Text
OKE.
Kejadian negatif aja ternyata nggak cukup bikin seseorang memiliki trauma.
Jadi, jangan gampang ngaku punya trauma kalau cuma pernah punya pengalaman negatif–karena itu bakal bikin kamu terhambat, padahal, sebenarnya, kamu sedang nggak terhambat, but your feelings manipulate you.
Kita butuh beberapa variabel lagi. Variabel-variabel kunci yang menjadikan sebuah kejadian negatif menjadi traumatis.
Karena nggak semua pengalaman negatif akan menjadi trauma bagi seseorang.
Berarti, ya, jangan terlalu berlebihan melihat pengalaman negatif, like, it’s the end of the world, like, it’s our forever fate–nanti kita yang malu sendiri.
Jadi, mari kita coba memahami trauma lebih mendalam.
So, start with the meaning…
Trauma berasal dari Yunani kuno: τραῦμα (trôma), yang, artinya wound, atau luka.
Luka yang sifatnya sustained–luka berkelanjutan.
Trauma nggak cuma digunakan dalam dunia psikologi aja. Di dunia kedokteran juga. Jadi, ada psychological trauma, ada physical trauma.
Yang kita bahas, adalah psychological trauma, ya.
Lebih spesifiknya, psychological trauma adalah sebuah RESPONS emosional dari kejadian yang memilukan. Biasanya, contoh yang digunakan adalah contoh-contoh dari peristiwa yang ekstrem, seperti pemerkosaan, kecelakaan, korban perang, bencana, atau sensory overload—ketika alat indra kita menerima stimulus secara berlebih terus-menerus.
But, again, bahkan sebagian contoh di atas bisa berbuah menjadi sesuatu yang akhirnya baik, contohnya Post Traumatic Growth tadi yang sempat kita singgung.
Bisa aja setelah terkena bencana, seseorang jadi lebih bisa mengapresiasi hidupnya, lebih berhati-hati—secara wajar, ya—nggak berlebihan, bisa makin mendekatkan diri kepada Allah, dan hal semacamnya.
Jadi, apakah semua trauma bisa menghasilkan sesuatu yang positif?
Ya, nggak juga.
Ada pembedanya. Dan, pembedanya adalah…
Di helplessness-nya.
Trauma itself does not produce helplessness, it’s inescapable trauma that produces helplessness.
Trauma nggak menyebabkan kita nggak berdaya. Inescapable trauma yang menyebabkan kita nggak berdaya.
Kata kuncinya di inescapable trauma—trauma yang kita nggak bisa lepas darinya, nggak punya kendali atasnya.
When a person has learned that when bad things happen, nothing they do matters. They learn helplessness.
Seberapa banyak kita punya kendali terhadap kejadian buruk dalam hidup kita?
Kalau kita punya kendali, kalau kita bisa melakukan sesuatu, kita jadi punya kepercayaan bahwa mungkin things will get better. Dan, kita mau berusaha keluar dari situasi buruk itu.
Tapi, kalau kita merasa nggak punya kendali atasnya, kita merasa nggak bisa melakukan apa-apa, then we collapse. We fail to escape, we fail to learn, and we give up.
That’s why kenapa traumatic event yang beneran bisa dibilang psychological trauma, seringnya terjadi di masa kanak-kanak. Karena saat kita masih kecil, kita nggak berdaya untuk melakukan sesuatu.
Dan, sifat dari trauma adalah kita jadi belajar menjadi helpless.
Sehingga sampai dewasa, perasaan helpless terhadap kejadian itu—atau yang terkait dengan itu—tetap ada.
Walaupun kita sudah punya kendali atas itu.
Dan, kalau ngomongin trauma, itu nggak terbatas pada apa-apa yang kita dapat. Hal-hal yang seharusnya kita dapatkan tapi kita nggak dapat, bisa juga jadi bentuk trauma.
Kita bisa mendapat trauma dari sebuah pukulan.
Kita juga bisa mendapat trauma dari nggak dibolehkan makan.
Kita bisa mendapat trauma dari cacian.
Kita juga bisa mendapat trauma dari pengabaian.
Kebutuhan-kebutuhan yang seharusnya terpenuhi tapi nggak kita dapatkan, itu bisa menimbulkan trauma.
Semakin parah kejadiannya, semakin tinggi tingkat helplessness yang dihasilkan, semakin besar kemungkinan psychological trauma terjadi dan bertahan.
Kalau sehat fisik, udah pada tahu, lah, ya.
Harus olahraga, konsumsi makanan sehat, pola tidur dan sebagainya.
Terus gimana cara ngelatih mental health supaya bisa kuat dan sehat?
Gimana kita bisa survive dari semua trauma yang kita punya?
Ingat kunci utama dari trauma: it’s the helplessness.
It’s the thought of being helpless. Nggak mampu berbuat apa-apa. Nggak berani terlepas. Nggak sanggup mengubah keadaan. Padahal, sebenarnya, kita sudah dewasa dan udah kejadian traumatis tersebut udah lewat. Udah nggak helpless lagi.
Tapi, somehow, kita masih merasa seakan-akan kita nggak mampu. ‘Cause that’s what trauma taught us all this time.
And, the thought of being helpless–ini akan memengaruhi bagaimana kita melihat masalah atau kejadian-kejadian yang nggak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita ke depannya.
Ada 3–umm, 4 deh, gue tambahin. Ada 4 explanatory style—cara kita dalam menjabarkan suatu kejadian buruk.
Gampangnya: ini adalah pola pikir dalam melihat kejadian buruk dalam hidup kita. Ini juga yang akan menentukan apakah the thought of helplessness ini akan menguasai kita atau nggak. Let’s go…
Pertama.
Ketika datang suatu kejadian yang kita kira buruk bagi kita, apakah kita melihat ini sebagai hal yang temporary atau permanent?
Ketika ada orang yang nggak suka sama kita, apakah kita langsung berpikir bahwa kita unlovable? Kita nggak pantas disukai dan akan terus dibenci banyak orang, which is lebai. Ekstrem dan sifat dari kejadian itu seakan-akan permanen, kayak nggak akan ada yang suka dia selamanya.
Atau, kita bisa berpikir bahwa, it’s fine, tiap orang punya seleranya masing-masing. Mungkin beda selera aja, and that’s okay. Yang penting gue terus berusaha baik sama orang lain, toh, gue nggak sebutuh itu sama dia dalam hidup gue. Akan ada orang-orang lain yang menerima gue, which is healthier, dan sifat dari kejadian itu temporer, nggak long last.
Orang-orang yang condong melihat masalah dengan kacamata permanen dan ekstrem, biasanya punya tendensi melihat masalah sebagai sesuatu yang will last and last forever. Bakal merasa helpless lebih sering dan lebih lama.
Kedua.
Ketika datang suatu kejadian yang kita kira buruk bagi kita, apakah kita melihat ini sebagai hal yang local or everywhere?
Ketika kita gagal di satu subjek, misalnya, matematika. Apakah kita langsung mengecap bahwa diri kita adalah orang yang bodoh? Bodoh dalam segala aspek (everywhere)? Atau, kita bisa berpikir lebih rasional bahwa, ya, kita nggak jago aja dalam pelajaran matematika. Dan, mungkin, kita nggak belajar segiat itu when it comes to math (local).
Atau, ketika kita gagal dalam satu usaha. Apakah kita langsung mengecap diri kita nggak akan bisa berhasil? Atau, kita mikir…, ya, usaha yang ini nggak cocok aja sama kita, dan kita bisa mencoba usaha lainnya.
Ketiga.
Ketika datang suatu kejadian yang kita kira buruk bagi kita, apakah kita melihat ini sebagai hal yang control or uncontrollable?
Apakah kita merasa kita punya kendali atas kejadian itu? Atau, itu di luar kendali kita?
Jadi, ketika seseorang mendapati kejadian buruk, apakah dia melihat dirinya nggak bisa apa-apa? Atau, dia bisa melakukan sesuatu atas kejadian itu?
Apakah kita merasa punya pilihan?
Keempat.
Agak khusus, karena nggak berpihak pada satu sisi.
Ketika datang suatu kejadian yang kita kira buruk bagi kita, apakah kita melihat penyebab kejadian ini dari us vs them?
Apakah kita selalu menyalahkan diri kita? Menganggap bahwa kitalah satu-satunya penyebab dari kejadian tersebut?
Atau, apakah kita selalu menyalahkan orang lain? Menganggap bahwa orang lainlah penyebab dari kejadian tersebut.
See?
Dua-duanya nggak terlihat baik. Karena dua-duanya ekstrem. Jadi, yang paling benar adalah yang rasional. Yang sesuai realita. Ketika kesalahannya memang dari kita, maka kita harus mengakuinya, berusaha memperbaiki, dan sadari bahwa mungkin saja kesalahan terjadi disebabkan lebih dari satu sisi.
Mungkin, kita salah. Tapi, ada aspek lain juga yang membuat ini terjadi. Dan, kita harus belajar melepaskannya . Karena nggak ada yang sempurna, and it’s impossible to chase perfection.
Ketika kesalahan disebabkan orang lain, maka kita harus melihat ini sejernih-jernihnya bahwa orang lain salah. Mungkin, kita juga ada salahnya.
Dan, mungkin, berusaha memaafkan walau nggak bisa melupakan.
Jadi, kita memang harus seimbang dan berusaha memaafkan.
Memaafkan kesalahan orang lain, tapi terlebih lagi memaafkan diri kita sendiri.
Coba inget-inget lagi style explanation mana yang sering kita gunakan?
Apakah kita orang pesimis yang mudah merasa helpless? Atau, optimis yang sering merasa mampu?