Text
Tahu, nggak, perasaan terburuk itu apa?
Bukan marah, bukan sedih, bukan kesel, bukan sekadar kecewa.
Tapi kondisi ketika kita nggak peduli lagi dengan apa pun, nggak punya motivasi lagi untuk melakukan apa-apa. Kosong. Merasa nggak akan ada yang bisa mengerti, nggak ada lagi yang bisa diharapkan.
It’s hopelessness.
Ketika harapan hilang, hidup jadi nggak ada makna lagi, jadi merasa, ‘buat apa, sih, lanjutin hidup ini kalo gini terus?’
Kalau marah, sedih, kesal, atau perasaan lainnya, itu bukti kita masih peduli, masih ada yang kita pedulikan sehingga emosi-emosi itu muncul. Tapi, kalau hopelessness, nggak ada, tuh, peduli-pedulian. It’s all gone.
Nggak cuma sampai situ, hopelessness adalah akar dari depresi, akar dari kebencian terhadap diri kita, akar dari keinginan untuk bunuh diri.
When our hope is defeated, dan mungkin berulang kali, besar kemungkinan tergantikan dengan hopelessness—benar-benar nggak ada lagi keinginan untuk membuat harapan baru. Dan, ketika harapan kita mulai pudar dan akhirnya hilang, maka akan semakin sulit untuk bangkit.
Sebagian dari kita mungkin pernah merasakannya.
Ketika merasa nggak kuat lagi, nothing really matters.
Kayak, ya udah… mau gimana lagi.
Then, you close yourself off, cuma ingin sendiri aja.
Giving up, too tired.
And, that’s the moment we realize it all.
Karena semua krisis harapan bermula dari basic yang sama: kesadaran bahwa kita nggak punya kontrol.
Terhadap apa pun. Takdir. Masa depan. Orang-orang sekitar. Bahkan, diri kita sendiri.
Dan, akhirnya merasa terpuruk, merasa kita adalah korban, korban dari dunia yang kejam.
Dan, akhirnya, merasa semuanya percuma.
Dan, perlahan…
… berefek pada kehidupan kita sehari-hari, memicu indikasi masalah mental lainnya, kesedihan yang berkepanjangan, merasa kesepian (loneliness), kecemasan, bahkan sampai depresi.
Sekadar info, major depressive disorder itu ternyata cukup umum, loh. Sebuah studi menunjukan bahwa 13% dari total populasi dunia pernah menderita depresi dalam hidupnya. Bahkan, WHO menyatakan bahwa depresi menjadi faktor besar pemicu penyakit-penyakit lainnya.
Sebuah studi oleh Rose dan Abramson menyatakan ada korelasi positif pada three pessimistic tendencies (pessimist salah satu lawan dari hopeful) terhadap depresi kronis.
Dan, three pessimistic tendencies itu adalah:
Pertama, cause. Itu seperti seseorang yang salah menganalisis penyebab terjadinya peristiwa negatif dalam hidupnya.
Contoh: seseorang yang merasa nggak bisa membuka usaha karena nggak punya privilege, lalu merasa, ya, percuma gue berusaha, mau gimanapun gue nggak bisa sesukses mereka karena gue nggak “terlahir kaya”.
Lihat, mereka menyalahkan takdir (general cause) yang ada, mengira itu penyebab kegagalan dalam hidupnya, lalu menjadikan itu sebagai cause dari peristiwa-peristiwa negatif lainnya. Padahal, mungkin masalahnya lebih spesifik, seperti dia memang malas selama hidupnya (specific cause). Modal, kan, sesuatu yang bisa diusahakan, bisa usaha cari investor, kumpulin modal dengan kerja dulu dan kurangi nongkrong-nongkrong.
Tapi, dia nggak mau menyalahkan itu. Dia maunya menyalahkan sesuatu yang di luar dirinya biar kesannya dia nggak salah.
Dia juga berasumsi bahwa sukses atau peristiwa positif lain dalam hidupnya adalah sekadar keberuntungan belaka, sekali seumur hidup, atau hanya kebetulan, bukan karena usahanya.
Kedua, consequence. Melihat akan ada konsekuensi negatif secara terus-menerus.
Jadi, ketika dihadapi dengan situasi negatif, dia berpikir outcomes-nya pasti akan buruk terus, nggak bisa melihat hikmahnya.
Mereka kesulitan melihat bahwa hal-hal negatif sebenarnya bisa berubah jadi positif, bahwa hal-hal negatif juga akan ada akhirnya.
Contoh: seseorang yang gagal masuk universitas atau perusahaan idamannya, lalu menganggap ini adalah kegagalan terbesar dalam hidupnya, dan mengira dia nggak akan pernah berhasil karena terbutakan oleh kegagalan yang dia anggap begitu besar.
Ketiga, self-image. Pandangan diri yang sangat negatif.
Mereka selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih baik daripada dirinya dalam suatu keahlian.
Karena pandangan mereka terhadap dirinya sangat negatif, mereka percaya bahwa merekalah penyebab segala kejadian negatif dalam hidupnya. Mereka nggak bisa melihat jalan ke depan, mereka merasa stuck di situasi mereka yang sekarang, mereka melihat diri mereka sebagai akar masalah dari semua masalah dan merasa hopelessness yang begitu dalam.
Contoh: ya, udah jelas, sih, itu penjelasannya udah kayak contoh. Tapi, ya udah, nggak apa-apa, hmm….
Misal, seseorang yang merasa dirinya jelek dan nggak berguna, lalu mengembalikan semua kejadian buruk dalam hidupnya karena dirinya yang jelek dan nggak berguna. Kayak, dia dijauhi karena kekurangannya. Padahal, nggak selalu gitu, kok. Kalau dijauhi, dia masih bisa mengusahakan area-area lainnya, seperti value diri, skill, pendidikan, offering helps and advice, dan hal-hal ini masih bisa diusahakan.
Sebenarnya, banyak faktor penyebab depresi kronis, tetapi atribusi negatif di atas memainkan peran besar.
Untuk membantu orang sekitar kita yang seperti ini, pertama, kita harus bisa menghilangkan stigma negatif terhadap penyakit mental, dan kita mulai membantu mereka dengan saling bercerita atau minimal bersedia mendengar tanpa harus menghakimi.
Hope Is a Dangerous Thing
Do you know a person who has a really, really big dream and give all of his/her life for this dream?
Seseorang yang begitu besar mimpinya, dan menyerahkan hampir seluruh waktunya, tenaganya, semuanya… untuk mimpinya.
Let’s say dia ingin punya banyak uang. Harapan dia adalah menjadi orang kaya.
Mungkin, nggak ada yang salah dari harapan itu, tapi ada hal yang bisa membuatnya jadi salah.
Sejak kecil, semua waktu, tenaga, dan fokusnya dikerahkan untuk menjadi kaya, sehingga terbentuklah sebuah motivasi untuk apa dia hidup.
Dia ingin kaya, bilangnya karena ingin bisa membantu banyak orang which is good.
Tapi, sekarang, yang membuat dia bisa terus maju adalah harapan akan tercapainya keinginan itu.
That’s what keep her/him going, lalu terbentuklah value hidupnya. Dia akan menilai self-worth-nya berdasarkan pencapaian hal itu.
Dan, kalau nggak tercapai…
… dia akan membenci dirinya, membenci kehidupannya, dan kehilangan alasan untuk hidup.
Why? Karena besarnya pegangan dia terhadap harapan tersebut.
Harapan yang dia jadikan fondasi besar dalam hidupnya itu terlalu rapuh, nggak kuat.
Sehingga kemungkinan hopelessness-pun jadi besar.
Bisa lihat, nggak, apa yang salah?
Bagaimana dia menjadikan harapannya terhadap dunia ini sebagai harapan terbesar.
Kita punya harapan bahwa kita akan jadi orang yang sangat kaya, tapi itu bersifat temporer. Bisa bahaya kalau kita sudah kaya, lalu kehilangan kekayaan tersebut.
Kita punya harapan bahwa kita akan menemukan orang yang mencintai kita dengan utuh, tapi itu juga bersifat temporer. Bisa bahaya jadinya kalau kita ditinggalkan karena dia memilih yang lain.
Kita punya harapan bahwa kita akan jadi orang yang paling penting bagi seseorang, tapi itu juga bersifat temporer. Bisa bahaya kalau kita sudah nggak lagi penting. karena coba lihat sekitar, orang-orang penting terlupakan dan tergantikan seiring waktu.
Betapa banyak kita melihat orang-orang yang putus asa dalam hidupnya setelah kehilangan sesuatu yang dianggap besar. Betapa banyak kita melihat orang-orang yang nggak lagi semangat hidup karena nggak pernah mendapatkan apa yang dia harapkan.
The greater your hope, so does the despair.
Semakin besar harapanmu, semakin besar pula potensi putus asanya.
Dan, ini berlaku pada hal-hal duniawi yang temporer.
Hope can be dangerous if it’s too much of temporary things that you wish for.
Lagian, harapan, kan, nggak cuma satu, ya, jadi ini masalah prioritas sebenarnya.
Harapan yang kita prioritaskan adalah yang paling kita kejar, yang paling banyak kita kerahkan tenaga, waktu, dan uang untuknya.
Bahkan terkadang angan-angan manusia lebih panjang daripada usianya.
And, this can be dangerous.
If it’s that dangerous, berarti kita harus hati-hati.
The thing is kita butuh harapan dan kita pasti berharap untuk terus punya alasan hidup. Dan, memang itu tabiat kita sebagai manusia.
Jadi, kita harus sangat berhati-hati meletakkan di mana harapan kita.
Kita harus hati-hati memporsikan harapan kita.
The Pattern
Inget, nggak, waktu kita masih kecil?
Kita adalah makhluk yang penuh harap.
Semua terasa mungkin.
Padahal, kita nggak punya skill, kita nggak punya uang, kita bahkan nggak punya rencana.
Tapi, nggak ada yang kita khawatirkan. Tetap saja kita optimis.
Lalu, kita beranjak dewasa.
Mulai terpapar realitas, mulai sadar bahwa hidup ternyata nggak semudah itu.
Harapan-harapan yang kita bangun seringnya kalah, dihajar oleh realitas. Berulang-ulang.
But, despite all that…
Kita sebagai manusia punya kapasitas yang kuat kalau menyangkut masalah harapan.
Walaupun kita berkali-kali dijatuhkan oleh harapan, walaupun kanan dan kiri kita bilang untuk menyerah saja, walaupun memang terkesan sudah nggak ada lagi harapan…
Kita tetap saja bisa menemukan harapan lagi.
Tapi, ya, harapan itu datang nggak sendirian memang.
Dia datang membawa kekhawatiran.
Khawatir kalau nggak tercapai, atau dalam beberapa kasus, khawatir apabila sudah tercapai.
Kita yang tadinya nggak punya kekhawatiran apa-apa, lalu harapan datang, langsung, deh, muncul ketakutan-ketakutan baru.
Harapan.
Complicated, sebenarnya. Kadang kita butuh ini untuk terus maju, terus punya alasan untuk tetap hidup.
Tapi, sadar, nggak, sih? Cara paling cepat menghilangkan harapan itu apa?
Ya, dengan terkabulnya harapan itu.
Pasti harapan juga langsung ikut hilang bersamanya, hilang excitement-nya, sooner or later terasa hampa. Sooner or later, butuh punya harapan baru, dorongan baru.
Jadi, ya, kita harus pandai-pandai menaruh harap.
Jangan sampai kita kehabisan harapan di tengah jalan.
Either kita menyerah karena nggak pernah tercapai atau malah hilang karena sudah tercapai.
Boleh saja kita punya banyak harapan, dan mungkin, ya, realitasnya memang begitu, nggak salah, kok.
Tapi, harapan juga bermain di masalah skala prioritas. Harapan paling besar adalah penggerak yang besar juga.
Di balik harapan yang paling besar, tersimpan juga potensi kekecewaan yang sama besarnya.
Ketika tumpuan harapan terbesar kita diletakkan pada makhluk yang penuh dengan kekurangan atau hal-hal temporer lainnya.
Ketika kita membuat narasi harapan terbesar dalam hidup kita adalah diperlakukan spesial oleh manusia lain.
Ya, jangan salahkan orang lain ketika kamu kehilangan motivasi untuk terus hidup, karena harapanmu akan hancur pada akhirnya.
Ya, salah sendiri.
Jadi, kita memang harus pandai memilih prioritas.
Meletakkan harapan pada yang kekal.
Yang nilainya nggak cuma sampai pada dunia ini agar hidup kita punya makna lebih.
The Other Side of Hopelessness
Manusia itu makhluk yang jago banget beradaptasi. Lihat saja bagaimana area yang dulunya nggak berpenghuni, sekarang sudah diisi manusia-manusia, dan semua pun dimanfaatkan agar keberlangsungan hidup manusia bisa terus berjalan baik.
Walaupun kita jatuh berkali-kali, kita tetap berusaha bangkit, disadari maupun nggak, butuh waktu lama maupun sebentar.
Begitupun tentang hope.
Sebenarnya, kita butuh banget untuk selalu punya harapan hidup, karena bisa menjadi faktor terbesar kita bergerak. Walaupun kita berkali-kali menaruh harapan di tempat yang salah, eventually, kita lagi-lagi membuat harapan baru, dan dari situ jadi penggerak untuk kita terus maju.
It is fascinating, sebenarnya, kalau kita melihat orang-orang yang kehilangan orang-orang tersayang dalam hidupnya, orang-orang penting dalam hidupnya, ayah dan ibu yang meninggalkan mereka duluan, atau cintanya, atau anak kesayangannya. Walaupun hancur pada saat itu, mereka akan bangkit seiring berjalannya waktu.
Atau, mungkin, orang-orang dengan kekurangan yang nggak bisa kita bayangkan kalau kita yang mendapatinya, bisakah kita tetap punya harapan, punya dorongan, punya alasan untuk hidup? Orang yang terlahir disable, misalnya, tanpa tangan atau kaki, kehilangan fungsi panca indranya, atau hidup dengan penyakit kronis yang memberi rasa sakit konstan pada tubuhnya sepanjang hidupnya.
Mereka masih punya harapan. Mereka masih bisa terus maju.
Kapasitas harapan pada manusia itu besar banget, sehingga walaupun terlihat sepertinya nggak ada harapan lagi, kita tetap saja bisa menemukannya.
Dan, mereka adalah orang yang terus berusaha… percaya.
Beriman.
Sehingga mereka paham, mungkin benar dirinya nggak punya kontrol atas apa pun di dunia ini.
Tapi, mereka punya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memiliki kuasa atas segala sesuatu: hidup kita, sekitar kita, bahkan semesta ini.
Mereka yang nggak lagi hanya mengandalkan dirinya, tapi mengandalkan Zat yang jauh lebih besar, jauh lebih berkuasa.
Mereka yang paham bahwa takdir terbaik sudah ditentukan, dan Allah nggak menzalimi hamba-hamba-Nya.
Mereka yang paham tugasnya di dunia ini, sehingga nggak pusing dengan tipu daya yang mengganggu ibadahnya.
Mereka yang selalu punya pegangan, sampai mati.
Mereka yang berhenti berharap pada manusia lain, pada dirinya sendiri, dan mulai meletakkan harapan di tempat yang tepat.
Mereka yang sadar bahwa dalam situasi seburuk apa pun akan selalu ada harapan.
In their hopelessness, they learn to hope again.
Tapi kali ini, hanya kepada Allah.