1. Feels Like I Have The Worst Parents

Sejak kecil, kita dituntut jadi sempurna.

Okelah, mungkin, nggak segamblang itu.

Tapi, mungkin, kita dituntut untuk selalu bertingkah laku baik. Kita selalu dilarang untuk menangis. Kita dipaksa untuk menyampingkan rasa penasaran kita agar tidak berulah, kita dibanding-bandingkan dengan anak lain, banyaknya tuntutan untuk jadi ini-untuk jadi itu.

Yang intinya mengarahkan kita untuk menjadi sempurna.

But, really, semua cara itu adalah sebuah cara penyangkalan, menginvalidasi perasaan kita sebagai seorang anak. Memang, pada saat itu, seakan masalah terselesaikan. Yang tadinya nangis jadi diam, yang tadinya bandel jadi berusaha baik dan seterusnya.

Tapi, apakah itu beneran solusi?

I don’t think so.

Karena, dari situ, kita mulai punya keinginan yang terkubur. Kita memupuk harapan.

Berharap bisa membanggakan orangtua, berharap bisa diterima society, berharap bisa mudah mendapatkan ini-itu. Kita berharap menjadi sempurna

Then we grow up. The reality hits us hard.

Kita mulai sadar. Ternyata, jadi seseorang yang bisa dibanggakan nggak semudah itu. Usaha aja nggak cukup, keinginan kuat apalagi, ada beberapa hal yang memang doesn’t meant to be that way.

So, we give up. We hit our lowest point of our lives.

Where it all begins…

Pernah nggak wondering kayak…

Kok orang-orang lain bisa optimis dan percaya diri, ya?

Kok gue cenderung menutup diri?

Kok gue nggak berani eksplor ini-itu?

Kok gue nggak bisa mengekspresikan emosi gue dan takut sama relationship?

Kok gue sering ngerasa, “I’m not worth it.”?

Kok gue terlalu gampang nyerah, ya?

Ini semua bermula dari… the way our parents treated us when we were kids.

Pola asuh orangtua terhadap kita berpengaruh besar sama kita hari ini.

Contoh kecilnya, seseorang yang punya self-esteem yang baik, mungkin, karena dia dibesarkan dengan pola asuh yang tepat: orangtuanya mendengarnya, menyayanginya secara utuh, emosinya diterima. Mereka jadi punya percaya diri yang besar akan masa depannya, karena mereka percaya bahwa “dunia” ini akan memperlakukan mereka dengan baik, mereka tidak takut untuk berharap atau bermimpi.

Sedangkan seseorang yang mudah menutup diri, banyak takutnya, nggak bisa mengekspresikan emosinya, bahkan merasa nggak cukup bagi dirinya sendiri…, itu mungkin karena dibesarkan dengan pola asuh yang tidak konsisten, jarang didengar, emosinya dibungkam.

Itu cuma contoh sederhananya, bukan menggeneralisir, ya.

Intinya, gini…

Kita, sebagai manusia, membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah hubungan dengan makhluk lain. Butuh ikatan emosional dengan orang lain.

Dan, orangtua adalah hubungan pertama kita. Hubungan pertama yang harusnya berhasil. Ikatan emosional pertama yang berhasil. Supaya kita punya self-esteem yang baik.

Orangtua yang harusnya menjadi orang-orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat sehingga kita bisa punya perasaan dicintai yang cukup dan menjadi manusia yang juga mudah mencintai diri sendiri.

Orangtua yang seharusnya nggak memberikan syarat “kamu jadi baik dulu, baru saya berikan kasih sayang saya.”

Orangtua yang seharusnya jadi orang-orang pertama yang memvalidasi emosi terdalam kita, mendengar kita, bukannya malah langsung disalahkan. Supaya kita nggak jadi manusia yang kacau mentalnya.

Gue bisa aja terus melanjutkan daftar kesalahan orangtua, tapi, ya, buat apa?

Karena ini bukan tentang menyalahkan orangtua. Ini tentang kita memperbaiki luka masa kecil.

Lagian, menyalahkan orangtua bukan solusi. In fact, itu nggak akan mengubah apa pun, yang ada hanya menambah kemarahan, keputusasaan dan penyesalan.

Yang perlu kita tanyakan adalah…

Apakah orangtua kita ingin jadi orangtua yang seperti ini?

The thing is, a perfect parent doesn’t exist.

Nggak ada orangtua yang sempurna, karena mereka juga manusia.

Nggak ada guidance saklek tentang bagaimana parenting yang baik, karena setiap situasi dan kondisi yang berbeda butuh penanganan yang berbeda.

Jadi, untuk orangtua dalam mengasuh anaknya, semua adalah pengalaman pertamanya. Pertama kali punya anak, pertama kali punya anak kedua, pertama kali punya anak ketiga, dan seterusnya. Belum lagi ditambah faktor lain, misal, pertama kali punya anak kedua dalam kondisi finansial yang sulit di era milenial. See? It’s not that easy.

Tapi, sebagai orangtua, mereka harusnya belajar dong, punya kestabilan finansial biar anak-anaknya nggak kayak gini.

Kita bisa terus melanjutkan argumen, dan gue bisa jawab, “Kita nggak bisa menyamakan generasi kita dengan generasi dulu, sebagaimana kita nggak mau disamakan dengan generasi dulu. Kita mudah mendapat informasi karena internet, tapi generasi sebelumnya didn’t have this privilege and didn’t think like the way we do. Nggak nyambung.

Dan, ini nggak ada habisnya. Gue nggak mau kita sibuk menyalahkan the external terus.

Jadi, di sini, gue lebih mengajak, mari mulai saling mengalah, mari mulai saling memahami, mari mulai cari jalan keluar.

Parenting effect.

Sebenarnya, sangat rumit kalau kita membahas masalah hubungan orangtua dengan anak, seperti yang gue jabarkan sebelumnya.

Panjang dampaknya, nggak cuma bakal mempengaruhi relationship kita yang lainnya sampai dewasa, tapi juga mempengaruhi hampir semua aspek dalam hidup kita kedepannya.

Dan yang nggak kalah pentingnya, pengaruh terhadap self-esteem kita.

Gambarannya begini…

“Kalau orangtua aja nggak approve gue, orangtua gue aja nggak cinta, nggak sayang sama gue, bagaimana orang lain?”

“Mungkin emang gue nggak pantas mendapat cinta, nggak pantas mendapat yang baik-baik.”

“Gue patut dibenci.”

So, what is self-esteem exactly? Apa pentingnya dalam hidup kita? Seberapa pengaruh self-esteem dalam kehidupan sehari-hari kita?

Supaya ilmiah, gue akan mengutip dari hasil penelitian-penelitian terdahulu.

Nah, kalo secara definisi, menurut The Center for Parenting Education, self-esteem itu tingkatan di mana seseorang memiliki nilai dan kepercayaan bahwa dia berharga. Nggak cuma bagi dia pribadi, tapi juga bagi dunia ini. Kepercayaan diri seseorang dan kemampuan mereka mengatasi tantangan hidup juga bagian dari self-esteem.

Nggak cuma itu, self-esteem juga menentukan bagaimana seseorang mau terus berusaha melewati tantangan dalam hidup, dan bagaimana mereka memandang kegagalan. (Greenberg et al, 1992).

Dan, orang dengan self-esteem yang rendah punya korelasi yang kuat dengan depresi, hilangnya kepuasan hidup, bahkan keinginan untuk bunuh diri. (Jordan et al, 2013; Wilburn & Smith, 2005).

Sedangkan self-esteem yang sehat adalah kemampuan kita untuk mengenali diri kita secara tepat dan tetap bisa menerima siapa kita sebenarnya (The University of Texas, 2013; Wilburn & Smith, 2005).

Orang-orang dengan self-esteem yang rendah, hanya bisa fokus pada apa yang sedang terjadi sekarang untuk menentukan “harga dirinya”. Mereka nggak melihat bahwa ini (hal buruk) hanyalah satu kejadian khusus yang mungkin sifatnya temporer, nggak memberi arti sesungguhnya pada diri kita ((The University of Texas, 2013).

Ngapain, sih, kok jadi bahas self-esteem?

Karena ini salah satu dampak panjang dari salahnya pengasuhan orangtua ke anaknya, sepanjang hidupnya mereka akan struggle masalah ini.

Kebencian yang nggak jelas sumbernya, kenapa kita nggak bisa maafin, itu tuh karena dampak-dampak yang kita dapat dari pola asuh yang salah, kasarnya, ya, the famous terms of blaming others: gue begini karena orangtua gue.

Dan, nggak ada yang mau seperti ini. Kita semua ingin punya self-esteem yang baik.

Karena anak-anak yang memiliki self-esteem yang baik, mereka punya kemampuan untuk berpegang teguh pada nilai yang mereka miliki.

Mereka bisa merasa bahwa mereka penting dan mereka mudah mencoba hal baru.

Mereka gigih dalam mencapai tujuan mereka dan bisa mengakui ketika melakukan kesalahan.

Self-esteem ini sendiri berkembang dari waktu ke waktu dari pengalaman masa kecil kita. Pengalaman dan orangtua punya peran besar dalam mempengaruhi perkembangan identitas diri yang sehat dan peningkatan self-esteem.

Makanya, pas umur-umur SD tuh, ketika kita mulai membandingkan diri kita dengan anak lain dan mengevaluasi diri kita, kita bisa tetap merasa berharga, kita merasa bahwa kita juga matter, sehingga berkembanglah penerimaan diri, kecintaan terhadap diri dan tentunya self-esteem itu sendiri. Dan, ini akan membantu bagaimana kita berinteraksi, dan kehidupan sosial kita pun pada akhirnya dipengaruhi dari hal-hal yang mungkin kita anggap sepele ini.

Dan, ketika kita menginjak masa puber, perubahan- perubahan fisik mulai terjadi, kita tetap bisa menerima diri kita, penerimaan diri nggak cuma sampai pada taraf fisik, nggak cuma berdasar penilaian-penilaian orang banyak, nggak cuma dari yang nampak.

Dan, lebih dewasa lagi, kita jadi bisa menentukan arah, ke mana arah hidup yang akan kita ambil, kita lebih punya kepercayaan diri untuk mengambil keputusan, nggak penuh dengan kekhawatiran. Di sini kita mulai sadar bahwa ada prioritas. Mana yang lebih penting dan mana yang nggak, dan standar penting-nggak penting yang sehat adalah yang mengutamakan keselamatan diri, bukan yang merusak diri demi orang lain. Dan, nggak ada standar keselamatan diri terbaik selain standar agama, bukan sekadar “sElaMa GuE Sen4n9 dAn T1daK M3rugIKAn Or9 La1n.”

Nah, sekarang, masuk ke pertanyaannya, parenting style seperti apa yang terbaik, yang harusnya kita terima sebagai seorang anak? Dan, sebagai seorang anak, kenapa kita butuh tahu sesuatu yang harusnya diketahui orangtua kita?

Karena kita harus paham agar bisa menerima luka masa kecil.

Kita kesulitan menerima ketika kita nggak tahu suatu alasan di baliknya.

Seperti ketika kita udah ngantri lama, terus ada yang menyerobot antrian, mungkin kita nggak terima, tapi setelah tahu alasannya, misal orang itu buru-buru karena bayinya ditinggal sendiri di rumah, mungkin, kita jadi bisa sedikit memaklumi.

Atau, seperti ketika kita gagal dalam suatu hal, mungkin, kita nggak terima, tetapi kalau kita udah tahu hikmahnya, kita lebih bisa menerima kegagalan itu.

Jadi, memahami alasan di balik sesuatu bisa jadi salah satu cara kita mulai menerima.

Begitupun masalah-masalah trauma di masa kecil.

Dengan tahu masalah parenting, mungkin kita jadi bisa paham.

Bahwa orangtua kita nggak paham aja, mereka juga sudah berusaha.

Atau ini mungkin masalah teknis, mereka nggak bermaksud menyakiti kita.

Jadi mari kita coba pahami sedikit masalah parenting.

Mungkin ini bisa sedikit membantu atau paling tidak nanti ketika kita menjadi orangtua, kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Mari kita mulai.

Diana Baumrind, seorang peneliti yang fokus pada klasifikasi pola asuh menemukan, basically, ada empat elemen yang bisa membentuk keberhasilan pola asuh: Responsive vs non-responsive sama demanding vs undemanding.

Responsive: Merespons kebutuhan kita dengan cara suportif.

Non-responsive: Tidak merespons kebutuhan kita dengan cara suportif.

Demanding: Menetapkan aturan-aturan untuk anaknya.

Undemanding: Tidak menetapkan aturan-aturan untuk anaknya.

Secara gamblangnya, gue udah bikin tabel di bawah. Yang melahirkan empat klasifikasi pola asuh orangtua yang biasa digunakan para psikolog.

Sebenarnya, masih ada beberapa teori yang lebih rinci, membagi parenting style bahkan sampai 11, tapi kita fokus sama 4 ini aja dulu:

Parenting style

 

Demanding

Undemanding

Responsive

Authoritative

Permissive

Unresponsive

Authoritarian

Uninvolved

  1. Authoritative (Demanding x Responsive)

Hangat tapi tegas.

Kurang lebih kayak gitulah ciri orangtua yang punya metode pola asuh authoritative.

Mereka punya demand yang tinggi, tapi dibarengi respons yang tinggi pula.

Pola asuh seperti ini punya aturan yang jelas: mana boleh, mana nggak, mana baik, mana buruk, yang diharapkan akan diikuti oleh anak-anak mereka, tetapi mereka juga consider “suara” anak-anak mereka.

Ketika mereka memiliki aturan dan anaknya mengikuti, maka ada respons yang diberikan berupa reward, entah dalam bentuk apa pun itu, dan ketika nggak, juga ada konsekuensi yang mengikuti, nggak dibiarkan begitu aja.

Pola asuh mode begini dipercaya membuat si anak bisa feeling secure, bisa mudah menerima, mandiri dan bertanggung jawab, dan tentunya mereka jadi punya penilaian diri yang baik.

  1. Authoritarian Parenting (Demanding x Unresponsive)

orangtua dengan parenting style model ini punya tuntutan yang tinggi, tapi feedback yang hampir nggak ada. Mereka ingin kita patuh tanpa mempertanyakan ini-itu.

Kamu harus nurut karena papa-mama bilang begitu.

Ya, akan banyak kalimat-kalimat sejenis kayak gitu. Nggak ada ruang fleksibel, semua black or white, harus nurut nggak pake diskusi segala.

Respons yang akan dimunculkan dari anak-anak dengan parenting style model begini juga macam-macam.

Ada anak yang akan terus-terusan merasa harus meraih kesempurnaan, tapi merasa nggak pernah mampu, dan merasa nggak berharga setiap nggak bisa memenuhi ekspektasi orangtuanya.

Atau, bisa juga malah ke arah yang jadi membangkang, atau malah pasif, nggak berani standup for himself/herself.

Tapi, ada good side effect juga, biasanya anak-anak yang menerima parenting style kayak gini, tumbuhnya mereka kadang jadi bisa diandalkan, nggak manja, eksploratif dan pandai mengontrol diri.

  1. Uninvolved Parenting (Undemanding x Unresponsive)

Ini tipe orangtua yang nggak banyak hadir dalam kehidupan si anak. Biasanya karena punya masalah sendiri. Sehingga kadang si anak perlu taking care of themselves, bahkan membentuk aturan dan batasan untuk dirinya sendiri

As a result, anak dengan pola asuh seperti ini biasanya sulit membentuk hubungan yang dekat. Biasanya, punya sifat getir dan susah ramah. Ini berangkat dari perasaan loneliness dan merasa dirinya nggak berharga. Mereka sulit memberi identitas pada diri mereka sendiri, sering merasa nggak relevan, feels like they’re “lost”. Tanpa role model yang bisa mengajari dan membimbing nilai-nilai dari kecil.

Anak-anak dengan model pola asuh seperti ini biasanya, pada akhirnya, mencari tempat yang bisa menerima mereka. Kadang, berakhir di kelompok-kelompok yang nggak bener, kayak gang, yang nggak jauh dari obat-obatan, kekerasan, bullying. Karena biasanya mereka mencari orang-orang dengan nasib yang sama dengan mereka, sehingga mereka merasa diterima dan karena nggak punya sense of boundaries yang tinggi, banyak yang pada akhirnya melenceng.

Nggak selalu ya, faktor lain tetap ada, kita tetap punya pilihan untuk berakhir baik.

  1. Permissive Parenting (Undemanding x Responsive)

Ini tipe orangtua yang terlalu cinta sama anaknya, sampai buta.

Biasanya mereka memberikan semua yang si anak mau, hadiah, boleh ini-itu, pokoknya yang bikin si anak senang, nggak peduli dampak akhirnya bagi si anak.

Dan, nggak ada aturan buat si anak, biasanya orangtua model begini sulit bilang “nggak” pada anaknya, pokoknya menghindari konfrontasi sama si anak.

Mereka juga seringnya membantu si anak secara berlebihan, pokoknya semua orangtua yang benerin, orangtua yang ngurusin, mereka nggak tega lihat anaknya struggling.

Anak yang diasuh dengan model ini biasanya nggak ada inisiatif dalam hidupnya, terbiasa “disuapin.”

Ngapain ngelakuin sesuatu, toh nanti juga bakal diselesaikan sama orangtuaku.

Agak ngeselin, ya, hahaha. Dan, karena selalu mendapatkan constant catering, anak-anak ini melihat orang dewasa sebagai tempat untuk mendapatkan kenyamanan dan keuntungan. Mereka jadi nggak peduli sama hak-hak orang lain, mereka juga nggak ada sense of boundaries. Ini lawan dari Authoritative Parenting, biasanya anaknya jadi nggak bisa diandalkan, manja dan sulit mengontrol diri.

Dari keempa pola asuh ini, menurutmu, mana yang terbaik?

The thing is, despite all that theory, kita tetap nggak bisa menentukan mana yang terbaik. Karena pengaplikasiannya nggak semudah teori. Situasi yang berbeda akan menuntut orangtua untuk terus bereksperimen mencari posisi mana yang tepat.

Bahkan, ya, level of demanding dan responsive itu sangat beragam. Bisa tinggi, bisa rendah, bisa sedang, dan itu pun masih tergantung dari kacamata mana kita melihat. Budaya mempengaruhi, pengalaman orangtua mempengaruhi, dan pemahaman agama juga akan sangat mempengaruhi.

Memaksa anak untuk melaksanakan ibadah bisa terlihat terlalu demanding di satu budaya dan kepercayaan, tapi nggak di budaya dan kepercayaan lainnya. Jadi, ini benar-benar tergantung dari value yang dipegang, mana yang terbaik untuk si anak.

Dan, ada faktor yang memang nggak bisa kita kontrol, seperti sifat bawaan si anak atau takdir misalnya, atau perubahan-perubahan perilaku si anak yang dia dapat dari lingkungan pertemanan yang di luar kendali kita.

Jadi, nggak semudah itu sih men-judge parent yang baik itu seperti apa, yang buruk seperti apa.

Dan, tujuan dari gue menjabarkan ini adalah biar kita sama-sama paham, apa sih yang salah dan mulai aware apa sih sebenarnya kebutuhan kita, apa sih yang hilang dari masa kecil kita, dan dari situ kita bisa mulai berjalan ke arah menerima.

The key is…

Understanding our childhood.

Waktu kecil adalah waktu kita dihabiskan dengan belajar, sekolah yang memakan waktu paling besar, nasehat-nasehat orangtua di rumah, bahkan sampai belajar dari kesalahan kita sendiri.

Tapi sadar nggak sih, semua pelajaran itu sifatnya memahami apa-apa yang ada di luar kita, memahami yang lain, agar nggak timbul kekacauan karena kita, agar kita bisa mandiri dan nggak menyusahkan orang lain, agar kita bisa merawat dan memberi manfaat untuk lingkungan di sekeliling kita.

Lalu bagaimana dengan diri kita?

Bagaimana cara memproses emosi yang timbul dari diri, bagaimana cara menyaring kritikan dan bereaksi terhadapnya, bagaimana cara untuk mencintai diri kita sendiri.

Masa kecil memegang pengaruh besar pada kehidupan dewasa kita nantinya. Banyak sekali pemahaman yang terus menempel di otak kita sampai kita dewasa, hanya karene kita mendapatkannya pada masa kecil.

Masa kecil adalah waktu di mana kita melakukan pembentukan, karakteristik apa yang kita bentuk, respon-respon apa yang kita keluarkan dan basically, akan jadi orang seperti apa kita nantinya.

Di masa ini kita mulai mengenal hubungan, kita mulai mengenal interaksi dan kita mulai belajar mengenai sebab-akibat, bagaimana ketergantungan kita dengan orang lain dalam sebuah hubungan nantinya.

Bahkan, di masa ini, kita juga belajar seberapa pantas kita untuk merasa bahagia, yang nantinya akan berpengaruh pada kita yang dewasa. Sebagian dari kita yang mungkin dihantui ketakutan ketika momen bahagia, atau ketidaknyamanan kita memuji atau menerima pujian orang lain, it all starts here.

Di masa ini, kita mencari role model, yang kebanyakan adalah orangtua kita sendiri yang sebagian menunjukan ketidakpeduliannya terhadap well-being kita.

They do care, cuma kebanyakan orangtua hanya bisa memenuhi kebutuhan fisik. Makan kita, kebersihan kita, dan kenyamanan kita, which are very important, too, dan gue nggak menyalahkan orangtua di sini, karena kalau jadi orangtua pun, kita mungkin akan kewalahan dan belum tentu lebih baik dari mereka.

Kita, kita yang merasa this is not enough, karena mungkin dari kecil kita sudah sangat diagungkan, semua yang kita inginkan bisa dipenuhi, bahkan kadang belum kita minta pun sudah tersedia, lalu kita beranjak dewasa semua privilege itu hilang, dan kita merasa nggak sepantasnya diperlakukan seperti ini.

Belum lagi kalau kita punya saudara, maka atensi orangtua biasanya jadi terpecah akan lebih menyayangi saudara kita yang lebih kecil dan banyak dari kita yang nggak bisa menerima itu dan membuat ini jadi sebuah masalah.

Setelah merasa role model kita nggak sesuai sama yang kita mau, kita mencari role model lain yang menurut kita lebih keren sebatas pengetahuan kita, akhirnya yang mengarah pada kehancuran pribadi, mungkin ada dari kita yang menjadikan artis, atau public figure yang buruk menjadi sebuah role model, yang memicu kesalahan pola pikir mana benar mana salah.

Masa kecil adalah masa di mana kita merasa bahwa kita nggak worth it. Karena dari perlakuan orangtua dan orang sekitar, ya nggak gamblang sih, mungkin seperti cerita-cerita kita yang nggak didengar serius, orangtua yang lebih mementingkan hal lain ketimbang kita. Opini kita yang diremehkan, dan ketakutan terbesar kita yang dianggap hanya sebagai lelucon bagi orang-orang dewasa.

Sekali lagi, gue nggak menyalahkan karena memang mereka sudah dewasa dan mereka jelas punya masalah yang lebih besar untuk diurusi sehingga mereka mungkin nggak punya waktu dan atensi yang banyak untuk diberikan ke kita.

Masa kecil adalah masa di mana kita merasa sudah melakukan semua yang terbaik yang kita bisa, tetapi nggak mendapat penghargaan apapun, bahkan malah justru dituntut untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal.

Masa kecil adalah masa ketika idealisme kita pelan-pelan diruntuhkan oleh realitas yang terjadi, pandangan kita terhadap diri sendiri, terhadap hubungan dengan orang lain dan terhadap dunia ini.

Dan, distorsi yang dihasilkan dari situpun akhirnya sedikit demi sedikit mempengaruhi perilaku dan sifat kita. Kita jadi berbohong atas apa yang kita suka dan nggak suka, hanya untuk diterima oleh sekitar kita,

bahwa kesuksesan bisa menimbulkan permusuhan dari orang-orang di  sekitar kita;

bahwa kita harus selalu menjadi lucu;

menyenangkan dan nurut supaya menjadi orang yang diterima,

sehingga kita menekan emosi-emosi negatif yang kita punya, yang suatu saat bisa menumpuk dan menjadi sebuah gangguan-gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.

Dan masa kecil semua orang… is complicated.

Orangtua adalah tempat di mana kita menaruh kepercayaan kita, sekaligus tempat kecewa pertama kita, dan ini pun mempengaruhi hubungan kita dengan manusia lain nantinya.

But you need to know too, bahwa mereka juga adalah produksi dari orangtua mereka yang juga nggak sempurna, mereka juga korban kayak kita, dan mereka melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

Kita perlu tahu bahwa orangtua juga hanyalah manusia, mereka bukan standar kebenaran sehingga penilaian dan perlakuan mereka terhadap kita bisa salah, but they’re trying their best.

Kita perlu tahu bahwa nggak akan ada yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan mereka dari kita kecil.

Mereka sabar memberi kita makan, membersihkan kotoran kita, mengorbankan istirahatnya dan lain sebagainya, sekarang saatnya kita yang bersabar mengurus mereka.

Dan, kita harus menerima, dan bisa memahami semua ini, memahami bahwa masa kecil kita adalah hanya sebagian dari hidup kita, kita masih punya kendali akan jadi orang seperti apa kita esok hari. Sudah banyak bukti orang dengan masa kecil yang hancur, tetapi tetap bisa positif, justru bisa menjadikan masa kecilnya sebagai pelajaran dan tidak terus berkutat di masa lalu, mereka bisa maju, membentuk masa depan, menjadi orang terbaik walaupun masa kecilnya buruk.

Jelas, it’s not easy. Ini baru awal.

Tapi, dengan memahami masa kecil kita yang nggak sempurna, kita berharap agar bisa menerima itu. Dan, dengan menerima, kita bisa let go dan ngurusin hal lebih penting lainnya di masa depan.

Layaknya hal lain, masa kecil juga sebuah masa lalu, yang kalau kita bisa memahami dan menerimanya, maka kita juga bisa membuat ini bukan sebuah masalah yang besar. Mungkin, dengan memahami orangtua kita juga bisa salah, kita jadi bisa lebih mudah memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

Dan, ayolah, kita juga sebagai anak nggak sempurna, kita banyak menyusahkan mereka, jadi kita juga harus selalu minta maaf dan terus menyayangi dan menghormati mereka, they did the best they can.

Oke, mungkin, banyak dari kita yang orangtuanya lebih parah dari orangtua pada umumnya. Banyak dari kita yang memiliki kondisi di mana orangtua kita sering cekcok ada pertikaian ada masalah yang mereka punya dan mereka sibuk dengan itu sampai timbul kesenjangan dan akhirnya mengabaikan kita sebagai anak.

Atau, lebih parah, bahkan, orangtua yang abusive, yang biasa main tangan dari kita kecil, I’m not on their side, jelas mereka salah. Trust me, gue juga berpikir nggak pantes yang kayak gitu jadi orangtua.

Dan, ini tentunya menimbulkan luka yang lebih dalam bagi sebagian orang.

And i know.. I KNOW how difficult that is. But we have to, minimal kita selalu berusaha untuk bisa mencari jalan tengah, mentolerir, berusaha mencari their goodness, even if it’s hard atau, bahkan, nggak ada di mata kita. At least we try. Because that’s what the good people do. Jangan malah jadi jahat seperti mereka.

But this is for our sake not only for them, karena akan tetap percuma kalau kita terus-terusan fokus pada kesalahan mereka seumur hidup kita, tanpa mulai fokus ke diri ini. Bayangin unresolved problems yang hampir menyita seluruh kehidupan kita. Don’t live this life hating our parent.

Mungkin, ini bisa menjadi revelation buat kita bahwa nggak ada kasih sayang manusia yang sempurna. Nggak ada pemberian manusia yang sempurna. Nggak ada cinta dari manusia yang sempurna.

Maka, sudah saatnya kita mencari kasih sayang yang sempurna, pembalasan yang sempurna, cinta yang sempurna, dan kita akan menemukannya jika kita belajar untuk hanya berharap kepada Allah.

Kembalinya kita kepada Allah adalah cara yang paling ampuh untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Berpindahnya diri kita dari yang buruk ke yang baik. Karena dengan begitu kita memiliki tujuan yang baru kita bisa mengubah pola pikir kita yang rusak menjadi lebih baik karena ilmu-ilmu dan kepatuhan kita yang yang berdampak pada pola pikir dan perilaku kita.

Ketika kita memilih patuh kepada Allah, berarti kita juga memilih patuh kepada hukum-hukumnya, dan kita akan memiliki tujuan yang lebih besar dari dunia sehingga kita bisa mengabaikan hal-hal duniawi termasuk kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang-orang kepada kita termasuk masa lalu kita yang buruk dan juga…

Termasuk perintah Allah untuk kita agar tetap patuh kepada kedua orangtua kita selama itu bukan perintah-perintah maksiat.

Dan, banyak sekali ayat di Al-Qur’an yang mengagungkan posisi orangtua, bahkan banyak yang kedudukannya disebutkan setelah Allah. Karena waktu kita kecil dan nggak bisa apa-apa, kita memang benar-benar sangat membutuhkan orangtua kita.

Dan, bagaimana pun mereka tetap orangtua kita yang melahirkan kita yang berusaha agar kita bisa terus hidup mungkin nggak seindah bayangan kita tapi mereka sudah mencoba yang terbaik.

Dan, kita harus melakukan segala cara agar kita bisa menerima masa kecil dan orangtua kita. Dengan dengan jalan penerimaan dengan jalan agama bahkan dengan jalan terpaksa sekalipun.

Pengorbanan mereka nggak akan pernah bisa kita balas.

Salah satu jalan penerimaan yang ampuh adalah memberikan kebaikan di atas keburukan. Misal, seseorang yang kita iri karena dia punya sesuatu. Maka, hal itu bisa kita lawan dengan memberikan mereka sesuatu atau mendoakan agar mereka lebih baik lagi.

Dan, ini pun begitu walaupun mungkin ada orangtua kita yang nggak bisa memberi apa yang kita harapkan. Dan mengecewakan kita, maka kita harus lawan dengan memberi apa-apa yang mereka inginkan.

But for real, kalau orangtua kita perhitungan sama kita dari kecil, yang pelit banget gitu, jelas kita nggak mungkin bisa survive, kita nggak mungkin bisa hidup.

Dan, beneran deh, kita ini kadang dimainin sama ekspektasi kita sendiri, ini nggak selalu masalah faktor eksternal, kesalahan orangtua, kesalahan lingkungan.

Kadang, it’s come from within. Memang diri ini aja yang nggak akan pernah puas, akan selalu ada tuntutan untuk lebih bagaimana pun.

Misal, orangtua yang sangat dermawan, mungkin kita akan tetap menuntut waktu mereka untuk dihabiskan lebih banyak dengan kita. Atau, orangtua yang sudah sangat perhatian ke kita tetap merasa kurang karena nggak bisa memberi barang-barang yang kita mau atau sebagainya. Akan selalu ada celah untuk dirasa kurang.

Tapi, serius deh, emang kita udah sesempurna apa sampai bisa menilai kekurangan orangtua kita? Memang kita nggak pernah mengecewakan mereka? Are we really the perfect kid?

Dan, gue yakin bagi sebagian kalian yang baca ini masih terasa mustahil, merasa memaafkan sama aja seperti nggak melakukan apa pun, but it’s different it’s easy to do nothing, but it’s super hard to forgive.

Tapi, kalau mau balas dendam, ya, kalau sudah tercapai, lalu apa? Apa akan merasa lebih baik? Mungkin puas sementara, tapi orang yang hidupnya dirundung dengan pembalasan dendam itu merusak dirinya sendiri. Balas dendam itu seperti two-headed sword, ketika kita berhasil melukai orang itu, kita juga terlukai. Nothing good comes from revenge.

Jadi, ya, ini satu-satunya jalan untuk kita bisa terus maju, biar kita bisa move on tanpa terus-terusan duduk dengan dendam melihat ke belakang, memaafkan.

Remember that we’re not that helpless kid anymore, sekarang kita bisa bertindak, kita bisa rising above, kita bisa mulai memberi daripada terus-terusan menuntut.

Kita lakukan ini bukan dengan harapan agar mendapat balasan baik dari orangtua, tetapi karena ini perintah Allah dan kita mengharap balasan baiknya.

Kita yang harus mulai, mengalah, bukan karena kita kalah, tapi karena berusaha jadi lebih bijaksana.

Dengan begitu, kita bisa menerima.

Dengan begitu, kita bisa terus maju.

Dengan begitu, kita bisa mulai fokus dengan yang lebih penting.

Dengan begitu, kita bisa mulai berdamai dengan diri kita sendiri.

Dengan begitu, kita bisa mulai belajar berharap lagi.

[]
Selanjutnya
error: Not Allowed