Text
Salah satu fitur ngeselin dalam cara kita berpikir adalah…
Kita menyimpulkan sesuatu berdasarkan reference point, nggak absolut.
Bingung, kan, maksudnya apaan?
Bagus, sama.
Maksudnya gini… (mikir lama buat jelasin yang enak)
Langsung contoh aja, ya.
Kita bisa suka atau nggak suka sama sesuatu, itu karena referensi yang kita kumpulkan, informasi yang biasa kita dapatkan, dan itu yang kita jadikan standar. Dan, ini selalu berubah, nggak yang sifatnya absolut.
Misal, sekarang kita berharap gaji kita 20 juta.
Ketika kita mencapai gaji segitu, lingkungan kita berubah, barang-barang yang kita pakai berubah, standar kita berubah, yang akhirnya membentuk standar baru, membentuk referensi baru.
Oh, kanan-kiri gue pakenya HP semahal itu, kok gue jadi pengen ya.
Wah, kanan-kiri gue ternyata pendapatannya lebih besar, gue, kok, cuma segini, ya?
See? Standar kita berubah mengikuti reference point kehidupan kita saat itu.
Dulu, yang kesannya gaji 20 juta terlihat besar, berubah menjadi terlihat kecil.
Bandingkan dengan waktu dulu. Sebelum punya pekerjaan, bayangin gaji 3 juta pasti udah lumayan banget. Sekarang, 4-5 juta terasa nggak cukup, terasa kecil bahkan.
Itu karena reference point kita juga ikut berubah.
Dan, ini berlaku pada semua situasi.
Termasuk bagaimana kita melihat fisik kita, bagaimana kita melihat apa-apa yang kita punya, bagaimana kita menentukan standar kehidupan kita.
O’Guinn & Schrumm melakukan penelitian terkait hal ini pada tahun 1997. Penelitiannya tentang orang yang menonton TV. Hasilnya, orang yang sering menonton TV berasumsi bahwa orang lain memiliki pendapatan lebih besar daripada dia, karena bagaimana TV menampakkan banyaknya orang dengan hal mewah yang mereka punya.
Jadi, reference point-nya berubah.
Now imagine we have social media.
Hal yang bisa kita akses dengan tangan sesering mungkin. Tinggal beberapa sentuhan, kita langsung mengonsumsi gambaran-gambaran betapa terlihat menyenangkannya hidup orang lain, dan mulai meratapi hidup kita sendiri.
Lalu, lahirlah insecurity.
Ini memang salah satu dari sekian banyak faktor, tapi ini faktor yang besar.
Kalau tiba-tiba kita merasa insecure, coba berkaca lagi, akhir-akhir ini, apa yang sering mata kita konsumsi?
Video-video orang glow up? Foto-foto orang dengan pakaian-pakaian bagus? Dokumentasi orang liburan? Pamer harta kekayaan? Itu semua terpupuk.
What Being Insecure is All About
“Tapi, kan, memotivasi, Kak,” kata orang-orang yang ngotot nggak mau mengubah internet behavior-nya.
Ya, udah.
Sebenarnya, ya, kita yang bisa menilai, ketika kita melihat itu semua, ke mana pikiran kita bermuara?
If it really motivates you, then it’s good.
Misal, kita lihat orang-orang yang menunjukkan achievement-nya di media sosial, lalu apakah kita akan jadi bersyukur? Atau, kita malah memandang rendah diri kita? Jujur aja, deh.
Dan, insecurity ini munculnya halus banget. Mungkin, pas pertama lihat, kita ikut senyum, jadi pengen, berandai-andai, tetapi setelah itu?
Bagaimana jadinya kalau ini sifatnya konstan? Pikiran kita terus-terusan disuguhi betapa enaknya hidup orang lain sedangkan hidup kita… not so much.
Ya, nggak apa-apa juga, sih, kalau tetep mau mengonsumsi hal-hal itu, tapi, ya, siap terima risiko.
Tapi, ada hal yang nggak bisa kita pungkiri: kitalah yang menentukan standar berdasarkan reference point yang kita terima.
Insecurity nggak bisa dipisahkan dengan comparison.
Hampir semua jenis insecurity yang kita alami akan diawali dengan membandingkan diri kita dengan sesuatu.
Orang yang belum menikah, akan merasa insecure setelah melihat semua temannya sudah menikah. Orang yang sudah menikah, bisa merasa insecure dengan yang sudah punya anak. Little did we know banyak juga yang sudah berkeluarga, tetapi merasa sedikit iri dengan orang-orang yang masih bebas karena sendiri.
Orang yang belum punya pekerjaan, akan merasa insecure dengan yang sudah punya pekerjaan dan penghasilan. Orang yang sudah punya pekerjaan, akan merasa insecure dengan yang jabatannya tinggi-tinggi. Little did we know ada juga sedikit keinginan orang-orang berjabatan tinggi biar bisa punya waktu santai kayak orang-orang pengangguran.
Lihat, deh, kalau reference point kita kayak gitu, nggak ada ujungnya.
So, I think we need to shift our reference point.
We need to have a bigger, stronger reference point.
And, maybe you can already guess that…
Orang yang reference point-nya adalah penilaian Allah, akan beda dengan yang reference point-nya penilaian manusia yang nggak pernah puas.
Wait, gue punya argumen kuat tentang ini.
Kalau kita ikutin standar agama (yang sungguhan ilmiah, ya), kan, jelas, ya, reference point-nya, apa yang memang patut dijadikan standar dan mana yang nggak ada manfaat.
Kalau kita nggak punya prinsip, maka standar kita akan goyah, akan terus berubah. Kayak informasi yang biasa kita konsumsi. Berubah-ubah.
Orang yang punya prinsip aja masih bisa berubah, apalagi yang nggak.
Bayangin, deh, kalau patokan hidup kita itu berdasarkan penilaian manusia.
Di kuliah psikologi sosial dulu, gue sempet belajar, bagaimana berubahnya sebuah tren fisik pada wanita. Tahun 1950-an kalo nggak salah, standar fisik wanita yang bagus itu yang berisi, nggak yang kurus banget seperti zaman sekarang.
Pria pun dulu nggak ada, tuh, skincare. Sekarang? Ada yang khusus untuk pria.
Dan, ini akan terus berubah.
Bayangkan kita meletakkan standar hidup dengan sesuatu yang berubah-ubah seperti itu.
Media dan internet play a big role dalam penentuan tren model begini.
Dan, untuk teman-teman di sini yang mengaku ingin masuk surga, sebenarnya kita bisa melihat seberapa jujur kita.
Mana, sih, reference point kita sebenarnya?
Kita lebih sering menjadikan orang-orang sukses, orang kaya, orang yang berhasil di dunia ini menjadi patokan kita mengkomparasi diri, kan?
Atau, kita menjadikan orang-orang saleh, orang-orang yang bertakwa, yang bagus dalam menjalankan ibadah, sebagai patokan penilaian diri?
Kalau ada yang mengaku dua-duanya, berarti belum jujur.
Pasti akan condong ke salah satu, karena ini adalah sesuatu yang akarnya berlawanan.
Ke mana kita lebih sering iri?
Orang-orang kaya? Orang-orang dengan jabatan tinggi? Orang-orang sibuk? Orang-orang yang liburan ke sana-sini?
Atau, orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah?
Killing Insecurity
Seringnya kita lebih memilih berusaha agar orang-orang bisa menerima kita daripada belajar menerima diri sendiri.
Self-esteem has a huge impact, sebenarnya.
Bagaimana kita bisa “menghargai” seberapa diri kita.
Orang dengan pola asuh yang sehat pada masa kecilnya akan lebih mudah menghargai dirinya daripada menginjak-injak dirinya ketika menghadapi kegagalan (akan ada bahasan soal kegagalan di bab lain).
Orang yang sudah punya banyak achievement dalam hidupnya juga akan lebih mudah menghargai dirinya daripada mendengarkan orang-orang yang menjatuhkannya.
Orang yang punya alasan hidup yang kuat, sebuah prinsip hidup yang matang, juga akan lebih mudah mengabaikan penilaian dan perkataan orang lain yang nggak relevan dengan tujuan hidupnya.
Terus, bagaimana dengan kita yang nggak punya situasi-situasi yang mendukung self-esteem kita kayak gitu? Mendapat pola asuh yang buruk atau nggak punya banyak achievement.
Paling mudah, ya, opsi ketiga. Punya prinsip hidup yang matang.
Tapi, bagaimana kalau orang terdekat yang mendukung kita insecure?
Mereka yang seharusnya mendukung kita, malah jadi penyebab kita insecure.
Teman dekat, keluarga, pasangan.
Ini, kan, yang berbekasnya luar biasa.
Banyak, kok, kejadian kayak gini. Ya, namanya manusia memang gitu. Bagi yang belum memahami ilmu agama, menjatuhkan orang lain itu ada kenikmatan tersendiri, jadi bisa merasa lebih “tinggi” karena merendahkan orang lain.
Tapi, ya, gitu. Manusia.
Seharusnya, kita bisa jadikan pelajaran untuk tidak bergantung kepada siapa pun, tidak juga bergantung pada penilaian dan opini siapa pun.
Okelah, mereka matter, tapi kita harus punya sesuatu yang lebih matter dari mereka.
Padahal, ya…
Allah, tuh, nggak peduli, loh, bagaimana bentuk tubuh kita, bagaimana bentuk wajah kita, apa kerja kita, seberapa besar pendapatan kita.
Tapi, kita justru memilih untuk mendengarkan orang sekitar.
Yang membuat kita menjatuhkan diri sendiri.
Yang membuat kita makin menginjak-injak diri kita.
Kenapa?
Ya, udah kejawab, sih, sebenarnya.
Kita yang bentuk.
Kita membiasakan diri terpapar oleh hal-hal itu. Kita yang bentuk reference point kita.
Kalau ditanya manusia ideal yang Allah mau seperti apa, mungkin banyak dari kita yang nggak tahu. Atau, mungkin nggak paham. Atau bahkan, nggak bisa menerima.
Tetapi, kalau manusia ideal yang terbentuk oleh media, pasti kita tahu.
Insecurity itu datangnya dari dalam.
Jangan selalu menyalahkan faktor eksternal.
Sesempurna apa pun kita, kalau mindset kita begitu, kita akan selalu dihinggapi oleh insecurity.
Kita bisa, kok, memilih mana yang perlu kita dengar dan mana yang nggak perlu kita dengar.
Kita bisa, dengan mudahnya, nggak peduli dengan omongan orang yang merendahkan fisik atau status kita… kalau tujuan hidup kita benar-benar nggak ada kaitannya dengan itu.
Contoh recehnya, nih, ya. Misal, lo lagi mau ujian kelulusan yang butuh menguras otak, terus tiba-tiba ketemu orang yang nggak lo kenal, terus dia bilang ke lo, “Ih, jelek, hihihihi.”
Pertama, lo nggak kenal dia siapa. Kedua, tujuan lo bukan membuat dia terkesan, tapi membuat orang yang akan menguji kelulusan lo terkesan dengan intelegensi lo. Dan, ketiga, tujuan lo, ya, lulus pada saat itu, bukan pengin cakep.
Jadi, lo nggak peduli. You know what you’re really doing there.
Karena lo nggak menjadikan itu semua sebagai reference point lo.
Tapi, kalau lo memilih untuk mendengarkan, lalu meresapi perkataan orang itu, terus lo tancapkan di pikiran lo dan lo menyetujuinya dan akhirnya menjatuhkan mental lo, kan, berarti lo yang aneh. Itu sebuah kelebayan.
Anyway, insecurity itu diperlukan sebenarnya.
Bayangkan ada orang yang dari lahir nggak pernah merasa insecure.
Pasti dia nggak akan berkembang karena merasa dirinya sudah cukup. Nggak ada dorongan dari dalam yang membuat dia berusaha jadi lebih dari apa yang dia sekarang.
Tapi, apa yang membuat kita insecure, itu yang penting.
Coba, jujur, lihat ke belakang.
Lima tahun ke belakang, sepuluh tahun ke belakang, mungkin.
Waktu kita paling sering habis untuk mengkhawatirkan insecurity tentang apa?
Insecure soal karier? Insecure kekurangan harta? Insecure soal jodoh? Insecure karena omongan orang?
Lalu, coba lihat hidup kita yang sekarang.
Walaupun sudah mendapat apa yang diinginkan, yang kita khawatirkan, masih itu-itu aja, kan?
Udah dapat pekerjaan, sekarang ngincer jabatan lebih tinggi.
Udah punya tabungan sekian, sekarang butuh cari lebih untuk menambah kekayaan.
Udah memuaskan orang yang satu, sekarang menunggu omongan-omongan orang lain untuk digubris.
Masih di posisi yang sama. Nggak ada ujungnya.
Selama ini, kita insecure oleh hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu berarti.
Kita berlomba di ranah yang salah.
Kita kira, yang menang itu yang kaya.
Yang menang itu yang karirnya paling cemerlang.
Yang menang itu yang bisa dapat pujian di sana-sini.
Padahal, ujung hidup ini mati.
Pada akhirnya, yang menang, bukan yang kariernya paling cemerlang.
Yang menang, bukan yang hartanya paling banyak.
Yang menang, bukan dia yang paling banyak mendapat pujian.
Tapi, dia yang bisa menuruti standar dan hukum Allah….
Yang menang, yang memiliki banyak amalan sesuai tuntunan.
Yang menang, yang patuh menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kekhawatiran-kekhawatiran tadi, yang paling banyak menghabiskan waktu kita, nggak akan kita bawa-bawa pada akhirnya.
Bukan nggak boleh, tapi ini masalah prioritas.
Apakah model kehidupan seperti itu yang kita mau? Mengejar sesuatu yang nggak ada ujungnya, yang nggak ada habisnya?
Berusaha mati-matian untuk sesuatu yang pada akhirnya kita tinggalkan?
Sesia-sia itu?
Balik lagi, nih, ke reference point.
Minimal, nih, ya, kalau memang kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain karena hartanya, jodohnya, jabatannya, atau hal-hal dunia lainnya yang lebih hebat dari kita, maka…
… minimal banget, kita juga harus membandingkan diri kita dengan orang yang mengejar akhiratnya juga hebat.
Itu baru fair.
Itu minimal. Lebih bagus lagi kalau bisa sadar, sih. Mana yang harus diminderin, mana yang nggak.
Itu kalau emang ngakunya mau masuk surga, nih, ya.
Kita harus menjadikan orang-orang yang benar-benar berusaha mendapatkan surga jadi reference point kita juga.
Jangan cuma orang-orang yang hebat dunianya.
Dan kalau memang insecurity kita tumbuh karena melihat orang yang lebih rajin beribadah, misalnya, ini, kan, adil, ya. Dan, malah bagus untuk kita.
Kita jadi tergerak. Dan, ini adalah bentuk pergerakan yang tepat untuk perkembangan diri kita.
Dan, untuk jadi orang yang lebih dekat dengan Allah, kita nggak butuh privilege khusus.
Bukan masalah genetik yang memang sudah begitu dari sananya atau keluarga yang sudah kaya dari sananya.
Semua punya kesempatan yang sama.
Berlaku juga ibadah lainnya.
Jadi, ya…
Choose your reference point carefully.
Kalau diperhatikan lagi dengan hati yang jujur, mostly…
Kita yang menentukan mau insecure tentang apa.
‘Cause we’re the ones who create our own insecurity.