5. Gue Juga Nggak Mau Jadi Orang Negatif Kayak Gini, Tapi Keadaan Yang Memaksa Gue.

Kalau boleh gue simpulkan, cara mengasah skill supaya kita jadi orang yang optimis itu:

  1. Belajar fokus pada hal-hal positif, Kita biasa nyebutnya hunting the good stuff (berburu yang baik-baik). Jadi, kita berusa mencari hal baik apa yang bisa kita fokusin, like i said before, positive-negative itu nggak mutlak.
  2. Perbaiki explanatory style kita ketika kita membuat-buat skenario. Atau, ketika kita menyimpulkan suatu kejadian dalam hidup kita.
  3. Belajar bersyukur. Kalau bisa, tulis setiap hari–apa saja yang bikin kita bersyukur hari ini–biar kita bisa lebih terbiasa.
  4. Berusaha mengaplikasikan sifat-sifat orang optimis di atas. 
  5. Dan, yang paling susah: understand, accept and deal with your trauma.

Luckily, sebagai orang yang beriman, kita punya shortcut dan privilege menuju optimis.

Ada dua skill yang bisa mencakup semua permasalahan di atas.

Pertama, Skill berharap.

Ini yang sebenarnya kita butuhkan untuk bisa terus maju.

Orang yang masa lalunya sebaik apa pun, tapi ketika mereka nggak punya lagi harapan untuk melanjutkan hidup maka tetap akan menyerah ke depannya.

Orang yang masa lalunya sebaik apa pun, tapi ketika menggantungkan harapan hidupnya ke sesuatu yang salah, maka juga akan hancur kedepannya.

Orang yang masa lalunya sebaik apa pun, tapi hal yang diharapkan adalah sesuatu yang receh, maka hidupnya akan mudah sekali goyah.

Sebaliknya, kalau trauma yang kita alami sangat menyakitkan, tapi kita punya harapan, maka kita akan bisa terus maju.

Bayangkan kita dalam keadaan sakit kepala, tetapi kita minum obat untuk lambung, maka itu bukan sesuatu yang tepat, bukan solusi.

Sama halnya kalau harapan kita hanya berkutat pada kekayaan, cinta atau bergantung sama manusia lain, maka kita akan kecewa, akan mudah hilang harapannya.

Salahkan diri kita kenapa salah memilih solusi.

Berharap itu jangan nanggung-nanggung, berharap yang besar sekalian.

Berharaplah agar semua kesusahan yang kita alami berbuah pahala yang bisa mendekatkan kita ke surga Allah.

Berharap dengan semua kesabaran yang kita usahakan kita mendapat pahala tak terhingga agar kelak bisa melihat wajah Allah. 

Berharap akan keberkahan dan rahmat yang besar dalam sisa hidup kita. Berharap agar Allah selalu dekat dan mengurusi setiap langkah kehidupan kita.

Berharap mendapat ampunan dan rida dari Allah.

Dan harapan erat kaitannya dengan berdoa, semakin banyak berdoa artinya semakin banyak juga berharap.

Perbanyak doa. Perbanyak harapan.

Dan, hal-hal dunia jangan kita jadikan harapan, ekspektasi atau doa terbesar kita.

Ngapain kita menaruh harapan terbesar pada hal-hal yang pada akhirnya akan kita tinggalkan?

Dan berharaplah kepada sesuatu yang kekal, Yang Maha Besar. Berharaplah hanya kepada Allah.

Jangan kepada manusia lain atau bahkan diri kita sendiri.

Karena kita makhluk yang lemah dan hanya Allah yang lebih kuat dan lebih mampu untuk kita andalkan.

Pembahasan mengenai harapan dan ekspektasi akan lebih detail di chapter selanjutnya.

Kedua, Skill tawakal kepada Allah.

Secara bahasa, tawakkal artinya mewakilkan, yaitu menampakkan kelemahan dan bersandar atau bergantung kepada pihak lain.

Dan, ini sebenarnya salah satu kunci.

Ketika kita menyadari bahwa kita butuh perwakilan. Perwakilan dalam menghadapi masa depan. Perwakilan dalam menghadapi masalah-masalah yang di luar kontrol kita.

Ketika kita bisa bersandar kepada sesuatu yang lebih besar dari kita.

Yang Maha Memelihara dan Mengurus seluruh makhluk-Nya.

Yang mengatur hidup dan masa depan kita. Yang mengatur takdir kita.

Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Yang Mahabesar.

Ketika kita bisa mengimani semua itu. Meletakkan masa depan, hasil akhir, jalan hidup kita kepada Tuhan Yang Mahabaik.

Ketika kita bisa berprasangka baik kepada Allah, maka otomatis kita juga akan berprasangka baik dengan apa yang akan kita hadapi.

Ketika kita bisa memahami bahwa Allah benar-benar Mahabesar, sehingga masalah-masalah kita, kekhawatiran kita, keinginan kita jadi terlihat kecil.

Bayangin ada sosok yang sangat bisa kita andalkan, yang maha mampu, yang nggak mungkin menjerumuskan kita ke keburukan.

Masa nggak tenang, sih?

Ya, bisa, sih, kalau belum merasa tenang.

Mungkin belum tenang kalau belum benar-benar meyakininya. Mungkin belum tenang kalau belum benar-benar berserah. Mungkin belum tenang kalau belum benar-benar mencobanya.

Meskipun dalam hidup ini banyak kejadian buruk yang masih terlihat buruk, kita tahuinsyaallahada hikmah di balik ini semua. Insyaallah, ada pelajaran berharga–dan ini pasti yang terbaik.

Karena yang mengatur adalah pengatur yang terbaik.

Dan, emang udah saatnya kita berlepas diri dari bergantung sama diri kita sendiri. Kita juga udah capek, kan?

Juga, udah saatnya kita berlepas diri dari bergantung sama orang-orang yang kita sayang. Kita juga udah kecewa, kan?

Tapi, kita manusia yang selalu butuh sandaran, butuh bergantung, apakah ada opsi lain yang lebih besar dari Allah, Tuhan yang menciptakan kita?

Ke mana kita harus mencari ketenangan sejati kalau bukan kembali mengingat Allah?

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu
(QS Al-Baqarah: 216)

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
(QS Ar-Ra’d: 28)

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” 1 (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (QS Al-Baqarah: 155-157)

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed