2. Gue Juga Nggak Mau Mental Issue Kayak Gini

Bayangin kita punya satu hektar ladang.

Tapi, banyak rumput liar yang tumbuh di ladang itu.

Oke, kita anggap rumput liar sebagai akibat dari masa lalu kelam karena nggak pernah diurus. Akhirnya, banyak tumbuhan yang jelek, yang negatif, yang merugikan, yang menjadikan ladang ini nggak bisa dimanfaatin dengan baik.

Jadi, kita berusaha mencabuti rumputnya setiap hari sampai bersih.

Setahun, dua tahun, bisakah kita mengambil manfaat dari ladang itu kalau kita cuma mencabuti rumputnya? Apakah ladangnya akan berubah? Atau, malah tumbuh lagi rumput-rumput liar itu?

Ya, anggap aja rumput liar itu adalah sisi negatif dari kehidupan kita. Yang membentuk cara kita berpikir. Yang kemudian memengaruhi well-being hidup kita sekarang.

See? Nggak cukup, kan, kalau cuma mencabuti masalah negatif dalam hidup kita?

Bayangin setelah mencabut rerumputan liar itu, kita juga menanam sesuatu yang bermanfaat. Kita tanam bunga, sayuran, buah-buahan.

Kira-kira ladang tadi bisa lebih bermanfaat dari sebelumnya, nggak? Memberikan dampak positif buat orang-orang di sekitarnya?

Begitu pun kita.

Hal-hal positif tuh perlu kita tanamkan dalam diri kita. Perlu kita pelajari. Perlu kita jadikan habit. Kita biasakan agar kita berubah.

Karena memang lebih mudah membiarkan rerumputan liar itu terus tumbuh, daripada mencabutinya, lalu menanamnya dengan sesuatu yang bermanfaat. It’s so much easier to do nothing, then complain about it.

Being negative is easy. Being positive is hard.

Dan, itu adalah mental health yang bagus.

Mental health isn’t just the absence of mental illness. It’s the presence of optimism, positive emotions, strengths, and meaning in life.

Kalau kita ngomongin mental health, nggak cuma tentang cara menghindari atau menghilangkan hal-hal negatif dalam hidup kita. It’s so much more than that.

Nggak sedih bukan berarti bahagia.

Nggak bahagia bukan berarti sedih.

Nggak marah bukan berarti tenang.

Nggak malu bukan berarti percaya diri.

Ketika seseorang nggak merasakan sedih, dia juga bisa nggak merasa bahagia. Bisa aja merasa hampa atau kosong, tapi nggak sedih.

Dan, emosi itu banyak bentuk dan jenisnya.

Ada gembira, ada sukacita, ada terharu.

Ada sedih, ada takut, ada malu.

Dan masih banyak lagi.

Kalau kita ngomongin perasaan bahagia, secara durasi, perasaan itu bertahan lebih lama. Kalau kita ngomongin excitement, secara durasi, itu lebih pendek, tergantung kapan hal yang membuat kita excited itu selesai.

Contoh: kita bayangin kalau punya uang yang banyak banget kita akan bahagia, padahal itu kurang tepat.

Uang bisa membuat kita membeli barang yang kita inginkan. Uang bisa membuat kita melakukan hal yang kita inginkan—yang bisa dibeli, ya, karena nggak semua hal bisa dibeli.

Dan, itu membuat kita nggak sedih. Tapi, apakah berarti kita bahagia? Ya, belum tentu. Mungkin, perasaan excitement, yang secara durasi, sifatnya sangat sementara.

Tapi, bisa juga setelah kita menggunakan uang kita, kita malah merasa remorse. Kayak, menyesal dan bersalah, karena mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya nggak perlu-perlu banget. Hanya mengikuti hawa nafsu. Malah bikin kita jadi nggak bersyukur.

Dan sebaliknya, ketika kita nggak punya uang, mungkin kita jadi mikirin gimana caranya supaya bisa survive, yang bisa aja mengarah ke enthusiasm, karena kita termotivasi untuk berusaha lebih.

Atau, malah kita jadi berusaha merasa cukup karena nggak punya, yang justru mengarah pada perasaan bersyukur.

Jadi, memang sangat kompleks kalau ngomongin emosi. Karena sedikit aja intervensi, bisa mengubah emosi yang kita rasakan.

 Jadi, kita butuh menanamkan segala macam hal positif untuk mental kita. Dan, menggunakannya untuk menghadapi hal-hal negatif ke depannya, yang kemudian bisa berubah menjadi suatu yang positif.

Negative isn’t always negative, and

positive isn’t always positive.

Menghilangkan aspek negatif dalam hidup tidak membuat kita menjadi lebih positif, begitu pun sebaliknya.

Begitu pun dalam kaidah kesehatan mental.

Treating mental illness is not the same thing as promoting mental health. Getting rid of what we don’t want in our lives does not automatically bring what we do want.

Yang artinya, hubungan antara hal-hal positif atau negatif dalam hidup kita bukan masalah hitam dan putih.

Ini lebih kompleks dari itu. Sangat sulit memisahkan hal positif dan negatif dalam hidup kita.

Coba, deh, coba pikirkan satu waktu dalam hidup kita di masa lalu.

Masa lalu yang, mungkin, pada saat itu, terlihat seperti hal yang buruk, hal yang negatif. Tapi, kalau sekarang kita lihat lagi ke belakang, kita bisa bilang: “Ternyata, itu sebuah kejadian yang positif.” Entah karena itu mengarahkan kita ke sesuatu yang lebih baik, ada pelajaran yang bisa kita ambil, atau menyadarkan kita akan sesuatu.

Bahkan, kejadian-kejadian traumatis dalam hidup bisa mengarahkan kita ke pengembangan diri yang baik, kita biasa nyebut ini Post Traumatic Growth.

Dan, juga sebaliknya, coba pikirkan satu waktu dalam hidup kita di masa lalu, tapi, yang, pada saat itu, terlihat positif. Kayak, akhirnya, bisa dekat sama orang yang kamu suka, bisa berharap sama dia, mencoba berbagai cara agar dia bertahan, bisa membayangkan pernikahan indah bersama dia. Mungkin, kalau kita ingat-ingat sekarang, kita bisa jijik dan malu dengan kejadian itu. Entah karena kita tahu sifat aslinya, kita kecewa karena diperlakukan buruk atau kita sadar ada yang lebih baik dari itu.

Padahal, dulunya, kita sangat merasa itu adalah hal yang baik, indah, dan positif.

See? Jadi nggak sehitam dan seputih itu.

Dan, masalah positif dan negatif ini sebuah kontinum. Terutama hal positif, ya—ada beberapa hal yang lebih memberikan dampak positif dibanding lainnya.

Misal, ada dua kegiatan yang memberi dampak positif. Pertama: makan makanan biasa aja tapi bareng keluarga. Kedua: makan makanan enak yang mahal tapi sendiri.

Sering, kok, kita menimbang hal-hal kayak gini. Nggak cuma mencari mana yang positif, tapi mana yang optimal.

Dan, ini membutuhkan keseimbangan antara mengejar apa yang kita mau dan meninggalkan yang kita nggak mau. Atau, memilih yang kita nggak suka, tapi untuk mendapat yang lebih baik buat kita ke depannya.

Jadi, jangan mudah melabeli sebuah kejadian–we never know.

Some negative experiences can lead to positive outcomes and some positive experiences can lead to negative outcomes.

[]

Selanjutnya
error: Not Allowed