan dengan kita sejak kecil, jelas kita nggak mungkin bisa survive, kita nggak mungkin bisa hidup.
Dan, serius, deh, kita ini kadang dimainkan oleh ekspektasi kita sendiri. Ini nggak selalu masalah faktor eksternal, kesalahan orangtua, atau kesalahan lingkungan.
Kadang, it comes from within. Memang diri ini saja yang nggak akan pernah puas, akan selalu ada tuntutan untuk lebih bagaimanapun itu.
Misal, orangtua yang sangat royal, mungkin kita akan tetap menuntut waktu mereka untuk dihabiskan lebih banyak dengan kita. Atau, orangtua yang sudah sangat perhatian kepada kita, tetap terasa kurang karena nggak bisa memberi barang-barang yang kita inginkan atau sebagainya. Akan selalu ada celah untuk dirasa kurang.
Tapi, serius, deh, emang kita sudah sesempurna apa sampai bisa menilai kekurangan orangtua kita? Memang kita nggak pernah mengecewakan mereka? Are we really the perfect kids?
Dan, gue yakin, bagi sebagian kalian yang baca ini masih terasa mustahil, merasa bahwa memaafkan sama saja seperti nggak melakukan apa pun, but it’s different. It’s easy to do nothing, but it’s super hard to forgive.
Tapi, kalau mau balas dendam, ya, kalau sudah tercapai, lalu apa? Apa akan merasa lebih baik? Mungkin puas sementara, tapi orang yang hidupnya dirundung dengan pembalasan dendam itu merusak dirinya sendiri. Balas dendam itu seperti two-headed sword, ketika kita berhasil melukai orang itu, kita juga terlukai. Nothing good comes from revenge.
Jadi, ya, ini satu-satunya jalan untuk kita bisa terus maju, biar kita bisa move on tanpa terus-terusan duduk dengan dendam.
Remember that we’re not that helpless kids anymore. Sekarang kita bisa bertindak, kita bisa rising above, kita bisa mulai memberi daripada terus-terusan menuntut.
Kita lakukan ini bukan dengan harapan agar mendapat balasan baik dari orangtua, tetapi karena ini perintah Allah dan kita mengharap balasan baik dari-Nya.
Kita yang harus mulai, mengalah, bukan karena kita kalah, tapi karena kita bijaksana.
Dengan begitu,
kita bisa menerima.
Dengan begitu,
kita bisa terus maju.
Dengan begitu,
kita bisa mulai fokus dengan hal yang lebih penting.
Dengan begitu,
kita bisa mulai berdamai dengan diri kita sendiri.
Dengan begitu,
kita bisa mulai belajar untuk berharap lagi.