Text
Sejak kecil, kita dituntut untuk selalu bahagia.
Ya, okelah, nggak segamblang itu.
Tetapi kalimat-kalimat kayak:
“Jangan nangis, jangan cengeng.”
“Jelek, ah, kalau nangis terus. Senyum, dong.”
Dan, juga tuntutan-tuntutan kayak:
“Belajar, nilai di sekolah harus bagus.”
“Kuliah yang rajin, biar bisa dapat kerja enak’.”
“Si A, loh, udah dapat kerja. Si B, loh, dapat kerja di sana.”
“Kapan nikah?”
“Sudah lama kerja, kok, belum punya apa-apa.”
Dan, contoh-contoh tuntutan yang semisal.
Itu semua mengarahkan kita untuk: harus selalu bahagia; harus selalu ikuti dan penuhi semua tuntutan itu biar bisa lebih bahagia, seakan-akan menjadi bahagia itu selalu lebih baik.
Penerimaan bersyarat dari orang-orang sekitar, yang diikuti tuntutan baru di setiap momennya, membuat kita membentuk definisi kebahagiaan yang seringnya salah.
Tapi, banyak dari kita nggak sadar itu salah. Kita baru akan menyadari itu salah ketika kita udah sampai pada tahap ‘lelah mengejar itu semua‘, atau sampai pada tahap ‘udah dapat semuanya, tapi rasanya, kok, begini?’.
Why our expectations are so bad?
Kita seringnya lupa bahwa…
… cara termudah untuk bahagia itu bukan justru mendapat apa-apa yang kita mau.
Mendapatkan sesuatu yang kita mau, itu jelas memberi perasaan senang, but it’s just temporary.
Sadar polanya, nggak?
Biasanya, setelah dapat yang kita mau, rasanya kita pengin teriak bahagia, loncat-loncat, ngumumin ke semua orang tentang apa yang baru kita dapatkan. Tapi…
… soon enough, kita akan mau sesuatu yang lain lagi, yang lebih lagi.
Punya smartphone baru, akan ingin punya yang lebih canggih. Punya laptop baru, akan ingin punya yang lebih baru. Punya mobil, rumah, jabatan, status, atau apa pun itu, kita akan punya keinginan yang lebih lagi.
Yang membuat perasaan terhadap apa yang udah kita punya itu berkurang.
If I can fast forward this, maka…
Cara termudah untuk bahagia adalah…
Sadar.
Sadar bahwa kita nggak selalu butuh lebih untuk bahagia. Sadar atas apa yang udah kita punya. Sadar bahwa perasaan cukuplah yang membuat ini menjadi cukup, bukan ingin yang lebih dan lebih. Sadar kalau apa yang kita punya, bisa menjadi awal mula rasa syukur kita. Sadar bahwa kita harus lebih berusaha lagi mengapresiasi apa-apa yang udah kita dapat daripada terus berkespektasi sama hal yang belum kita dapat.
Dan, ketika kita udah bisa menggantikan semua ekspektasi kita dengan apresiasi, kita akan bisa jadi lebih bahagia.
Gue mau tanya. Coba jawab sejujur-jujurnya.
Untuk saat ini, mana yang lebih sering kita lakukan: komplain sama apa yang kita sudah/belum punya atau belajar mengapresiasi apa yang kita punya?
Apakah kita orang yang lebih sering mengeluh atau bersyukur?
Karena kebahagiaan itu adalah perasaan cukup; sadar dan merasa cukup atas apa yang kita punya.
Bukan cuma fokus pada hal-hal yang belum kita punya dan memercayai kalau kita punya itu, maka kita akan bahagia.
“Orang bisa ngomong gitu karena udah punya duit.”
“Ngomong gitu gampang, gimana yang untuk makan sehari-hari aja susah?”
“Belum tahu rasanya jadi pengangguran 5 tahun.”
Mungkin ada aja yang akan berkomentar begitu.
Tolong jangan ekstrem pikirannya. Jangan terlalu condong kanan atau pun kiri.
Gue nggak bilang kita harus melepas semua dan nggak usah berusaha lagi.
Tapi, ini tentang prioritas apa yang harus kita kejar. Ini tentang menyadari konsep cukup.
Kalau yang kita kejar dan kita jadikan prioritas hidup adalah materi dunia, maka nggak akan pernah cukup.
Dan, gue nggak bilang “nggak boleh ingin itu semua”.
Boleh, tapi sesuai porsi. Karena ada hal yang lebih pantas untuk diprioritaskan.
Biar kita nggak kecewa pada akhirnya.
Dan, ini yang bikin kita jadi sering salah tujuan.
Selama ini yang kita tahu, untuk menjadi bahagia, kita harus punya lebih. Kita harus punya rumah, harus punya rumah yang lebih besar. Kita harus punya mobil, punya mobil yang lebih mewah. Kita harus punya smartphone, punya smartphone yang lebih baru.
Pokoknya sesuatu yang lebih. Lebih baru, lebih bagus, lebih mewah.
Dan, akhirnya, itu yang jadi fokus dan prioritas kita.
Kita jadi melupakan apa yang udah kita punya.
Again, kalau kita bisa mendapatkan itu, kita pasti akan senang. Temporarily.
Sampai akhirnya, kita jadi biasa aja sama hal yang udah kita punya. Dan, perasaan terbiasa dengan hal-hal yang kita udah punya akan membuat kita jadi susah mengapresiasi, susah bersyukur.
Karena kita udah terbiasa. Karena hal itu udah nggak baru lagi. Nggak exciting lagi.
Dan, sedihnya, hanya cara-cara seperti itulah yang kita tahu untuk menjadi bahagia.
Bayangkan kalau kita meletakkan semua usaha dan semua fokus hidup kita pada sesuatu yang menjanjikan kesenangan sementara. Sesuatu yang bisa hilang. Sesuatu yang value-nya mudah turun dan mudah diganti karena ada yang lebih baru, lebih bagus, lebih mewah.
Maka, hidup kita akan mudah hampa dan terombang-ambing.
Tapi, mungkin, tetap masih banyak yang skeptis membaca penjelasan di atas. Kasarnya, “Ngomong doang, mah, gampang.”
And, I agree. Memang beberapa orang butuh penjelasan dan tamparan lebih keras untuk sadar.
Dan, gue akan coba provide itu di buku ini.
Kita butuh sering-sering ditampar dengan kenyataan model begini, bahwa yang selama ini kita kejar, kita harapkan, kita ekspektasikan, ternyata itu salah.
And, here’s why….
B
C
D
Secara intuisi, kalau kita baru pertama kali melihat soal-soal itu, mungkin banyak dari kita yang menjawab:
Iya, nggak?
Buat yang udah pernah dapat soal itu, dan udah tahu jawabannya, nggak usah sok 😒.
When, in fact, jawaban itu salah.
Yang benar: Nggak ada. Ukurannya sama. Coba aja ukur lingkaran A dan B, yang di tengah aja. Coba aja ukur panjang garis C dan D. Sebenarnya sama.
Where am I going with this?
Jadi, itu yang kemungkinan sering kita lakukan.
Kita melihat sebuah masalah, memperhatikan suatu perbandingan, memperhitungkan data yang ada, lalu menyimpulkan dengan cepat.
Dan, langsung memercayai kesimpulan itu.
Sebenarnya, kuis yang tadi itu untuk menyadarkan diri kita aja, sih, bahwa…
Wow, ternyata otak kita juga bisa sotoy, mengelabui the real things, menipu kita.
Di psikologi, ini sering disebut ‘misperception‘. Bahasa Inggris doang, sih. Artinya ‘salah persepsi’.
Gambar-gambar di atas adalah sesuatu yang bisa kita ukur, yang permasalahannya masih bisa kita baca dan lihat, yang jawaban pastinya udah absolut.
Sekarang, bayangin ketika ada permasalahan yang terjadi dalam hidup kita, lalu otak kita membuat jawaban-jawabannya sendiri.
Atau, kita menyuruh otak kita membuat skenario tentang masa depan, membuat skenario tentang apa yang sebaiknya terjadi dalam hidup kita.
Bisakah kita memercayai cara kerja otak kita yang seringnya salah persepsi itu?