Text
Kita adalah generasi yang paling kesepian.
Ada sebuah studi yang menanyakan orang-orang,
“Dalam keadaan krisis, berapa teman dekat yang bisa kamu hubungi untuk dimintai bantuan?”
Jawaban paling umum yang didapat adalah nol alias nggak ada.
Padahal, beberapa tahun lalu, jawaban rata-ratanya, tuh, sekitar lima orang.
Eventually, we all have been there.
Merasa nggak punya siapa-siapa.
Merasa ditolak, merasa nggak dilibatkan, merasa nggak diajak.
“Kok, nggak ada yang peduli sama gue, padahal gue peduli sama mereka?”
“Kayaknya gue cuma ganggu, deh. Mending gue menjauh. Lagian kalau mereka emang peduli sama gue, mereka harusnya yang cari gue.”
Dan, akhirnya kita memilih untuk semakin menjauh.
Kalau benar pernah merasakan itu, maka, selamat, kita pernah mencicipi rasanya loneliness. Kalau nggak, ya, tinggal tunggu tanggal mainnya.
Bukan mendoakan atau senang, sih. Lebih ke, ya, semua orang akan mengalami fase ini pada akhirnya.
Sebuah fase pembelajaran.
Bahwa kita sebagai manusia, nggak bisa selalu bersama, akan ada waktunya renggang, menjauh, berpisah.
Bahwa kita nggak akan selalu menjadi prioritas seseorang, dan salah juga sebenarnya kalau kita berpikirnya begitu.
Bahwa pada akhirnya, hubungan kita dengan manusia lain nggak selalu bisa diandalkan dan dijadikan prioritas.
Bahkan, seringnya kita dikelilingi oleh banyak orang, tapi tetap saja perasaan kesepian itu datang. Karena memang, yang menentukan loneliness bukanlah kuantitas hubungan kita, tetapi kualitasnya.
Type of Loneliness
Ini akan sedikit teori, nggak apa-apa, ya, biar lebih paham.
Jangan malas.
Okay, here we go. Sebenarnya loneliness (kesepian) ada beberapa jenis. Secara kondisi, loneliness dibagi empat menurut Gotesky (1965):
Itu secara kondisi, ya, jadi biar bisa membedakan, mana yang memang loneliness yang kita bicarakan dan mana yang bukan.
Kalau secara prinsip, loneliness itu dibagi dua menurut Weiss (1973):
Pertama, Social Loneliness.
Tipe loneliness yang ini adalah hasil dari kurangnya networking, hubungan sosial dengan manusia lain, merasa nggak dilibatkan, merasa nggak diterima, dan kurangnya interaksi sosial. Misal, karena baru pindah ke suatu tempat dan kita kesusahan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Karena kita basically makhluk sosial, jadi ada titik di mana kita butuh bersosialiasi, di mana kita berada dalam posisi diterima dalam suatu lingkungan, bahwa kita nggak sendirian.
Cara mengatasinya, ya, beradaptasi, mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan itu, mencari kegiatan yang bisa menambah circle baru yang lebih cocok dengan interest kita.
Dan, ini seharusnya diawali dengan mengenal diri sendiri, agar benar-benar memahami lingkungan mana yang sebenarnya cocok untuk kita, yang bisa menerima kita sekaligus mengarahkan kita pada kebaikan. Jangan sampai kita rela masuk ke lingkungan macam apa pun selama kita diterima, padahal membahayakan diri.
Kedua, Emotional Loneliness. Ini mungkin yang paling umum dan yang paling banyak dirasakan. Loneliness yang disebabkan dari kurangnya kedekatan, kelekatan, dan attachment dengan orang lain.
Mungkin kita punya banyak kenalan, tetapi, kok, koneksinya nggak kuat ya, tetap merasa sendiri.
Misalnya, hubungan dengan keluarga yang nggak dekat.
Emotional loneliness juga umumnya terbagi dua: family loneliness dan romantic loneliness.
Family loneliness timbul dari hubungan orangtua-anak—saudara kandung juga bisa—di mana orangtua yang mengabaikan kebutuhan anak, atau sebaliknya, anak yang nggak punya waktu untuk orangtuanya. Atau, bisa juga hubungan kakak-beradik yang nggak pernah akur dan memilih untuk nggak banyak berkomunikasi.
Sementara romantic loneliness, timbul dari kurangnya kedekatan yang sehat terhadap pasangan. Pasangan yang nggak mau mendengarkan, atau kurangnya dukungan emosional dari pasangan, juga bisa memicu perasaan loneliness ini.
Jadi, walaupun sudah menikah, tetap saja bisa dilanda loneliness. Makanya, bagi orang-orang yang motivasi menikahnya adalah supaya nggak sendiri, pikir lagi, deh. Cari alasan yang benar dulu untuk menikah.
Emotional loneliness ini lebih kompleks, nggak bisa hilang begitu saja, butuh pendekatan yang lama dan semua support system harus terlibat.
Dan, biasanya nggak disadari, ya terjadi begitu saja, sedikit demi sedikit ternyata sudah sejauh itu, sehingga membuat ini lebih susah lagi untuk diatasi.
Jadi, mungkin, sekarang kita bisa sedikit membedakan mana yang benar-benar loneliness dan mana yang bukan.
Escaping Loneliness
Loneliness itu menular.
Itu dia kenapa ada urgensi dalam mengatasi loneliness. Tetapi karena kita bicara soal psikologi, jelas nggak kayak virus yang begitu saja menularnya.
Ada banyak faktor, karena ini masalah sosial sebenarnya.
Pertama, pernah, nggak, kita melihat atau mendengar seseorang menunjukkan betapa kesepiannya mereka, lalu kita jadi ikut diingatkan, betapa kita juga sebenarnya kesepian?
Negative emotion model begitu hampir sama sebenarnya, kita lebih mudah ter-influence olehnya.
Ketika teman kita marah, kesal, sedih, sangat mudah bagi kita untuk ikut merasakannya.
Kedua, ini yang lebih scientifically proven. Orang-orang kesepian biasanya menjauh, mereka menarik diri dan memilih untuk terus bersama kesendiriannya.
Orang-orang di sekitarnya pun akan kehilangan dia, sehingga membuat mereka kesepian juga, karena merasa ditinggalkan.
Dan, akhirnya, polanya terus berjalan, sehingga semua lingkungannya terkena dampak dari kesepian ini.
Terus, pertanyaan besarnya, bagaimana kita bisa lepas dari perasaan ini?
Basically, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk lepas dari loneliness ini.
Dan, ini nggak semudah dan seinstan itu.
Keduanya butuh pengorbanan lebih, butuh waktu, butuh menyingkirkan gengsi, butuh maju duluan.
Ya, memang sulit bagi orang-orang yang merasa kesepian, karena biasanya orang yang dilanda kesepian percaya bahwa mereka nggak penting.
Tapi, kedua hal di atas memang perlu dilakukan.
Caranya gimana?
Ya, banyak cara sebenernya dan balik ke masing-masing orang.
Bisa menghubungi keluarga dan teman-teman. Minta waktu mereka, mungkin dengan buat jadwal rutin untuk menghabiskan waktu bersama mereka.
Mulai peduli duluan, memberi hadiah, mentraktir, atau tindakan lain yang membuat mereka senang menghabiskan waktu dengan kita.
Dan, ini adalah sebuah pola yang melelahkan.
Anyway, like I said earlier.
Kita semua pada akhirnya merasakan ini.
Why?
‘Cause basically…
Semua…
Semua hal di dunia ini akan pergi, akan meninggalkan kita.
Teman yang kita kira akan bersama selamanya, pasangan yang kita kira akan selalu ada, orangtua yang kita bisa datangi ketika butuh nasihat, peliharaan yang menemani kita selama ini.
Bahkan, benda mati yang kita sayang, acara tv yang sering menemani.
Semua akan berakhir pada waktunya.
Semua akan selesai pada waktunya.
Semua akan hilang pada waktunya.
Dan, akhirnya, kesepian itu datang lagi.
Terus, apakah menghindari kedekatan menjadi jawaban?
Apakah menghindari koneksi dengan apa pun yang akan hilang adalah solusinya?
Ya, nggak usah lebay juga.
Kita harus punya bantalan besar, yang ketika kita kehilangan itu semua, kita tetap bisa fine sendirian.
Masalahnya, kan, banyak dari kita yang nggak bisa menghadapi diri sendiri, jadinya cari distraksi sana-sini dan akhirnya ketergantungan.
Kalau sendirian rasanya nggak berharga banget.
Kalau sendirian rasanya males sama diri sendiri.
Tapi, kalau kita bisa membuat koneksi yang kuat dengan sesuatu yang kekal, maka kita nggak akan merasa kesepian.
Walau kita kehilangan yang lain, kita masih punya koneksi yang dalam dengan yang menyayangi kita.
Pasti masih ada rasa kehilangan, tetapi fase untuk bangkitnya bisa cepat, karena tahu punya Allah yang selalu bisa diandalkan.
Yang selalu dekat.
Yang lebih dekat dari urat leher kita.
Bagaimana kita bisa kesepian kalau ada yang selalu bisa diraih, bisa dimintai tolong, bisa diandalkan, sedekat itu?
Selain itu, ada salah satu cara yang mungkin biasanya kita remehkan.
Kindness. The act of kindness.
Itu bukan cuma kata gue. That statement is supported by researchers at the University of California San Diego School of Medicine.
Ketika kita bisa bermanfaat untuk orang lain, ketika kita bisa memaknai keberadaan kita ternyata memberi dampak positif bagi dunia ini, ketika kita bisa melihat bahwa dengan adanya kita, dunia dan beberapa orang menjadi sedikit terbantukan…
Hal itu bisa sedikit mengatasi perasaan kesepian kita.
Dan, mungkin, ketika pada akhirnya, kita tetap merasakan kesepian di dunia ini, kesepian dalam arti nggak bisa membuat koneksi yang dalam dengan manusia lain, ya sudah.
At least, ketika kita bisa berbuat kebaikan dan melakukan amalan baik yang sesuai tuntunan, kita sedang mengumpulkan teman ketika kita mati nanti, ketika kita sendiri di alam kubur.
Benar-benar sendirian.
Dan, memang hanya akan ada amalan baik kita yang pada akhirnya menemani kita nantinya. Bukan teman baik kita, bukan keluarga kita, bukan pasangan kita.
Amalan baik kitalah yang akan menjadi teman sejati.
Sehingga kadang, kita harus membiasakan diri tanpa hubungan dengan manusia lain, ketika hanya ada Allah yang bisa kita gapai, karena kita akan lama sendirian di alam kubur. Dan ketika kita terbiasa mengasingkan diri hanya dengan Allah, maka insyaallah kita akan mudah menghadapi alam barzah.
Kesepian di dunia bisa terbayarkan, kok.
Lagian, seseorang yang nggak punya siapa pun, bahkan seseorang yang nggak punya apa pun, tapi dia hanya punya Allah, itu, tuh, waw banget.
Karena kadang, diskoneksi kita terhadap suatu hal, ketidakpunyaan kita, merasa tidak belonging, itu membuat kita terpojok dan akhirnya sadar, bahwa hanya Allah yang dapat kita jadikan tempat berlabuh.
Yang membuat kita jadi lebih mendekat.
Dan, ketika seseorang sudah dekat dengan Allah maka Allah juga akan dekat dengannya. Dan, nggak ada yang bisa mengalahkan nikmat dari perasaan itu. Karena…
Ketika kita hanya punya Allah,
itu sudah lebih dari cukup,
if we really believe.