Text
Nah, untuk bisa didiagnosa sebagai orang yang menderita depresi, seseorang harus punya minimal lima dari gejala di atas.
Berlangsung selama dua minggu atau lebih.
Tentunya, bisa ada kriteria tambahan yang nggak bisa kita tahu di sini. Itu ada di DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Btw, itu manualnya psikolog dan psikiater di Amerika dalam mendiagnosa penyakit mental—gue sangat tidak menyarankan untuk self diagnose dan langsung melabeli diri, ya. It will only be valid when it’s diagnosed by the experts.
So, back to helplessness…
Helplessness nggak berakhir sebagai helplessness aja.
Helplessness bisa mengarah jadi sifat dan perilaku pesimis.
Dan, pesimis nggak berakhir sebagai pesimis aja.
Kalau terus-terusan dibiarkan, besar kemungkinan, pesimis mengarah jadi depresi.
Karena kalau kita melihat penelitian tentang sifat dan perilaku pesimis, maka ditemukan Gejala Depresi No. 1 sampai 8 pada subjek-subjek yang menjadi partisipan penelitian.
Sementara Gejala Depresi No. 9 tidak ditemukan pada subjek, karena, biasanya, penelitian-penelitian tidak menggunakan metode yang membuat orang sampai ingin bunuh diri.
Tapi, bagaimana kalau di kehidupan nyata?
Mungkin, ada trauma atau perlakuan yang membuat kita sampai pada Gejala Depresi No. 9 tersebut.
Jadi, bisa dikatakan bahwa…
Helplessness adalah modal dari depresi.
Karena helplessness menyebabkan sifat pesimis di masa depan, itu artinya optimis adalah protective factor against helplessness and depression.
Pernah kenal, nggak, orang-orang yang selalu positif setiap saat?
Yang kalau ada kejadian negatif dalam hidupnya, dia menyangkalnya, memaksa bahwa itu adalah positif dan nggak ada yang salah.
Atau, yang yakin banget mimpinya besok kejadian tanpa melakukan hal yang signifikan.
Atau, ngomongnya selalu besar tanpa punya rencana dan realisasi.
Ngeselin, nggak, sih?
That’s not an optimistic person.
Walaupun ngaku-ngaku dia optimis.
Optimis itu sifat.
Bukan tentang menolak kenegatifan, bukan anti dengan hal-hal negatif, bukan yang selalu keluar kata positif dari mulutnya.
Optimisme bukan selalu menerapkan positive thinking dalam segala sesuatu. That will never work.
Karena dalam hidup, hal-hal negatif juga pasti terjadi. We can’t turn every negativity into positivity.
Kadang, kita perlu menerima dan membiarkan sebuah situasi harus terjadi, sebuah emosi harus kita rasakan, sebuah kejadian harus kita alami.
Optimis adalah bagaimana reaksi kita terhadap kejadian-kejadian negatif itu.
Apakah kita membiarkan semua itu memengaruhi kita? Membuat kita makin terpuruk? Membuat kita kehilangan harap?
Atau, justru sebaliknya? Kita tidak membiarkan hal itu mengubah mimpi baik kita, tidak membiarkan kita terpuruk, tetap mau mencoba, tetap bisa berharap?
Orang-orang optimis itu–kalau dibandingkan dengan orang pesimis–punya support system yang lebih baik.
Mungkin, karena, at the end of the day, kita suka dan nyaman sama orang-orang yang beneran optimis.
Bayangin ada orang yang selalu mengeluh dan terus-terusan berperan sebagai korban. Selalu merasa kalah oleh dunia.
Lalu, bayangin orang-orang yang berusaha kuat. The survivors. Capek, tapi berusaha nggak sering ngeluh. Mudah bangkit dari keterpurukan.
Mana yang bisa kita andalkan? Mana yang easier to be around?
Orang-orang optimis juga punya relationship yang lebih baik dengan orang lain. Karena, biasanya, mereka akan notice hal-hal baik yang terjadi dalam relationship dibanding fokus ke masalah-masalah yang dialami.
Orang-orang optimis juga punya kualitas hidup yang lebih baik. Cenderung lebih bahagia. Punya tingkat well-being yang lebih tinggi.
Seperti yang udah dibahas sebelumnya, optimisme juga related sama depresi. Jadi, semakin optimis seseorang, akan less likely experience symptoms of depression.
Gampangnya, kalau kita optimis tentang masa depan, itu ngebantu melawan overthinking yang bisa mengarah ke kecemasan dan depresi—ini bakal kita bahas lebih jauh, ya.
Banyak juga studi yang melihat pengaruh optimisme terhadap kesehatan fisik. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang optimis punya immune system yang lebih bagus sehingga membuat mereka nggak gampang sakit.
Mereka juga, kecil kemungkinan, terkena penyakit-penyakit jantung. Tepatnya, arteri koroner.
Dan, ketika mereka masuk rumah sakit, kecil kemungkinan, mereka untuk masuk rumah sakit lagi kedepannya.
Kesuksesan dalam pekerjaan juga berpengaruh. Orang-orang dengan tingkat optimis yang tinggi, cenderung lebih bisa bertahan dalam usaha atau pekerjaannya.
Ditambah lagi, orang-orang optimis lebih jago dalam mengidentifikasi masalah, karena mereka tahu mana yang betulan masalah dan bisa diusahakan.
Dan, mereka nggak terdistraksi oleh overthinking, karena dengan optimis jadi bisa memberikan good outcomes.
Yang lebih keren lagi: orang-orang optimis adalah mereka yang melihat situasi sebagai tantangan, bukan sebuah ancaman.
Misal, kalau kita terdiagnosa sebuah penyakit. Ya, kalau kita optimis, kita akan melihat itu sebagai tantangan, bukan ancaman yang justru membuat kita ketakutan. Lalu, malah kehilangan mindset untuk berjuang.
Mungkin, malah jadi menarik diri. Berhenti mencoba dan menyerah. Sedangkan kalau optimis, kita akan melihat ini sebagai tantangan. Mungkin, kepala kita akan bernarasi semacam, “Oke, gue tahu ini susah, tapi insyaallah, pasti bisa terlewati. Kan, Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu. Kan, Allah Maha mengabukan doa.”
Mereka bisa mengidentifikasi: mana yang bisa mereka kendalikan vs mana yang nggak. Kalau pun masalah yang nggak bisa dikendalikan, mereka lebih punya cara untuk menerima.
Orang-orang optimis itu lebih approach-oriented. Mereka justru maju ke masalah yang dihadapi. Nggak menghindar dan membiarkannya kayak orang-orang pesimis.
Secara keseluruhan, orang-orang optimis punya emosi-emosi yang lebih positif, karena semua keuntungan di atas.
Orang-orang optimis sering menggunakan humor untuk melihat masalah yang menimpa mereka.
Menertawakan perjuangan mereka. Membuat masalah jadi terkesan remeh dan kecil. Nggak membuatnya like it’s the end of the world, but also they’re not ignoring it.
Orang-orang optimis lebih jago dalam menjaga konsistensi. Kayak, olahraga, makan-makanan sehat, ibadah. Karena orang optimis paham: hal-hal kayak gini nggak langsung kelihatan hasilnya. Jadi, dia tetap bisa positif dan terus berjalan, beroptimis akan ada hasil baik suatu saat nanti.
Jadi, kalau kita bisa:
Perilaku-perilaku tersebut bakal memberi banyak perubahan baik dalam hidup kita. Entah itu kesehatan fisik dan mental kita, relationship kita, kesuksesan kita. Bagaimana kita melewati masa sulit. Bagaimana kita menghadapi masa depan. Dan, variabel-variabel lain yang nggak gue mention di buku ini.
Speaking of optimism, kita juga ngomongin tentang belief system di sini. Tentang apa yang kita percayai, standar kita dalam melihat dunia, apakah kita termasuk orang yang suka berprasangka baik atau berprasangka buruk terhadap masa depan.